oleh

Butet Angkat Bicara: Jalan Seni Budaya Bisa Redam Aksi “Klithih”

YOGYAKARTA – Seorang remaja tewas dalam aksi penyerangan kelompok remaja lain di Jalan Gedongkuning, Kota Yogyakarta, Minggu (3/4/2022) dini hari.

Diketahui, korban adalah seorang pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakara, bernama Daffa Adziin Albasith (18), asal Kebumen, Jawa Tengah.

Budayawan Yogya, Butet Kartaredjasa angkat bicara atas insiden berdarah yang oleh media disebut sebagai “klithih” itu.

Butet menilai, persoalan klithih harus ditangani dengan sungguh-sungguh.

Klithih kini, kata Butet, merupakan wujud para remaja dalam mencari perhatian namun dilakukan secara primitif dan anarkis.

Padahal di masa lalu, klithih lebih bermakna sebagai jalan-jalan keliling kota dan jadi ajang pertemuan sosial.

“Klithih sekarang, adalah wujud kompensasi anak muda, remaja mencari perhatian,” katanya.

Sayang, kata Butet, pencarian pergatian itu dilakukan secara gampang, instan dan primitif.

Baca Juga:   Gara-gara Raungan Knalpot, Seorang Pemuda Tewas Setelah Dikeroyok

“Cara itu adalah dengan membacok orang dan melakukan tindakan -tindakan anarkis,” ujar Butet di kediamannya, di Bantul, Yogyakarta, Rabu (6/4/2022).

Pencarian perhatian secara primitif dan anarkis itu, kata Butet, dapat diredam jika mereka sudah bersentuhan dengan kebudayaan.

Oleh sebab itu peran Pemda DIY sangat dibutuhkan dalam menyediakan kegiatan dan infrastruktur untuk berkesenian.

Menurutnya, Pemda DIY bisa mengalihkan energi para remaja itu dengan menyediakan infrastruktur dan kegiatan sarat nilai budaya dengan dana keistimewaan yang dimiliki.

“Saya pikir infrastruktur tempat bertumbuhnya komunitas-komunitas seni yang difasilitasi pemerintah melalui Danais (dana keistimewaan) itu harus diperbanyak kegiatannya dan dukungannya,” kata Butet.

“Itu saja yang diperkuat, dan Jogja sudah jadi satu ranah kebudayaan yang sudah diuji oleh sejarah mampu menumbuhkan anak-anak muda kayak saya yang sejak remaja sudah berkesenian. Menyelamatkan hidup saya ya karena jalan kebudayaan,” ujar Butet.

Baca Juga:   Luncuran Awan Panas Capai Lokasi Terjauh, Begini Arahan BPBD

Salah satu solusi, lanjutnya, melalui kegiatan seni. Cara ini dapat menyalurkan energi ke tindakan positif berupa kreasi seni. Terlebih berdasarkan catatan sebelumnya, mayoritas pelaku adalah usia remaja.

“Infrastruktur tempat komunitas seni difasilitasi pemerintah melalui Danais. Harus diperbanyak kegiatannya,” katanya.

Butet menilai aksi kejahatan jalanan adalah wujud iseng. Hanya untuk menyalurkan energi dan eksistensi. Baik eksistensi personal maupun kelompok.

Nilai seni dan kebudayaan Jogjakarta, menurutnya adalah bekal yang kuat. Tak sekadar berbicara tentang esensi seni namun juga nilai-nilai kearifan lokal. Termasuk pesan-pesan tentang bersikap dalam lingkungan masyarakat.

Baca Juga:   Terperangkap di Rumahnya yang Terbakar, Warga Aceh Timur Tewas 

“Ini kan anak muda mencari perhatian, paling gampang dan primitif dengan membacok orang dan melakukan tindak anarki,” katanya.

Tapi, ujar Butet, jalan kebudayaan, yakin mampu memulihkan dan menyelamatkan hidup anak muda.

Sebelumnya, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta aparat menindak tegas pelaku kejahatan jalanan ini.

“Ini pelanggaran pidana, saya kira dicari aja, diproses. Menurut saya, itu sudah berlebih. Diproses saja secara hukum,” kata Sultan, Senin (4/4/2022).

Sultan berharap kepolisian segera menangkap pelaku. Sekalipun pelakunya ini masuk kategori remaja hingga anak-anak, ia meminta proses hukum tetap berjalan karena sudah menimbulkan korban tewas. (*/Siberindo.co)

Berita Lainnya