oleh

Imam Menangis, Tak Menduga Bom yang Ditaruhnya Berdaya Ledak Tinggi

JAKARTA – Imam Mulyana, pemilik bom The Mother Of Satan, narapidana kasus terorisme jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) mengaku menyesal pernah menyimpan peledak Triacetone Triperoxide (TATP) di Gunung Ceremai, Jawa Barat.

Penyesalan itu disampaikan oleh Imam dalam sebuah video yang beredar di kalangan awak media.

Imam tak menyangka bahan peledak seberat 35 Kg yang ditaruhnya di tempat tersembunyi itu berdaya ledak tinggi.

“Saya terharu, menyesal. Saya bersyukur bahwa barang tersebut saya serahkan kepada pihak yang berwenang. Kepada pihak yang bisa menanganinya,” kata Imam dalam rekaman video yang beredar Selasa (5/10/2021) itu.

Imam mengaku dibawa penyidik tim Densus 88 Antiteror Polri saat memusnahkan bahan peledak miliknya tersebut.

Dia bahkan sampai menangis saat menyaksikan langsung ledakan bomnya tersebut.

“Saya sendiri tidak menyangka bahwa ternyata sangat berbahaya sehingga ketika mendengar ledakan tersebut saya menangis,” jelasnya.

Baca Juga:   Densus 88 Tangkap Penjual Senjata kepada ZA di Banda Aceh

Imam mengakui ledakan bom itu bisa menyebabkan kerusakan hingga menimbulkan korban jiwa.

Imam kini ditahan di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. Ia ditangkap pada 2017 saat akan merampas senjata milik anggota Polri saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Cirebon.

Saat itu Jokowi akan menghadiri acara penutupan kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-9 Tahun 2017 di Taman Gua Sunyaragi, Cirebon.

Imam ditangkap tim Densus 88 Antiterori, 3 jam sebelum presiden mendarat di Bandara Cakrabhuwana, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Dalam pemerikasaan selanjutnya, imam mengaku menyembunyikan bahan peledak di sebuah tempat di lereng Gunung Ciremai.

Tim Jibom Brimob Polda Jawa Barat melakukan pemusnahan (disposal) bahan peledak itu di sekitar lokasi penemiaannya di kawasan Gunung Ciremai.

Proses disposal tersebut menimbulkan efek ledakan hingga longsoran tanah.

Baca Juga:   Banteng Senayan Minta Pelibatan TNI Basmi Teroris Tidak Diperdebatkan

Dari pemusnahan itu diketahui, bahan peledak tersebut masih menghasilkan efek ledakan yang dahsyat.

“Terbukti TATP 50 gram yang dimusnahkan di atas tanah, menimbulkan lubang dengan diameter sekitar 1 meter dengan kedalaman 20 cm,” kata Kabag Banops Densus 88 Kombes Aswin Siregar, Senin (4/10/2021).

Proses disposal dilakukan beberapa kali. Pemusnahan bahan peledak lainnya menimbulkan efek getaran hingga tanah longsor.

“Pemusnahan lainnya dalam jumlah beragam bahkan menimbulkan getaran hebat, lubang di permukaan tanah, pecahan batu dan tanah longsor,” imbuhnya.

Sebagian sisa TATP, saat ini sebagai barang bukti, diamankan di Brimob Polda Jawa Barat untuk penelitian lebih lanjut.

Tim Densus 88 Antiteror Polri menemukan 35 kg TATP atau ‘Mother of Satan’ di Gunung Ciremai, di Blok Cipager, Desa Bantar Agung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat.

Penelusuran bom di kaki Gunung Ciremai itu dilakukan setelah Tim Densus 88 Antiteror mendapat pengakuan dari Imam.

Baca Juga:   Satu dari Tiga Terduga Teroris Ingin Lakukan "Amaiah" di Gedung DPR RI

Berdasarkan keterangan Imam tersebut, pada hari Jumat, 1 Oktober 2021, tim Densus 88 AT Polri bersama dengan tim Jibom Brimob Polda Jabar, Inafis Polres Majalengka, tim Polres Majalengka, dan tim Lapas Sentul yang mengawal Napiter Imam Mulyana melakukan pencarian.

“Seluruh tim membelah hutan yang lebat dengan rute yang tidak lazim selama berhari-hari,” ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan, Senin (4/10/2021).

Imam ditangkap tim Densus 88 Antiterori, 3 jam sebelum Presiden Jokowi mendarat di Bandara Cakrabhuwana, Kota Cirebon, Jawa Barat, September 2017.

Dari tangan Imam, Densus 88 mengamankan satu buah koper yang berisi sangkur, airsoft gun, buku ajakan berjihad, dan beberapa benda mencurigakan lainnya. (*)

dari berbabai sumber

Komentar

Berita Lainnya