oleh

Waspada! Ada Potensi Gempa Besar dan Tsunami di Selatan Jawa Timur

JAKARTA – Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengungkap potensi gempa bumi berkekuatan (magnitudo) 8,7 Skala Richter dan mengakibatkan tsunami setinggi 18 meter di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Menghitung potensi rekahan yang mungkin terjadi di selatan Jatim itu magnitudo gempa 8,7 dengan tinggi gelombang 18 meter,” kata Daryono, Jumat (5/3/2021).

Daryono menjelaskan tingginya aktivitas kegempaan di Jawa Timur karena wilayah selatan Jawa merupakan titik zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

Menurutnya, pertemuan lempeng itu merupakan generator gempa kuat sehingga wilayah selatan Jawa menjadi kawasan rawan gempa dan tsunami.

Daryono juga menegaskan gempa magnitudo besar disertai dengan gelombang tinggi sebelumnya pernah mengguncang Jatim, seperti pada 1994. Saat itu terjadi gempa magnitudo 7,8 dan gelombang tinggi 13,9 meter.

“Ini menunjukkan bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar. Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada satupun orang yang tahu,” ujarnya.

Baca Juga:   Guncangan 5.0 SR di Gunung Kidul, Sehari Setelah Pangandaran

Ia juga meminta pemerintah daerah bersama masyarakat setempat melakukan upaya mitigasi bencana dengan mendirikan bangunan aman gempa, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman dari tsunami, serta membangun kesadaran masyarakat tanggap bencana.

“Semua informasi terkait potensi gempa dan tsunami harus direspons dengan langkah nyata. Tujuannya, meminimalkan dampak sehingga masyarakat dapat hidup dengan selamat, aman dan nyaman meskipun di daerah rawan bencana,” kata Daryono.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, di Banyuwangi, Jumat (5/3/2021).

Intensitas gempa di wilayah selatan Jawa Timur, katanya, menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun. Ada potensi terjadinya gempa besar yang menimbulkan tsunami.

“Potensi gempa tertinggi bisa mencapai magnitudo 8,7 dan risiko paling parah bisa menimbulkan tsunami dan gelombang tinggi mencapai 18 meter,” ujarnya.

Baca Juga:   Begal di Sumenep Ditembak Mati Saat Beraksi di Jalanan, Begini Kronologinya

Merespons kondisi itu, pihaknya bersama petugas BMKG Stasiun Meteorologi Klas III Banyuwangi, BPBD, dan warga mengecek langsung alat dan jalur evakuasi di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Kunjungan tersebut untuk memastikan peralatan Early Warning System (ERS) yang dipasang di beberapa lokasi termasuk di Pancer berfungsi dengan baik.

Dwikorita mengatakan Banyuwangi merupakan salah satu daerah rawan tsunami, sehingga perlu perangkat yang bisa memberikan peringatan dini apabila ada bencana.

Menurutnya, tempat ini dipilih lantaran memiliki histori kelam saat terjadi bencana tsunami pada 1994. Puluhan warga menjadi korban, serta puluhan rumah rusak berat.

“Ini merupakan bagian dari penerapan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2019 mengenai pengembangan dan penguatan sistem informasi dan peringatan dini tsunami, itu pesan Presiden dalam memberikan peringatan dini harus cepat dan tepat,” jelasnya.

Hal itu, menurutnya, juga tertuang dalam Undang-Undang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Di dalamnya sudah ada aturan peringatan dini.

Baca Juga:   Polisi Tangkap Tiga Produsen dan Sita Ratusan Liter Arak Jowo

“Ini harus disampaikan secara cepat, tepat dan akurat dan itu juga disampaikan oleh Presiden di dalam Perpres, juga tujuan kami ke sini merealisasikan aturan-aturan itu,” katanya.

Hingga kini BMKG terus mengembangkan alat dan teknologi untuk mengurangi dampak bencana. Namun, hal itu juga harus didukung oleh penguatan, pemahaman, serta kondisi SDM di lapangan.

Adanya potensi gempa dan tusnami ini menjadi catatan BMKG untuk laporan kepada kepala daerah di Jatim. Harapannya laporan tersebut bisa jadi bahan mitigasi bencana gempa atau tsunami.

Sebagai informasi, pada 3 Juni 1994, di Pantai Pancer dan Pantai Rajegwesi, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, pernah terjadi tsunami.

Akibat bencana tersebut, korban meninggal diperkirakan mencapai 215 jiwa. Sampai saat ini, masyarakat setempat masih trauma terhadap bencana tersebut. (*)

dari berbagai sumber

Komentar

Berita Lainnya