SENGKOTEK–Gulma menjadi mimpi buruk pengusaha keramba ikan di Loa Janan Ilir, Samarinda. Iming-iming untung besar di pengujung tahun justru berakhir ‘ambyar’. Puluhan ribu ekor ikan nila dan ikan lele yang siap dijual justru mengalami gagal panen.
Hal itu dialami beberapa pengusaha di tepi Sungai Mahakam, segmen Jalan Cipto Mangunkusumo, Gang Penyeberangan, RT 13, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir.
Selain nila dan lele, udang juga hancur dihantam ribuan kubik gulma menyerupai pulau yang hanyut terbawa aliran sungai.
Diperkirakan sebanyak 26 ribu ekor ikan budidaya nelayan lepas karena tiga unit keramba milik Mastiah (51), Novi (47), dan Amat (44) hancur ditabrak gulma.
Kerusakan itu memicu kerugian besar bagi nelayan. Karena selama ini mereka menggantung hidupnya melalui hasil panen budidaya ikan yang dikelola sejak 2017 lalu.
Dari tiga keramba yang rusak, masih tersisa 1 keramba milik Amat yang selamat. Namun 5 dari 9 petak keramba milik Amat juga sudah rusak dan tak bisa digunakan lagi.
“Keramba saya hancur tadi malam (29/12). Karena terdorong gulma ke pinggir. Saya tidak tahu lagi berapa banyak ikan nila dan lele serta udang yang hilang. Lihat saja jaringnya. Robek begini,” kata Amat, sembari memperlihatkan jaring kerambanya yang robek.
Rp300 juta hanya menjadi kerugian dari hasil hitungan sementara yang harus ditanggung. Belum lagi kerugian karena harus tetap membayar angsuran pinjaman di bank.
“Kami ini memang bukan kelompok nelayana seperti yang lainnya. Kami usaha sendiri dengan meminjam di bank. Seperti saya, ada pinjaman di bank Rp20 juta sebagai modal. Dan saya harus tetap membayarnya meski keramba saya sudah tidak ada (hancur-red). Bank tidak mau tahu itu,” tutur Mastiah sedih.
Gulma yang luasnya melebihi lapangan sepak bola itu. Diyakini warga hanyut dari kawasan Danau Jempang, Kutai Barat (Kubar). Hal itu berdasarkan sepengetahuan warga mengenai alur Sungai Mahakam, yang mana beberapa kawasannya terdapat banyak gulma.
“Kejadian begini dulu pernah terjadi waktu Jembatan Mahulu dibangun. Dulu gulma yang tersangkut hanya di dorong biar larut, tapi sekarang tidak boleh. Itu kata yang mengerjakan pembersihan (Balai Wilayah Sungai Dinas PUPR Kaltim),” ujar Mastiah.
Sampai saat ini bantuan yang diharapkan tak kunjung ada. “Itu yang kami harapkan. Tapi sampai sekarang tidak ada. Kami sudah ke Dinas Perikanan menyampaikan, tapi belum ada kabarnya,” ucap Amat.
Meski belum ada uluran tangan dari pemerintah, namun warga secara swadaya tetap berupaya menjauhkan gulma itu dari tepi sungai agar tidak semakin memperparah kerusakan keramba yang tersisa.
“Kalau tidak didorong, gulma itu akan mematahkan kayu-kayu penyanggah rumah warga. Makanya harus kami dorong ke tengah,” katanya.
Perihal banyaknya gulma di aliran Sungai Mahakam, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda telah berkoordinasi dengan Badan Wilayah Sungai (BWS).
“Informasinya akan ada rapat besar di Pemprov Kaltim membahas masalah ini (keberadaan gulma di Sungai Mahakam, Red). Nanti akan melibatkan instansi terkait di Pemkab Kubar, Pemkab Kukar dan Samarinda sendiri.
Instansi lain di lingkungan Pemprov juga hadir katanya,” beber Kepala DLH Samarinda Nurahmani kepada Sapos.
Sementara ini untuk mengurangi “serangan” gulma di Sungai Mahakam wilayah Samarinda, pihak DLH Samarinda melakukan pemungutan gulma yang ukurannya tak besar dan masih mampu diangkat.
“Ada juga eceng gondok. Untuk gulma yang diangkat, yang ukurannya tak terlalu besar. Kalau yang besar-besar, kami juga terbatas personel dan alat yang ada. Makanya diharapkan melalui rapat nanti, ada solusinya,” kata Nurrahmani.
“Saat ini di sungai memang banyak ditemukan gulma yang ukurannya besar, itu kami kesulitan membersihkannya. Yang pasti masalah ini harus segera diatasi,” kata Nurrahmani lagi. (oke/rin/nha)









Komentar