oleh

Rekor Baru, 38 Juta Orang di Asia Timur dan Pasifik Jatuh Miskin Gara-gara Pandemi Covid-19

JAKARTA – Pandemi Covid-19 akan membuat 38 juta orang di negara bagian Asia Timur dan Pasifik mengalami kemiskinan.

Demikian laporan baru oleh Bank Dunia seperti dilansir dari Russia Today, Rabu (30/9/2020).

Menurut Bank Dunia, sebagai kawasan ekonomi paling maju di Asia, peningkatan risiko kemiskinan tersebut merupakan rekor selama dua dekade. 

Bank Dunia mendefinisikan garis kemiskinan sebagai pendapatan US$5,50 sehari atau sekitar Rp73 ribu.

Baca Juga:   Mawar-Melati Potret Miris Pelajar di Tengah Pandemi dan Kemiskinan

Untuk diketahui, wilayah Asia Timur dan Pasifik (EAP) meliputi China sekitarnya dan negara-negara Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik, seperti Fiji dan Samoa.

Covid-19 telah memberikan kejutan tiga kali lipat ke kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sedang berkembang. Untuk itu dibutuhkan langkah penanggulangan,” tulis laporan tersebut.

Kawasan Asia Timur diharapkan tumbuh hanya 0,9 persen pada tahun 2020, yang merupakan tingkat terendah sejak 1967. 

Adapun China diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,0 persen pada tahun 2020 didorong oleh pengeluaran pemerintah, ekspor yang kuat dan rendahnya tingkat Covid-19 baru infeksi sejak Maret. 

Baca Juga:   Target Jokowi, Kemiskinan Ekstrem Turun Hingga Nol Persen di 2024

Kendati begitu, akan masih mengalami perlemahan konsumsi domestik yang lambat.

Sisa wilayah Pasifik diproyeksikan menyusut sebesar 3,5 persen. Mongolia kemungkinan akan mengalami resesi pertamanya sejak 2009, dengan output ekonomi diproyeksikan berkontraksi sebesar 2,4 persen pada tahun 2020, karena permintaan eksternal yang lemah.

“Penyakit, masalah pangan, kehilangan pekerjaan, dan penutupan sekolah dapat menyebabkan semakin meningkatnya risiko kemiskinan, dan waktu pulih yang lama,” kata laporan Bank Dunia.

Baca Juga:   Warga Miskin Jakarta Meningkat 4,53 Persen di September 2020

Menurut Wakil Presiden Asia Timur dan Pasif di Bank Dunia, Victoria Kwakwa, pandemi tidak hanya menyerang orang miskin, namun juga akan sekaligus menciptakan orang miskin baru.

“Kawasan ini dihadapkan pada serangkaian tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pemerintah menghadapi pilihan sulit,” tandasnya. (aku/sam)

Komentar

Berita Lainnya