SIBERINDO.CO – Sungai bukan hanya aliran air, tetapi menjadi bagian dari perjalanan peradaban manusia. Dari sungai, kehidupan tumbuh, masyarakat berkembang, dan berbagai kebudayaan terbentuk. Pesan tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026 di Sumber Gempong, Mojokerto, Jawa Timur.
Menteri Jumhur mengapresiasi komunitas sungai dari berbagai daerah yang selama ini secara mandiri menjaga dan merawat sungai sebagai sumber kehidupan. “Saya terharu dengan teman-teman yang melakukan kegiatan merawat sungai dan sekarang berkumpul di seluruh Indonesia. Alhamdulillah saya diundang sehingga saya bisa bertukar pikiran di forum ini”.
Menurut Menteri Jumhur, gerakan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan sungai. Ia menilai, upaya pengelolaan lingkungan harus dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak serta menghargai peran masyarakat yang telah lama menjaga sungai di wilayahnya masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Jumhur juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sungai. Sungai, menurutnya, tidak boleh lagi menjadi bagian belakang kehidupan, melainkan harus menjadi ruang yang dijaga bersama. Ia mencontohkan Tukad Bindu di Bali sebagai praktik baik pengelolaan sungai berbasis masyarakat.
“Saya suka sekali dengan deklarasi tadi bahwa jangan membelakangi sungai. Dalam agama Islam dijelaskan bahwa di Surga ada sungai-sungai yang mengalir. Jadi di surga kita bisa menyaksikan pemandangan indah sungai yang airnya mengalir. Kemudian bagi agama Katolik juga ada Laodato Si’, Paus sudah mendeklarasikan 2-3 tahun lalu pertobatan ekologis. Agama yang lain juga sama,” kata Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur juga menegaskan pentingnya menghormati kearifan lokal dalam pengelolaan sungai. Menurutnya, masyarakat setempat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi sungai di wilayahnya sehingga pemerintah perlu hadir untuk mendukung dan memperkuat gerakan tersebut. Menteri Jumhur menambahkan bahwa keberagaman pendekatan dalam menjaga sungai merupakan kekuatan Indonesia.
“Kalau semuanya seragam itu bukan Indonesia Raya. Itulah menariknya Indonesia. Kita harus betul-betul menghormati local wisdom. Saya kalau tidak menghormati local wisdom maka saya rugi. Karena banyak hal yang sebetulnya dengan menghormati local wisdom maka sebetulnya KLH tidak perlu intervensi-intervensi yang sifatnya perintah. Karena warga lokal sudah berjalan melakukan pengelolaan sungai. Sehingga saya tinggal membangun orkestrasi saja,” kata Menteri Jumhur.
Melalui Konferensi Sungai Indonesia 2026, Menteri Jumhur berharap gerakan masyarakat dalam menjaga sungai terus berkembang menjadi kekuatan bersama untuk mengembalikan sungai sebagai ruang kehidupan.
“Tetap semangat, mudah-mudahan kita bisa memulai lagi peradaban sungai yang baik. Kita jangan membelakangi sungai, itulah pesan dalam pertemuan ini. Kita harus menjadikan sungai berada di hadapan kita,” pungkas Menteri Jumhur.
Pesan tersebut menjadi penegas bahwa masa depan sungai Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kepedulian bersama. Ketika masyarakat kembali menjadikan sungai sebagai bagian dari kehidupan, maka upaya memulihkan lingkungan bukan sekadar gerakan, melainkan langkah nyata membangun peradaban yang lebih selaras dengan alam










