oleh

November Pendataan Vaksin Dimulai

JAKARTA – Sebagai petugas medis di salah satu puskesmas di Jakarta, Iqbal Mutaqqin (32) harus berhadapan dengan tujuh hingga belasan orang pasien Covid-19 per hari.

Iqbal bertugas menerima laporan pasien positif hingga merujuk mereka ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet.
Tenaga medis seperti Iqbal akan menjadi salah satu dari 9,1 juta orang di Indonesia yang diprioritaskan untuk divaksin mulai November 2020.

Di satu sisi, Iqbal menyimpan harapan pada penemuan vaksin Covid-19 agar pandemi bisa lebih terkendali.
”Berharap banget sebetulnya sama vaksin, karena sudah lelah. Sudah delapan bulan begini,” kata Iqbal seperti dilansir Anadolu Agency melalui sambungan telepon.

Baca Juga:   DPR Minta Pemerintah Patuhi Prosedur Sebelum Edarkan Vaksin Sinovac 

Dia juga menyatakan bersedia mengikuti program vaksinasi pemerintah apabila itu diwajibkan.
Namun di sisi lain, ada rasa was-was lantaran kandidat vaksin yang akan disuntikkan kepada mereka belum sepenuhnya terbukti efektif.

”Harus terbukti dulu efektivitas dan keamanannya, apalagi ini diberikan kepada tenaga medis. Kalau ada efek samping apa-apa dan berdampak buruk bagi kami, malah jadi berantakan penanganan pasien,” tutur dia.

Baca Juga:   Telepon Xi Jinping, Presiden Jokowi Bicara Proyek Vaksin

Pemerintah merancang program vaksinasi ini setelah mendapatkan komitmen distribusi 18,2 juta dosis vaksin pada November-Desember 2020 dari tiga perusahaan farmasi China yakni Sinovac Biotech, Sinopharm, dan Cansino.

Jumlah itu cukup untuk memvaksinasi 9,1 juta orang yang terdiri dari tenaga medis, pekerja di sektor pelayanan publik, serta kelompok berisiko tinggi.

Kementerian Kesehatan telah meminta Dinas Kesehatan di seluruh Indonesia mendata calon penerima vaksin dan menyiapkan logistik vaksinasi.

Baca Juga:   November, 9,1 Juta Orang Bakal Divaksin Sinovac

Namun, rencana ini menimbulkan kontroversi mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan ada kandidat vaksin yang terbukti efektif.

WHO memang memungkinkan lembaga seperti BPOM menerbitkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) kandidat vaksin menimbang buruknya situasi pandemi.

Negara seperti China dan Uni Emirat Arab juga sudah menerbitkan izin serupa di negaranya masing-masing. (oke/sep)

Komentar

Berita Lainnya