oleh

Putra Kepri Jadi Lulusan Terbaik S2 Universitas Harvard AS

TANJUNGPINANG – Andhika Sudarman putra kelahiran Tanjungpinang, Kepri berhasil merampungkan gelar hukum Strata II-nya di di Universitas Harvard, Amerika Serikat dengan prestasi gemilang. 

Tahun ini, Andhika tercatat sebagai alumnus S2 Harvard di Sekolah Hukum Harvard di Cambridge, Amerika Serikat.

Kampus ini bukan sembarang almamater. Ini sekolah hukum nomor satu di dunia. Kampus ini juga pernah meluluskan orang penting macam mantan Presiden AS Barack Obama.

”Dan beruntungnya, saya dan teman-teman sempat tinggal di dorm yang pernah ditinggali Obama,” tutur Andhika lewat sambungan telepon, Selasa (16/6) seperti dikutip luarbiasa.id (grub siberindo).

Beruntung. Itu kata yang berkali-kali pemuda 26 tahun ini ucapkan saat mengenang kesempatannya bisa studi S2 di Harvard.

Ia beruntung bisa menjadi satu dari 800 mahasiswa yang diterima dari ribuan pendaftar setiap tahunnya. Beruntung juga bisa terpilih sebagai anggota Class Marshal yang bukan main ketat eleksinya. Beruntung bisa jadi satu-satunya mahasiswa asal Indonesia yang lulus program S2 di Harvard tahun ini, beruntung bisa menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan Harvard Law School’s Dean’s Award dan berkesempatan menyampaikan pidato kelulusan mewakili teman seangkatan. Semuanya, kata dia, karena dirinya beruntung.

”Ya begitu, Bang, maybe I’m just that lucky,” ujarnya. 

Beruntung barangkali sekadar penyederhanaan. Riwayat hidupnya berkisah lain. Berderet-deret prestasi akademik. Berpanjang-panjang penghargaan. Bertumpuk-tumpuk pengalaman berorganisasi. Pernah pertukaran pelajar ke Jepang. Pernah magang di Singapura. Menerbitkan buku. Menginisiasi proyek. Menjadi pembicara.

Andhika lebih dari beruntung yang ia sebutkan, Andhika sebenarnya mengusahakan mimpinya belajar di Harvard sejak masih duduk di bangku SMAN 1 Tanjungpinang.

”Mungkin mimpi yang keterlaluan buat anak Tanjungpinang,” ucapnya, “Tapi, everyone can dream dan saya set mimpi itu dengan mempelajari langkah-langkah yang bisa membawa ke sana.”

Dan ia menuliskan takarir “Everyone can dream” pada unggahannya di akun Instagram @andhika.sudarman20 bertanggal 29 Mei atau sehari setelah kelulusan yang menampilkan gayanya menirukan pose Barack Obama di lokasi yang sama: di Harvard Law School, di kampus mereka berdua.

Siapa yang tidak ingin menempuh studi di Harvard. Hampir setiap pelajar menginginkannya. Namun, siapkah mental dan tenaga melewati hari-hari di sekolah hukum nomor satu di dunia? Andhika berkisah pengalaman belajar di Harvard adalah pengalaman pendidikan yang tidak pernah didapatkan sebelumnya.

Sebagai mahasiswa hukum, Andhika mesti mendisiplinkan diri membaca kasus-kasus pidana maupun perdata dan kitab-kitab hukum. Paling sedikit, kata dia, seratus halaman. Setiap hari. Setiap sebelum memasuki kelas.

”Karena saat dosen masuk kelas, ia langsung menunjuk mahasiswa untuk menjelaskan kasus dan tanggapannya. Jadi kami lebih banyak diskusi dan berdebat, bukan mengulang materi yang ada di buku,” kenangnya.

Andhika menyebut metode pembelajaran ini sebagai Socrates Message dan metode ini yang harus ditempuhnya selama sembilan bulan sebelum mengantongi gelar Master of Law dari Sekolah Hukum Harvard.

”Orang sana gila hukum banget! Itu yang membuat setiap mahasiswa Harvard Law School tidak bisa bersantai,” tegas Andhika.

Tapi sebenarnya bukan sama sekali tidak bersantai. Andhika mengaku bukan seorang pembelajar yang seharian mengurung diri di asrama. Baginya, perlu ada keseimbangan antara belajar dan membangun jejaring perkawanan. Mungkin itulah karakter Libra: zodiaknya, yang harus menyeimbangkan segala perkara.

Di sela-sela waktu belajar dan rutin menghadiri seminar kampus, Andhika merutinkan diri untuk berkenalan dengan dua orang baru dalam sehari, dari Senin ke Jumat. Bergaul dengan orang baru. Bertukar pengalaman dengan orang dari beragam latar belakang. Harvard adalah tempat pertemuan banyak orang terbaik di bidangnya. Dan Andhika tidak mau melewatkan kesempatan itu.

”Kalau istilah Tanjungpinangnya, saya sering ngopi dengan dua orang baru setiap hari,” ujarnya.

Lingkar pergaulan yang luas membuat Andhika bisa banyak belajar dari pengalaman orang lain. Di Harvard, kata dia, tidak berlaku sukses seorang. Iklim di Harvard adalah kooperatif sekaligus kompetitif.

Artinya untuk berprestasi, perlu berprestasi bersama, untuk sukses perlu sukses bersama. Saling dorong, saling bantu, saling dukung, saling menguatkan.

Maka tidak heran jika dalam pidato perpisahannya, Andhika menyebutkan, “Bagaimanapun, memori saya tentang Harvard bukan tentang gedung-gedungnya; tapi orang-orangnya.”

