oleh

Ganda Campuran Persembahkan Medali Emas Kedua Untuk Indonesia

JAKARTA–Medali emas kembali dipersembahkan oleh pasangan ganda campuran paralimpiade Indonesia, Hary Susanto/Leani Ratri Oktila, pada Minggu (5/9/2021). Sebelumnya, Ratri juga mempersembahkan medali emas dan perak di nomor ganda putri dan tunggal putri.

Medali emas kedua untuk kontingen paralimpiade Indonesia ini diraih Hary/Ratri setelah mengalahkan pasangan Lucaz Mazur/Faustine Noel dari Prancis dengan dua gim, 23-21 dan 21-17.

Dengan tambahan medali ini, Indonesia total sudah mendapatkan dua medali emas, tiga perak, dan empat perunggu di Paralimpiade Tokyo 2020.

Sebanyak enam medali —dua emas, dua perak, dan dua perunggu— diraih dari cabang olahraga badminton.

Tiga di antaranya disabet oleh Leani Ratri Oktila, di nomor ganda campuran SL3-SU5 bersama Hary Susanto, ganda putri SL3-SU5 bersama Khalimatus Sadiyah, dan tunggal putri SL4.

Kisah Ratri

Situs paralympic.org mencatat Leani Ratri Oktila mulai bermain badminton ketika berusia tujuh tahun.

Sebuah kecelakaan motor pada 2011, ketika Ratri berusia 20 tahun, menyebabkan kaki kirinya 7 cm lebih pendek dari kaki kanannya.

Namun kecelakaan itu tidak menghambat cintanya pada badminton. Dua tahun kemudian, dia bergabung dengan Timnas para-bulutangkis.

Tiga medali yang didapatkannya dalam Paralimpiade Tokyo 2020 —dua emas dan satu perak— tak lepas dari kerja kerasnya berlatih. Kepada Indosport, yang dikutip oleh situs resmi paralimpiade tersebut, Ratri mengatakan terbiasa bertanding beberapa kali sehari, dan beristirahat di toilet.

“Saya bisa bermain enam pertandingan sehari. Ketika pemain lain langsung pulang ke rumah atau hotel, saya masih di lapangan. Saya sering membawa alas, bantal, dan pakaian ganti. Juga, saya suka tidur di toilet. Saya kunci saja toiletnya.

“Saya bisa tidur tiga jam dan segar lagi saat bangun. Biasanya saya bilang ke pelatih, cari saja saya di salah satu toilet,” kata Ratri saat diwawancara pada 2020.

Pemilik gelar S2 Bahasa Indonesia di Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, ini juga dikenal karena suka memakai ikat rambut berwarna jingga.

“Saya ingat seorang wartawan Jepang bertanya, ‘Kenapa Anda selalu memakai ikat rambut itu? Apakah itu seperti jimat?’ Saya spontan menjawab ‘Iya’. Sebenarnya, saya tidak nyaman dengan rambut-rambut yang mengganggu saat bermain, jadi ikat rambut ini praktis saja,” ujar Ratri saat itu.

Ini adalah medali emas pertama yang didapatkan Indonesia di ajang Paralimpiade dalam 41 tahun. (*)

Komentar

Berita Lainnya