LIMAPULUH KOTA – Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin, mengatakan, 6 dari 13 kecamatan yang ada kabupaten itu merupakan
penghasil gambir dan 40 persen dari penduduk berasal dari keluarga petani gambir.
Karena itu komoditas gambir memang mempunyai potensi nilai ekonomis yang tinggi, jika ada pola pengolahan dari hulu dan hilir.
Mulai dari standarisasi produksi ekstraksi getah gambir dalam menghasilkan katekin dan tanin yang berkualitas, sehingga memiliki harga yang tinggi dipasaran.
Menurut Safaruddin, dengan sedikit inovasi, komoditas gambir dapat dikembangkan menjadi produk olahan seperti Teh Gambir, Batik Gambir maupun produk kosmetik yang diharapkan dapat menambah nilai ekonomis dari produk tersebut.
“Kami sangat bersyukur. Insya Allah ke depan kita akan anjurkan kepada seluruh kantor dan dinas untuk memanfaatkan produk produk daerah, baik berupa teh gambir, produk kosmetik dari gambir maupun pemakaian batik gambir,” ujar Safaruddin Dt. Bandaro Rajo ketika menjadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD), kampus UM Sumatera Barat, Bukittingi, sebagaimana disiarkan minangsatu.com, anggota jaringan Siberindo di Sumbar, Kamis (24/6/2021).
Hal itu, katanya, diharapkan dapat mendukung para petani gambir dan pelaku industri UMKM dalam mengembangkan produk olahan gambir di Limapuluh Kota.
FGD ini dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Rabu (23/6/2021), dalam rangka revitalisasi pertanian Gambir untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan konservasi lahan.
Pada FGD yang dihadiri Kemenko Perekonomian, akademisi dan petani gambir ini, bupati berharap kegiatan tersebut sebagai langkah awal dalam membuat skema pengembangan gambir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih. Kita siap untuk bekerjasama. Apa peran Pemkab dan apa peran pemerintah provinsi dalam mendorong pertumbuhan komoditas gambir dalam mensejahterakan masyarakat,” katanya.
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, M.T mengatakan sejumlah persoalan tersebut akan didiskusikan secara nasional.
“Insya Allah nanti kami komunikasikan penyedian alat. Untuk kebutuhan perbankan, petani tidak ada salahnya mencoba memakai skema KUR,” ungkapnya.
Selain itu, dia juga meminta petani untuk memperbaiki kualitas tanam gambir yang telah ada sehingga produktivitasnya tetap baik.
Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, Dr Riki Saputra, MA mengucapkan terimakasih pada Kemenko Perekonomian, Pemerintah Daerah dan Provinsi serta unsur terkait atas perhatian dan peran serta dalam mengembangkan komoditas gambir di Kawasan Sumatera Barat khususnya Kabupaten Limapuluh Kota.
“Mudah mudahan gambir sebagai tanaman lokal dengan berbagi persoalan dapat kita angkat secara bersama-sama untuk sejahterakan masyarakat. UM Sumbar siap bekerjasama dengan semua lembaga dalam membangun daerah,” katanya. (*)











Komentar