oleh

Nelayan Medan, Terus Melaut Sambil Menanti Solar Subsidi Kembali

MEDAN–“Modal melaut besar, hasil tak seberapa.” Begitulah keluh kesah Nuriadi, nelayan jaring kepiting dan ikan yang menyewa sampan.

Dalam perhitungan pria berusia 56 tahun ini, penghasilan dari sekali melaut, paling tinggi Rp300.000 hingga Rp400.000, kotor. “Itu kalau sedang musim kepiting dan ikan,” terangnya.

Jumlah perolehan tersebut, kemudian dibagi tiga. Satu bagian buat pemilik sampan. Dua bagian lagi untuk dia dan satu orang anggotanya.

Dari dua bagian pendapatan kotor tersebut, dibagi lagi untuk membayar BBM solar yang dibutuhkan setiap kali berangkat. Juga disisihkan untuk biaya pemeliharaan jaring.

Tak jarang, pulang tinggal bayar utang. Hasil yang diperoleh sedikit, atau malah tak dapat apa-apa. Modal pun tak balik.

Nuriadi bilang, sekali melaut, paling sedikit butuh lima liter. Harga satu liter, antara Rp6.000 hingga Rp7.000.

“Kalau dapat sedikit, atau kosong, apalah yang mau dibuat lagi untuk menutupi pembelian solar? Apalah lagi yang mau dibawa pulang? Anak pun tak terbiayai sekolahnya,” keluh ayah dari empat anak ini.

Warga Bagan Belawan ini sudah menekuni lautan sejak belia. Berangkat pukul 02.00/03.00 WIB, jika cuaca mendukung. Terlambat sedikit, tak dapat tempat. Nelayan lain berebut mengisi ruang-ruang yang diperkirakan menjadi sarang kepiting dan ikan. Lalu pulang ke darat sekitar pukul pada sepenggalah hari.

Baca:   Lima Nelayan Lubuk Pakam Dihantam Puting Beliung di Malaysia, Dipulangkan TNI AL

Belakangan, merenungi nasib yang tak juga berubah ke arah lebih baik, Nuriadi putar haluan. Mencoba peruntungan pada bidang perdagangan sambil tetap menjadi nelayan.

Sejak setengah tahun lalu, dia dan istrinya  membuka kedai kopi yang modalnya dari hasil pinjam uang  berbunga tinggi.“Kata kawan-kawan, saya ini nekat pinjam uang panas. Tapi, mau macam mana lagi,” kisahnya sambil menyapukan pandangan ke arah meja-meja yang ramai diisi pelanggan.

Yhati (24 tahun) yang juga warga Bagan Belawan, mengeluhkan hal serupa. Ayahnya seorang nelayan kepiting yang menyewa sampan.

Dia merasa sedih kala melihat sang ayah berulang-ulang menjahit jaring yang rusak akibat gunting kepiting. Untuk membeli baru, harganya terbilang mahal. Satu bal, Rp150.000 hingga Rp200.000. Tergantung kualitas. Sedangkan satu jaring, membutuhkan enam bal.

“Mahal kali sebetulnya modal ke laut itu. Hasil tak seberapa,” ungkapnya pada Jumat, pekan lalu.

Yhati berharap, paling tidak, nelayan kecil seperti ayahnya, bisa mengakses  BBM solar bersubsidi dari pemerintah. Sehingga, modal untuk melaut bisa berkurang sedikit.

Baca:   KIARA Kecam Aksi Brutal Polairud Makassar
Pinjam ke Toke

Jika Nuriadi dan orang tua Yhati melaut pulang hari, berbeda dengan Iqbal (40 tahun) yang memilih pulang sekali seminggu. Ayah dari empat anak yang juga warga Bagan Belawan ini, memfokuskan tangkapan pada kakap dan kepiting.

Iqbal membawa satu unit boat yang disewa dari incek (pakcik: adik ibu). Sistem pebayarannya, bagi hasil tangkap. Ada tiga orang anak buah yang ikut bersamanya.

Setiap kali melaut, setidaknya harus ada modal sebesar Rp3,7 juta. Modal itu digunakan untuk membeli bekalkebutuhan harian seperti beras, sayur, cabe, bawang,  gas, bumbu masak, camilan, dan rokok.Selain itu, untuk membeli solar paling sedikit 120 liter yang dibeli dari agen seharga Rp6.000 per liter. Bekal lain yang wajib dibeli berupa  es batu serta umpan.

Untuk menanggulangi modal yang demikian besar, Iqbal sering meminjam uang kepada toke. Juga pada saat hasil laut sedang tidak baik, modal tak tertutupi, bagi hasil tak terharapkan, maka tokehlah yang menjadi tumpuan harapan.

Saat sedang musim kakap dan kepiting, hasil bersih yang diperoleh antara Rp700.000 hingga Rp800.000 per orang. “Pernah juga sampai satu juta. Tapi, jarang-jarang. Kalau setiap melaut bisa dapat sejuta bersih, tak mungkinlah anak saya putus sekolah,” ungkapnya.

Baca:   Ubah RTRW Jadi Kawasan Pariwisata, Pemkab Pesawar 'Deadline' Tambak Udang Satu Tahun ke Depan

Penduduk daerah Young Panah Hijau, Muhammad Saleh, pun bercerita serupa. Pria yang kini berusia 66 tahun itu, merupakan anak buah salah satu nelayan cumi-cumi yang gajinya dihitung berdasarkan hasil tangkapan.

“Kalau hasil tangkapan bagus, bisalah saya begaji Rp50.000 sampai Rp60.000 sekali turun. Tapi, kalau tangkapan sedikit, atau tak dapat, apa yang mau dibagi?” keluhnya.

Butuh Perhatian Pemerintah

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Medan, Muhammad Isa Albasir,  dalam setiap kesempatan selalu mengeluhkan nasib nelayan yang semakin terpuruk. Sudahlah hasil tangkapan sedikit, BBM solar bersubsidi yang seharusnya jadi hak nelayan pun, sulit untuk diperoleh.

“Benar itu keluhan kawan-kawan nelayan. Modal melaut besar, hasil sedikit. Paling, hanya untuk lepas-lepas makan saja. Padahal, kebutuhan yang harus ditutupi sangat banyak,” ujarnya.

Dia berharap, pemerintah peduli terhadap nasib nelayan kecil. Paling tidak, BBM solar bersubsidi dibagikan tepat sasaran, diterima oleh yang berhak. (OM–Pipo)

Komentar

Berita Lainnya