JAKARTA – Pemerintah mencanangkan agar terus terjadi peningkatan produksi perikanan budidaya. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga mendorong inovasi-inovasi anak negeri untuk menghasilkan pakan ikan dan udang dari pembenihan hingga level pembesaran.
Khusus dalam pembenihan, pakan alami sangat diperlukan agar menghasilkan benih yang baik dan berkualitas. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, Kebutuhan akan pakan alami berbanding lurus dengan produksi perikanan budidaya yang terus mengalami peningkatan setiap tahun. Kebutuhan yang besar ini menjadi sebuah peluang yang harus dimaksimalkan oleh produsen dalam negeri untuk terus dapat membangun industri pakan alami agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Hal itu ditegaskan Slamet Soebjakto saat membuka webinar bertajuk “Zooplankton Potensial untuk Pakan Ikan dan Udang,” Rabu lalu. Webinar yang diikuti sekitar 3200 peserta itu menghasirkan para pakar untuk dapat berbagi ilmu berbudidaya pakan alami seperti Phronima, Artemia maupun Moina.
Terkait pengembangan industri pakan, Slamet menyebutkan KKP sudah menyiapkan lokasi di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur untuk dapat dibangun guna mewujudkan industrialisasi pakan alami dalam negeri. Dengan industrialisasi, diharapkan pakan alami dapat tersedia secara kontinyu dengan kuantitas dan kualitas yang terjaga.
“Teknologi dan produksi pakan alami telah banyak dikuasai dan dikembangkan oleh anak bangsa. Bahkan kini sudah ada sistem strain baru dari zooplankton yang sebagai pakan ikan maupun udang. Oleh sebab itu, target kemandirian pakan alami yang tidak tergantung dari impor tidak mustahil untuk diwujudkan,” lanjut Slamet.
Slamet berharap kegiatan ini dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada pelaku usaha perikanan budidaya.
Sementara itu Direktur Pakan dan Obat Ikan KKP, Mimid Abdul Hamid menyebutkan pakan alami sangat diperlukan sebagai pondasi bagi ikan dan udang di masa awal kehidupannya untuk dapat tumbuh kuat.
Menurutnya, memiliki keunggulan diantaranya kandungan protein yang tinggi, mengandung asam lemak tidak jenuh, mengandung vitamin C dan mineral, serta di beberapa jenis pakan mengandung enzim dan pigmen yang bagus untuk ikan hias,” beber Mimid.
Mimid menyebutkan kebutuhan benih berkualitas kini semakin meningkat dan hasilnya terjadi peningkatan produksi, tentu ini juga membuat peningkatan kebutuhan pakan alami. Dengan tingginya kebutuhan pakan alami tersebut, potensi pasar juga turut terkatrol naik.
“Untuk memenuhi kebutuhan produksi 550 ribu ton diperlukan benih sekitar 90 miliar ekor. Dari kebutuhan 90 miliar ekor benih tersebut, apabila menggunakan pakan alami jenis artemia dibutuhkan sebanyak 450 ton. Saat ini produksi dalam negeri baru dapat memenuhi 50 persennya, sehingga potensi pasar untuk pakan ikan alami masih sangat besar,” ucap Mimid.
Mimid menilai bahwa selain pangsa pasar, budidaya pakan alami di Indonesia memiliki beberapa keuntungan seperti dukungan iklim yang memadai serta potensi lahan yang baik, sehingga dapat dijadikan sebagai mata pencaharian alternatif bagi masyarakat.
Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Rektor V Universitas Muslim Indonesia Makassar, Prof Muh Hatta Fattah sebagai narasumber webinar Zooplankton. Pada webinar yang berlangsung sekitar 4 jam itu, Prof Hatta menegaskan bahwa Phronima Suppa mesti terus dikembangkan. Apalagi selama ini Artemia salina sering didatangkan dari luar negeri tentu dengan biaya yang mahal.
“Seperti di Sulawesi Selatan membutuhkan sekitar 30.000 kaleng Artemia salina atau lebih dari Rp26,3 miliar per tahun. Dari hasil uji pendahuluan kami, Phronima Suppa ini bisa untuk pakan alami larva ikan hias, yang mampu meningkatkan kelangsungan hidup dan stabilitas warnanya dan kami juga akan mencoba Phronima Suppa ini untuk pakan alami larva ikan konsumsi air tawar,” ujar Prof Hatta.
Menurutnya, Phronima Suppa memiliki daya toleransi yang luas, namun sangat ditentukan dengan stabilitas salinitas yakni idealnya di media kultur salinitas 10-15 ppt. Apabila salinitas tidak diperhatikan, maka akan terjadi penurunan kepadatannya. Hal tersebut lah yang menjadi kendala yang harus kita hadapi dalam mengembangkan ketersediaan stok Phronima Suppa. Kita semua berharap, Phronima Suppa ini bisa menjadi pakan unggulan nasional.
Sementara Narasumber lainnya, penanggung jawab pakan alami di Balai Riset Ikan Hias Depok, Sri Cahyaningsih menyampaikan, kunci utama dari keberhasilan mengembangkan zooplankton adalah biosecurity baik media kulturnya dan lingkungan sekitar media kultur.
“Apabila biosecurity tidak diperhatikan, maka akan timbul zooplankton lainnya seperti copepod karena size-nya lebih besar sehingga sulit dicerna oleh larva ikan yang tidak sesuai dengan bukaan mulutnya dan menyebabkan larva ikan mati,” jelas Cahya.
Cahya menambahkan untuk menjadikan larva ikan untuk sehat, mesti bisa meniru makanannya yang di alam. Artinya sesuai dengan bukaan mulut larva ikan. Larva ikan dan udang dominan karnivora dikarenakan larva ikan dan udang masih belum sempurna organ pencernaannya dan belum lengkap enzim yang dihasilkan sehingga diperlukan zooplankton sebagai makanannya. Zooplankton ketika dimakan oleh larva ikan dan udang akan terurai sendiri (autolysis). Dengan pemenuhan ketersediaan stok zooplankton bagi larva ikan, maka kita bisa menghasilkan benih ikan yang sehat dan pertumbuhan ikan optimal. (*/arl)











Komentar