LEMPAKE–M Lutfi telanjur panik. Padahal beberapa pria baru akan menghampirinya. Tahu pria-pria itu adalah polisi, pemuda 25 tahun itu pun langsung menancap gas motornya.
Lutfi sudah sempat memacu kencang motornya. Tapi dia tak bisa kabur jauh. Polisi berhasil menghentikan laju motor Yamaha Mio dengan nopol KT 6569 BC yang ditungganginya.
Lutfi yang di KTP-nya berlamat di Melawai, Bontang ini pun diamankan. Saat dompet merek GUCCI digeledah, ditemukan empat bungkus pil berwarna biru jenis ineks. Jumlahnya mencengangkan: 302 butir.
Keberadaan barang haram itu membuat Lutfi dikeler ke Mapolsek Pinang. Sayangnya, tak banyak informasi yang dapat dikorek polisi dari Lutfi.
“Sejauh ini Lutfi hanya betindak sebagai kurir. Dia diminta mengambil paketan ineks merek Mercy di pinggir Jalan Poros Kebun Agung, Lempake,” beber Kapolsek Sungai Pinang, AKP Rengga Puspo Saputro.
Rengga menerangkan, Lutfi berangkat langsung dari Balikpapan menuju lokasi pengambilan ineks itu berdasarkan petunjuk seseorang yang tak dikenalnya.
Pelaku diminta untuk mengambil ekstasi di jalan poros Samarinda-Bontang, naik motor dari Balikpapan menuju tempat yang diberitahu untuk mengambil barang itu.
Saat akan diamankan, Lutfi sempat akan kabur dengan membawa barang yang telah ia ambil tersebut mengendarai sepeda motornya, hingga terjadi aksi kejar-kejaran.
Lutfi berhasil diamankan petugas bersama barang bukti 302 butir pil ekstasi warna biru berlogo Mercy, dengan berat total 103, 6 gram yang dipecah menjadi empat bungkus dalam plastik klip sedang.
“Ekstasi itu disimpan dalam sebuah kotak, dimasukkan ke dalam helm dan diletakkan di pinggir jalan tak jauh dari jalan masuk pemakaman kristen poros Samarinda-Bontang,” ujar Rengga.
Peran dari Lutfi sendiri hanya sebagai kurir, yang disuruh oleh pelaku berinisial IP dan HR yang saat ini tengah dalam pengejaran.
“Kalau upahnya belum tahu kami hanya mengamankan uang Rp100 ribu. Orang yang menyuruh dia masih kami kejar. Ada indikasi pil ekstasi tersebut akan disebarkan menjelang pergantian tahun 2021 nanti,” sebut Rengga.
“Indikasi itu sangat memungkinkan, karena barang masuk saat Natal dan dimanfaatkan saat anggota tengah fokus pengamanan ibadah Natal di gereja-gereja. Untuk asal barang dugaannya dari luar Samarinda, karena transaksinya di jalan poros Samarinda-Bontang. Tetapi, ini masih akan kami dalami lagi, dan antara kurir serta pemilik barang mengaku tidak saling kenal, hanya bertemu sekali, kemudian komunikasi lewat ponsel,” sambung Rengga.
Lutfi berdalih jika dirinya hanya jadi korban dan tak mengetahui terkait Narkoba jenis pil ekstasi warna biru berlogo Mercy yang diantarnya.
“Itu bukan punya saya. Saya tidak tahu apa-apa, saya hanya korban saja pak,” kata Lutfi.
Lutfi mengaku datang ke Samarinda untuk liburan sekaligus mendatangi adiknya yang ada di Kota Tepian. Saat dirinya tiba di Samarinda, ia membuat status di WhatsApp dan tiba-tiba ada yang mengirim pesan singkat.
“Saya baru sehari di Samarinda mau jalan-jalan, sekalian datangin adik. Saat buat status di WA tiba-tiba ada chat, mengajak ketemuan di sana. Pas ketemu, hp saya ditahan dan disuruh pakai hp biasa, bukan hp android. Saat itulah diminta mengambil helm yang ada kotak di dalamnya. Tidak tahu isinya apa. Saat mengambil kotak itulah saya ditangkap polisi,” jelasnya.
Peristiwa yang dialami Lutfi terjadi, Jumat (25/12) sore lalu pukul 16.30 Wita. Meski beralamat di Bontang, Lutfi bermukim di Graha Indah, Kilometer 5, Balikpapan. (kis/nha)
Tag:
Kurir Gagal Ineks









Komentar