oleh

Integrasi Transportasi Multimoda Dorong Mobilitas Efisien dan Berkelanjutan di Jawa Timur

SIBERINDO.CO – Surabaya sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur sekaligus kota terbesar kedua di Indonesia, memegang peran yang sangat strategis dalam peta pembangunan nasional. Kota ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan penggerak ekonomi regional, tetapi juga menjadi simpul utama (hub) logistik serta mobilitas untuk kawasan Indonesia Timur.

Perkembangan pesat kawasan aglomerasi Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) saat ini menuntut Surabaya untuk adaptif terhadap tingginya intensitas pergerakan barang dan jasa. Dalam pembangunan wilayah metropolitan tersebut, penataan sektor transportasi menjadi faktor paling krusial untuk memastikan seluruh aktivitas publik dapat berjalan dengan efektif dan berkelanjutan.

Salah satu upaya menuju mobilitas berkelanjutan terlihat dari pengembangan angkutan umum perkotaan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Jaringan layanan dirancang melalui sistem trunk atau koridor utama (Suroboyo Bus) dan feeder atau angkutan pengumpan (Wirawiri) agar masyarakat dapat menjangkau kawasan permukiman, pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, terminal, serta simpul transportasi lainnya. Dari rencana 11 rute trunk dan 30 rute feeder, hingga kini telah direalisasikan empat rute trunk dan 11 rute feeder.

Angkutan umum ini didukung dengan kemudahan pembayaran dan tarif yang relatif terjangkau. Penumpang dapat menggunakan uang elektronik, QRIS, maupun tiket melalui aplikasi GOBIS. Tarif umum ditetapkan sebesar Rp5.000 untuk durasi perjalanan dua jam, sedangkan pelajar dan mahasiswa dikenakan tarif Rp2.500. Sementara itu, layanan ini digratiskan bagi kelompok tertentu, seperti warga lanjut usia, veteran, dan balita.

“Angkutan umum bukan untuk mencari keuntungan, tetapi merupakan kewajiban pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas umum bagi warganya,” ujar Irwan Andeska Machmudi, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Surabaya.

Upaya menghadirkan transportasi rendah emisi pun telah dilakukan melalui pengoperasian 11 bus listrik dan satu unit cadangan pada rute Terminal Purabaya–Universitas Airlangga–ITS (pp). Koridor sepanjang 41,3 kilometer tersebut memiliki 65 titik pemberhentian.

Terminal Purabaya, Simpul Perjalanan Darat

Wujud nyata integrasi antarmoda ini berpusat di Terminal Tipe A Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo. Di sinilah jaringan bus perkotaan Surabaya terhubung langsung dengan Trans Jatim serta bus antarkota (AKDP dan AKAP). Terminal ini berfungsi sebagai titik awal, tujuan, sekaligus transit utama bagi pergerakan masyarakat menuju berbagai wilayah di Jawa Timur.

Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur, sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di daerah, menyiapkan penataan terminal meliputi perbaikan jalur pejalan kaki dan fasilitas bagi penyandang disabilitas, penataan arus sepeda motor, serta pemindahan pintu masuk terminal. Penataan juga menyasar area parkir sepeda motor yang saat ini masih tersebar di sejumlah titik. “Saat ini parkir motor tersebar di 11 lokasi. Ke depan akan kami satukan menjadi satu area dalam bentuk bertingkat,” ujar Bambang Hermanto, Kepala BPTD Kelas II Jawa Timur.

Di luar kawasan perkotaan, BPTD Kelas II Jawa Timur juga menyelenggarakan angkutan jalan perintis untuk menjaga konektivitas masyarakat di wilayah yang belum sepenuhnya dapat dilayani angkutan komersial. Pada 2026 terdapat 14 trayek yang melayani 11 kabupaten/kota dengan total panjang perjalanan pulang-pergi sekitar 1.306 kilometer. Layanan tersebut dioperasikan Perum DAMRI menggunakan 20 armada, antara lain untuk menghubungkan kawasan di Ponorogo, Pacitan, Madiun, Banyuwangi, Jombang, Nganjuk, hingga Sumenep.

Menguatkan Kereta Komuter di Gerbangkertosusila

Beranjak menuju moda kereta api, Kemenhub akan memperkuat sistem kereta komuter perkotaan melalui Surabaya Regional Railway Line (SRRL). Tahap awal proyek mencakup pembangunan jalur ganda dan elektrifikasi koridor Gubeng–Sidoarjo sepanjang sekitar 20 kilometer, disertai peningkatan fasilitas di lima stasiun, yaitu Gubeng, Wonokromo, Waru, Gedangan, dan Sidoarjo. Sistem persinyalan, telekomunikasi, fasilitas pemeliharaan, serta integrasi dengan moda transportasi lain juga menjadi bagian dari pengembangannya.

Pengembangannya juga mencakup rencana jalur ganda antara Stasiun Gubeng dan Pasar Turi, pembangunan depo di Sidotopo, serta pengurangan perlintasan sebidang melalui pembangunan jalan layang di sejumlah lokasi. “Kalau kita berbicara kereta komuter, perlintasan sebidang harus dikurangi karena kereta akan lebih sering melintas dan dapat mengganggu lalu lintas jalan,” terang Denny Michels Adlan, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya.

