JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, peringatan Isra Mikraj merupakan bagian penting dalam sejarah kebudayaan Islam.
Peristiwa agung itu menjadi awal disyariatkannya ibadah salat lima waktu sebagai tiang agama.
“Ibadah salat memiliki makna bahwa nilai-nilai ketuhanan harus diseimbangkan dengan nilai kemanusiaan,” ujar Menag pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW Kenegaraan.
Acara ini digelar secara daring dan luring dari Auditorium HM Rasjidi Kantor Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (28/2/2022) malam.
Menurut Menag, kedua nilai itu harus tetap menyatu dan terekam dalam sikap dan perilaku masyarakat Indonesia.
Keduanya merupakan perekat bangsa di tengah kompleksitas perbedaan yang tak semua bangsa mampu melewatinya dengan baik.
Sebagai bangsa besar, katanya, kerukunan dan harmoni dalam keberagaman harus tetap dijaga.
“Berbeda itu niscaya, namun tak berarti harus saling menjatuhkan,” kata Yaqut.
Sebuah bangunan indah, katanya, lahir dari berbagai peran para pekerja yang berbeda-beda, namun semuanya berjalan dalam satu spirit, yaitu menjadikan bangunan nampak indah dan kokoh.
“Begitulah perumpamaan sebagai renungkan bersama. Indonesia dikaruniai tidak hanya kekayaan alam, namun juga kekayaan budi pekerti,” kata Menag.
Hal itu, ujarnya, menjadikan Indonesia sebagai salah satu magnet dunia dalam mengelola dengan baik antara negara dan agama.
Menag menjelaskan, dalam sejarah Islam, Indonesia sangat erat menjalin hubungan antara agama dan negara.
Begitu pula, ajaran Islam telah melebur dalam berbagai aspek kebudayaan dan nilai-nilai kehidupan masyarakat.
“Sungguh sangat mengagumkan, dari Sabang hingga Merauke kita dapat menyaksikan cara berislam yang begitu indah” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu mengungkapkan, nilai spiritualisme dan humanisme itulah yang dijadikan dasar terwujudnya Islam rahmatan lil alamin.
“Maka peringatan Isra Mikraj tingkat kenegaraan tahun ini tentu memberi arti besar bagi bangsa Indonesia,” katanya.
Spirit Isra Mikraj tak sebatas catatan sejarah, namun bisa dijadikan sebagai renungan dan motivasi diri untuk terus tumbuh dengan meningkatnya kohesi sosial.
“Mari kita menjadi bagian bangsa Indonesia yang concern mencari titik temu daripada melebarkan perbedaan,” ujarnya. (*/Siberindo.co)
Sumber: kemenag.go.id










