MAJENE – Bupati Kabupaten Majene Lukman Nurman menegaskan dirinya tidak ingin Majene menjadi viral karena stunting yang penanganannya tidak baik.
Setiap pemerintah daerah tentu tidak ingin menempati posisi tertinggi angka kasus stunting di wilayahnya, termasuk Pemerintah Kabupaten Majene.
“Saya tidak mau lagi Majene menjadi viral hanya karena kita menempati posisi tertinggi kedua dalam hal stunting,” ungkap Bupati Majene Lukman Nurman dalam Review Kinerja Akhir Tahunan (Aksi 8) terkait kinerja Pemkab Majene dalam aksi Konvergensi Penanganan Stunting dirangkaikan Pemberian Award Kinerja Desa Lokus Terbaik Penanganan Stunting 2020. bertempat di Aula Tammajarra LPMP Sulbar, Rabu (23/12/2020).
Lukman menginginkan, ke depan Majene kembali viral karena bebas dari persoalan stunting. Seperti Kabupaten Banggai, Sulteng, mampu keluar dari persoalan stunting lantaran kekompakan dari semua pihak, mulai dari level eksekutif, legislatif, sampai pada pemerintah desa bersatu untuk menelorkan pemikiran dalam menangani stunting.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
“Saya yakin dan percaya semua itu dapat juga kita capai atas komitmen dan keinginan yang kuat secara semua. Jika bekerja dengan keihklasan, maka yakin dan percaya, kita akan mendapatkan hasil seperti yang kita harapkan bersama, baik masyarakat Majene maupun Pemerintah Pusat,” tuturnya.
Ia menyatakan, telah resmi menutup serangkaian kegiatan Desa Lokus Terbaik Penanganan Stunting 2020 selama 3 hari, dimulai 21 sampai 23 Desember yang diisi dengan pameran mini dari desa yang menjadi lokus stunting.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada semua yang terlibat dalam kegiatan ini, dan terima kasih yang setinggi tingginya terutama kepada Tim Gugus 1.000 HPK Kabupaten Majene,” ucapnya.
Mantan Ketua DPRD Majene itu menjelaskan, 70 persen persoalan stunting adalah faktor kebiasaan atau pola hidup, sementara hanya 30 persen faktor kesehatan.
“Dari 70 persen harus kita sikapi bersama, karena mengubah kebiasaan itu cukup berat, tapi dengan tekad yang bulat tentu kebiasaan bisa kita atasi, yang terpenting adalah komitmen,” paparnya.
Ia mengaku, telah berkunjung ke Desa Simbang, Kecamatan Pamboang, untuk melihat langsung anak stunting, dan rupanya faktor lingkungan sudah tidak terlalu memengaruhi.
“Saya yakin, dalam waktu dekat, Desa Simbang akan dapat keluar dari desa lokus. Namun yang cukup mengherankan adalah terdapat salah satu desa di Kecamatan Pamboang yang berada dibpesisir, masuk jadi lokus stunting, padahal daerahnya penghasil ikan,” ujarnya.
Pada penutupan, dilanjutkan penyerahan piagam penghargaan dan hadiah kepada para pemenang 14 desa dan kelurahan lokus stunting instervensi 2020, yakni Desa Totolisi Sendana, Bambangan, Simbang, Banua Adolang, Tammerodo Utara, Awo, Lombong Timur, Mekkatta, Lombang Timur, Betteng, Mekkatta Selatan, Seppong, Lombang, dan Lamungan Batu.
Selanjutnya Pemenang Penilaian Kinerja Desa dan Pameran Mini Inovasi Desa dalam Aksi Konvergensi Percepatan Penanganan Stunting Terintegrasi tingkat Kabupaten Majene 2020, sesuai penilaian dari para Panelis, yaitu terbaik I Desa Lombong Timur, terbaik II Desa Mekkatta Selatan dan terbaik III Desa Betteng.
Untuk kategori Motivatif dan Stand terbaik, yaitu Desa Totolisi Sendana, kategori inovatif Desa Simbang, kategori inspiratif Desa Awo dan kategori replikatif Desa Seppong.
Dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN), Dinas Kesehatan Majene juga memberikan penghargaan berbagai kategori. Pertama Desa Binaan Sehat Desa Lombong Timur Binaan Puskesmas Malunda, Desa Buttu Baruga Binaan Puskesmas Banggae II, Desa Ulidang Binaan Puskesmas Tammero’do, Desa Adholang Binaan Puskesmas Pamboang, dan Kelurahan Galung Binaan Puskesmas Banggae II.
Untuk Sekolah Binaan Sehat, SDN 4 Tanjung Batu Binaan Puskesmas Lembang, SD Inpres No 65 Galung Binaan Puskesmas Banggae I, serta Desa Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan diberikan kepada Desa Totolisi Sendana bersama Desa Ulidang. (abd rhafid)










Komentar