Kehadiran SRRL diharapkan membuat perjalanan antarkawasan di Gerbangkertosusila lebih teratur dan memberi alternatif bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi. Penguatan jaringan kereta juga perlu berjalan bersama layanan bus perkotaan dan feeder, sehingga penumpang dapat melanjutkan perjalanan dari stasiun menuju pusat kegiatan lainnya dengan lebih mudah.

Pelabuhan Tanjung Perak, Simpul Konektivitas Laut Jawa Timur

Konektivitas Jawa Timur selanjutnya bertumpu pada Pelabuhan Tanjung Perak sebagai salah satu simpul utama pergerakan barang dan penumpang antarpulau. Sebagai regulator, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak berperan melakukan pengawasan mencakup keselamatan pelayaran, keamanan pelabuhan, serta perlindungan lingkungan maritim. KSOP juga mengoordinasikan operator, badan usaha, dan instansi terkait agar peningkatan aktivitas pelabuhan tetap berjalan seiring dengan pengelolaan dampak lingkungannya.

Pelabuhan Tanjung Perak turut menjadi pangkalan layanan angkutan laut perintis, seperti KM Sabuk Nusantara 92 yang melayani trayek R-15 menghubungkan Surabaya, Masalembo, Keramaian, dan Kalianget. Kapal yang dijadwalkan menjalani 44 perjalanan atau voyage dalam setahun tersebut telah menggunakan bahan bakar B40 sebagai bagian dari pemanfaatan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Upaya menjaga konektivitas tersebut berjalan bersama transformasi menuju pelabuhan yang lebih efisien dan rendah emisi. “Green port bukan hanya tentang penggunaan teknologi modern, tetapi juga tentang komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” ucap Agustinus Maun, Kepala KSOP Utama Tanjung Perak.

Penerapan green portdapat dilihat lebih jauh di Terminal Petikemas (TPK) Teluk Lamong yangmemulai operasinya pada November 2014. Tujuan pembangunan untuk mendukung kapasitas Pelabuhan Tanjung Perak sekaligus melayani pertumbuhan kawasan industri di Gresik, Mojokerto, dan wilayah sekitarnya. Aktivitasnya berkembang dari sekitar satu kapal setiap minggu pada awal pengoperasian menjadi lima hingga tujuh kapal per hari. Pada 2025, arus peti kemas Terminal Teluk Lamong tercatat mencapai 949.808 TEUs.

onsep green port diterapkan melalui penggunaan peralatan berbasis listrik, fasilitas shore connection yang memungkinkan kapal memperoleh pasokan listrik saat bersandar, pembangkit listrik tenaga mesin gas, serta sistem otomatisasi untuk mendukung kelancaran operasional. Pengelolaan lingkungan juga dilakukan dengan mengolah kembali air limbah untuk menyiram tanaman, mengembangkan pembibitan di rumah kaca, serta memanfaatkan lahan untuk tanaman hidroponik. “Untuk green port, yang kami jalankan saat ini lebih mengarah pada penerapan aspek environmentalsocialand governance,” ujar Pierre Rochel, Terminal Head TPK Lamong.

Menjangkau Kepulauan melalui Penerbangan Perintis dan Green Airport

Konektivitas Jawa Timur juga diperkuat melalui transportasi udara, terutama untuk menjangkau wilayah kepulauan yang memiliki waktu tempuh cukup panjang melalui jalur laut. Pada 2026, penerbangan perintis menghubungkan Surabaya, Bawean, Sumenep, dan Pagerungan menggunakan pesawat Grand Caravan C208B. Hingga Mei 2026, tercatat 330 penerbangan dengan 3.312 penumpang, melampaui target 328 penerbangan dan 3.280 penumpang. “Penerbangan ke Pagerungan relatif penuh karena apabila menggunakan kapal laut, waktu tempuhnya bisa lebih dari 10 jam ,” jelas Fuadani, Kepala Bidang Keamanan, Angkutan Udara dan Kelaikudaraan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah III.

Selain menjaga aksesibilitas wilayah, sektor udara juga mulai menerapkan pembangunan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan. Bandara Banyuwangi dikembangkan dengan konsep green airport yang memadukan arsitektur khas Suku Osing dengan desain hemat energi. Penerapannya meliputi penggunaan ventilasi dan pencahayaan alami, atap hijau, panel surya berkapasitas 33,5 kWp, serta pemanfaatan air irigasi untuk mendukung pemeliharaan ruang terbuka hijau.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa peningkatan konektivitas tidak harus berjalan berlawanan dengan upaya menjaga lingkungan. Layanan penerbangan perintis memastikan masyarakat di wilayah kepulauan tetap terhubung, sedangkan penerapan green airport menjadi bagian dari upaya mengurangi penggunaan energi dan dampak lingkungan dalam penyelenggaraan transportasi udara.

Komitmen terhadap mobilitas berkelanjutan ini diimplementasikan di Jawa Timur melalui integrasi berbagai moda transportasi yang saling melengkapi. Dari terminal, jalan perkotaan, pengembangan kereta regional, layanan pelabuhan dan angkutan laut perintis, hingga penerbangan menuju wilayah kepulauan, mobilitas di Jawa Timur dibangun melalui peran yang saling melengkapi. Mobilitas berkelanjutan pun membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur. Integrasi layanan, efisiensi energi, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam menghadirkan transportasi yang semakin mudah dijangkau masyarakat.

Berita Lainnya