oleh

Jaga Kualitas Pangan Nasional, Kemenhub Optimalkan Animal Welfare di Angkutan Laut

SIBERINDO.CO – Transformasi transportasi hijau terus menjadi fokus pemerintah dalam menekan emisi karbon sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan untuk masa depan. Di sektor transportasi, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mulai menerapkan konsep Green Port di pelabuhan dan Eco Airport di bandar udara melalui berbagai inovasi yang lebih ramah lingkungan.

Langkah tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi emisi gas buang, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional, dan kualitas pelayanan bagi masyarakat. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mendorong sektor transportasi yang lebih berkelanjutan sejalan dengan target penurunan emisi nasional.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Budi Mantoro, mengatakan salah satu fokus pengembangan Green Port adalah mengurangi emisi yang dihasilkan kapal saat berada di pelabuhan. Menurutnya, selama ini kapal yang sedang sandar tetap harus menghidupkan mesin untuk memenuhi kebutuhan listrik di atas kapal, termasuk untuk mencatu daya peralatan bongkar muat. Kondisi tersebut menjadi salah satu sumber emisi gas buang di kawasan pelabuhan.

“Untuk Green Port, tentunya yang saat ini menjadi perhatian terkait dengan emisi udara ya, gas buang. Jadi, pada saat kapal itu sandar di Pelabuhan itu mesin harus hidup untuk mencatu daya listrik, daya alat muat,” jelas Budi dalam podcast HubTalks episode 24, Selasa (30/6).

Sebagai solusi, sejumlah pelabuhan mulai menyediakan pasokan listrik langsung dari darat (shore power), sehingga kapal tidak lagi bergantung pada mesin diesel selama bersandar. Salah satu pelabuhan yang telah menerapkan sistem tersebut adalah PT Terminal Teluk Lamong di Surabaya. Dengan memanfaatkan pasokan listrik dari darat, konsumsi bahan bakar kapal saat bersandar dapat ditekan sehingga emisi karbon dan polusi udara di area pelabuhan ikut berkurang.

“Saat ini banyak dikembangkan di Indonesia, PLN itu sudah masuk dalam pelabuhan sehingga kapal tidak perlu menghidupkan mesin tapi tinggal sambungkan kabel. Ada beberapa pelabuhan yang sudah, Teluk Lamong sudah seperti itu. Jadi kalau pada saat sandar, kapal tidak perlu menghidupkan mesinnya tinggal pakai colokan dan langsung dikoneksikan,” jelas Budi.

Selain itu, Green Port juga diterapkan melalui pengelolaan limbah kapal yang lebih baik guna mencegah pencemaran laut seperti pengelolaan limbah kotoran manusia (sewage).

“Selain itu, kami selalu sampaikan terkait dengan pencegahan-pencegahan pencemaran pembuangan limbah yang mengandung minyak, pembuangan terkait dengan kotoran manusia, dan lain-lain sudah dipisahkan,” ucap Budi.

Komitmen serupa juga dilakukan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melalui penerapan konsep Eco Airport di berbagai bandar udara. Kepala Subdirektorat Standardisasi dan Kerja Sama Angkutan Udara, Yudhonur Setyaji Paridjo, mengatakan pengembangan Eco Airport dilakukan melalui berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari operasional bandara. Menurut Yudhonur, penerapan konsep tersebut dimulai dari penggunaan teknologi yang lebih hemat energi.

Eco Airport ini menjadi salah satu fokus pengembangan kebandarudaraan di Indonesia. Jadi, penerapannya dirancang sedemikian rupa melalui berbagai upaya. Mulai pastinya menggunakan peralatan yang lebih hemat energi,” ucap Yudhonur dalam kesempatan yang sama, Selasa (30/6).

Ia mencontohkan penggunaan lampu LED yang lebih efisien dibandingkan lampu konvensional, sistem pendingin udara yang dioptimalkan, hingga digitalisasi berbagai layanan penumpang.

“Contoh yang paling gampang, lampu sudah menggunakan LED yang jauh lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan lampu pijar ataupun menggunakan lampu neon. Lalu juga sistem pendingin juga sudah diefisienkan lebih efisien dari yang dulu. Hingga proses digitalisasi untuk pelayanan penumpang,” jelasnya.

Transformasi menuju Eco Airport juga diwujudkan melalui digitalisasi layanan yang memungkinkan penumpang tidak lagi bergantung pada dokumen cetak. Yudhonur menjelaskan, berbagai layanan seperti self check inself bag drop, boarding gate otomatis hingga teknologi face recognition mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi penggunaan kertas.

“Kita tahu kalau naik pesawat ada yang print boarding pass dan lain sebagainya. Kami berharap dengan digitalisasi untuk pelayanan penumpang terutama untuk boarding itu bisa mengurangi penggunaan kertas,” jelas Yudhonur.

“Selain itu, kami juga mendorong untuk self check in di airportself bag drop dalam arti barangnya sudah tinggal ditaruh saja, disiapkan secara otomatis oleh sistem. Di beberapa bandara sudah ada boarding gate. Jadi kita benar-benar tidak perlu lagi pakai boarding pass yang dicetak, hanya menggunakan handphone kita tap atau mungkin menggunakan face recognition yang kami yakini bisa memberikan pelayanan yang lebih cepat, lebih nyaman dan lebih efisien bagi penumpang,” lanjutnya.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sektor transportasi menjadi salah satu sektor yang terus didorong untuk mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca nasional melalui penerapan teknologi rendah karbon, efisiensi energi, dan digitalisasi layanan. Implementasi Green Port dan Eco Airport menjadi bagian dari transformasi tersebut agar sistem transportasi Indonesia semakin ramah lingkungan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Berita Lainnya