oleh

Firdaus: Meniti Jalan Sunyi Untuk Hidupkan Media Kecil

JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan perayaan ulang tahun ke-7 Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Firdaus, Ketua Umum SMSI, muncul sebagai figur sentral yang menyedot perhatian para peserta dan tamu undangan.

Kehadiran Firdaus dalam dua agenda besar yang berlangsung berdekatan itu tidak hanya sebagai tuan rumah, tetapi juga menjadi sosok yang paling dibicarakan. Firdaus berhasil membangun jalinan erat dengan peserta, dia tak henti-hentinya menyambut hangat setiap orang yang hadir. Sapaan ramah dan senyum tulusnya menciptakan kesan mendalam.

Seorang tokoh pers senior bahkan sengaja datang ke Rakernas SMSI di Ancol hanya untuk bertemu Firdaus, meski tanpa undangan resmi. Ketertarikannya pada Firdaus, yang dikenal dengan kiprahnya di SMSI, membuatnya merasa perlu bertatap muka langsung.

Tidak hanya itu, beberapa tokoh media lainnya juga tergerak untuk bertemu langsung dengan Firdaus, meski hanya mengetahui namanya tanpa pernah berjumpa sebelumnya. “Mana pimpinan SMSI Firdaus?” tanya seorang tokoh, tanpa sadar bahwa Firdaus sudah berada tepat di depannya.

Baca Juga:   Ancam Kebebasan Pers, SMSI Diminta Berperan Aktif dan Kawal Revisi UU ITE

Dalam pidatonya di acara tersebut, Firdaus menjadi pembicara yang paling dinantikan. Gagasan yang disampaikannya, khususnya mengenai tantangan yang dihadapi media kecil di era digital, menarik perhatian banyak pihak. Firdaus menekankan pentingnya strategi adaptif untuk memastikan kelangsungan hidup lebih dari 2.000 perusahaan media yang tergabung dalam SMSI.

Keteguhan Firdaus dalam menghadapi perubahan dan keberaniannya menetapkan target ambisius menjadikannya sumber inspirasi bagi anggota SMSI di seluruh negeri. Meskipun SMSI kini dikenal sebagai organisasi pengusaha pers terbesar, peran Firdaus sebagai penggerak utama tetap krusial. Prestasi yang diraih SMSI hingga melampaui target strategisnya merupakan bukti nyata dari dedikasi dan kegigihannya.

Di era di mana hasil kerja dinilai dari tindakan nyata, Firdaus membuktikan kalau tidak hanya mahir berbicara, tetapi juga cakap dalam mewujudkan visi organisasi. Ia tak sekadar memimpin, melainkan menjadi contoh teladan dalam meraih tujuan bersama.

Kantor pusat SMSI yang berlokasi di Jalan Veteran II, Jakarta Pusat, menjadi saksi dari perjuangan Firdaus. Lokasinya yang strategis, dekat dengan pusat pemerintahan, mencerminkan peran penting Firdaus dalam pengambilan kebijakan terkait industri media.

Baca Juga:   Firdaus Ansueto Kembali Terpilih Pimpin SMSI untuk Periode 2024-2029

Bagi Firdaus, media kecil tetap memiliki posisi strategis meskipun kerap dipandang sebelah mata. Ia menyadari bahwa di tengah revolusi informasi, perbedaan antara media besar dan kecil semakin tipis, dan keduanya memainkan peran penting dalam ekosistem informasi.

Namun, Firdaus juga dihadapkan pada tantangan besar, terutama dengan adanya regulasi baru seperti Perpres tentang Publisher Right yang berpotensi mengancam kebebasan pers dan eksistensi ribuan media startup. Meski demikian, Firdaus tetap tabah menghadapi keputusan tersebut sebagai bagian dari proses perjuangan.

Penerbitan Perpu UU Kedaulatan Digital, menurut Firdaus, menjadi langkah penting dalam memastikan adanya kerangka hukum yang sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. “Ini tidak hanya akan melindungi kepentingan media startup, tetapi juga memastikan keberlangsungan mereka di tengah persaingan yang semakin ketat,” ujar Firdaus.

Dalam kompleksitas tantangan yang dihadapi, Firdaus tetap teguh menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang visioner. Dedikasinya untuk memperjuangkan kebebasan pers dan memajukan industri media terus menyala.

Baca Juga:   Temu Kangen, Mayjen TNI Joko Warsito Sambangi Markas SMSI

Firdaus sangat memahami perjuangan yang dihadapinya karena ia sendiri adalah seorang pengusaha media. Sudah satu dekade lebih ia menggeluti dunia ini, sembari mengajar sebagai dosen.

Kesibukan Firdaus di dunia jurnalistik dan akademik tidak pernah mengurangi semangatnya. Namun, pada tahun keenam perjalanannya, ia memutuskan untuk fokus penuh pada profesi sebagai wartawan.

Memasuki era reformasi, Firdaus mendirikan Tabloid Gempur. Meskipun tabloid ini hanya berumur pendek, pengalaman pertama bersentuhan dengan industri media mendorongnya untuk melangkah lebih jauh. Akhirnya, pada pengujung 2019, ia mendirikan Majalah TERAS, yang pertama kali terbit di Banten pada Januari 2000, sebelum provinsi itu resmi berdiri.

“Bersyukur, TERAS kini telah berkembang ke berbagai bidang usaha, meskipun belum sebesar yang diraih Dahlan Iskan atau Alwi Hamu,” kata Firdaus.

Semangatnya untuk terus bertahan dan mengembangkan usaha tak pernah surut.

“Salah satu proyek yang kami jalankan adalah Journalist Boarding School, yang juga menjadi topik penelitian seorang sahabat yang sedang mengejar gelar doktor,” tambah Firdaus, menutup ceritanya. (ihd)

Berita Lainnya