Mereka, orang-orang dalam lingkar pergaulan, yang membuat Andhika bisa melewati hari-hari di Harvard bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan, penuh tekanan, dan mengruas adrenalin.

Merekalah yang membuat hari-hari Andhika di Harvard justru menjadi rangkaian pengalaman terbaik dalam hidupnya.

”Sehingga saya tidak pernah merasakan stres selama di Harvard. Sejak hari pertama sampai hari kelulusan. Benar kata orang, lingkungan akan mempengaruhi cara pandang kita, dan lingkungan saya di Harvard yang sangat kooperatif membuat saya benar-benar bisa beradaptasi,” aku Andhika.

Termasuk kulinernya? “Haha … tenang di sana, di kantinnya, ada tempe kok, makanan kita banget, kan.”

Generasi Mati Lampu

Ada rahasia umum di dunia: setiap lulusan Sekolah Hukum Harvard punya prioritas diterima kerja di Amerika Serikat. Ijazah Harvard adalah garansi mutu.

Jika dibayangkan, lulusan Harvard bisa masuk ruang HRD dengan tegak kepala dan busung dada. Konon, gaji yang ditawarkan untuk mereka mencapai 200 ribu Dolar AS atau sekitar Rp3 miliar per tahun, dan itu belum termasuk bonus tambahan.

”Begitu sih yang saya dengar dari teman-teman dan senior saya,” kata Andhika.

Namun, akhir Mei lalu, Andhika memutuskan pulang ke Tanah Air. Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya di Indonesia yang gagal terbang ke AS karena pandemi.

Selain itu, ia juga mengaku belum punya rencana jangka panjang untuk kerja di AS atau di mana-mana perusahaan di belahan dunia.

”Kangen Indonesia, kangen Tanjungpinang,” ungkapnya.

Walau begitu, Andhika tidak ingin berlarut bersantai. Ijazah Harvard bukan berarti garis finis dari segala yang sudah diupayakannya. Justru sebaliknya, ijazah itu adalah bendera start untuk memulai pengalaman lain, pengabdian lain, pekerjaan lain.

Saat ini, Andhika dan koleganya sedang merintis proyek sejutacita.id. Ini adalah saluran digital yang dikembangkan sebagai sarana berbagi inspirasi kepada generasi muda Indonesia.

Seperti namanya, Andhika berharap rintisannya ini bisa menginspirasi sekaligus memotivasi agar setiap anak muda berani bermimpi apa saja dan memperjuangkannya.

Dalam sejutacita.id, Andhika juga ingin menekankan pentingnya pendidikan lain yang tidak didapat di bangku sekolah. Mulai dari penguatan kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, dan empati.

”Sesuai dengan jargonnya: eksplorasi, motivasi, prestasi. Saya mengajak teman-teman saya dari mana saja untuk berbagi cerita dan inspirasi di kanal itu, semacam draw my life gitu,” jelasnya.

Andhika tidak menampik proyek yang sedang dibangun ini lebih fokus ke bidang pendidikan dan bukan hukum, sebagaimana studi mayor yang digelutinya.

”Modal saya karena saya suka pendidikan dan mungkin dari pengalaman saya selama ini ada hal yang bisa dibagikan, mengapa tidak?” bebernya.

Bisa jadi kesadarannya terhadap pendidikan ini terasah dari pengalamannya sepuluh tahun lalu saat masih berstatus sebagai siswa SMA di Tanjungpinang.

Saat itu, infrastruktur kelistrikan di Tanjungpinang belum sebaik sekarang. Dalam sehari, bisa mati lampu dua-tiga kali. Berjam-jam pula. Kondisi ini bikin kesal. Andhika jadi susah membaca, susah belajar, susah mengulang pelajarannya.

”Mandi pun susah. Mesin air tak jalan,” kenangnya.

Situasi ini membuatnya tak segan mendapuk diri sebagai generasi mati lampu. Walau begitu, yang byar-pet cuma listrik, tidak dengan semangatnya untuk menyusun kepingan anak tangga yang membawanya sampai ke Harvard.

Dan yang tetap menjaga api semangat itu tetap menyala adalah inspirasi, dari orang tuanya, dari kakaknya, dari orang-orang sukses yang berbagi inspirasi di biografinya.

”Teori itu bisa dipelajari, tetapi inspirasi yang menggerakkan,” tegasnya.

Dari Tanjungpinang, ke Jakarta, ke Singapura, ke Tokyo, ke Amerika Serikat, inspirasi itu menjadi sesuatu yang disimpan dalam dada, sesuatu yang menggerakkan raganya mengejar apa yang dicita-citakannya. Tak peduli seberapa pun lebar jurang keterbatasan bisa diseberangi.

”Asal dengan strategi dan pendekatan metode yang tepat. Saya berharap sejutacita.id itu membantu menyalakan api semangat anak-anak muda Indonesia,” ungkapnya.

Dan pastinya juga anak-anak Tanjungpinang. ”Karena saya tumbuh dengan minum air Tanjungpinang dan saya tidak pernah malu mengaku sebagai anak Tanjungpinang. Kota kita biarpun kecil itu cantik dan asyik kan, Bang?”

Itu yang selalu Andhika bangga-banggakan kepada teman-temannya di Harvard dan tanpa ragu mengajak mereka untuk datang ke Tanjungpinang. ”Biar mereka tahu rasa gonggong kita,” ia tertawa.(tih/luarbiasa)

Komentar

Berita Lainnya