GIRI MENANG – Buruknya indeks kekuatan tanah atau geological strength index (GSI) di tiga lokasi proyek penataan kawasan wisata Senggiggi yang longsor, harus mendapat perhatian. Terutama saat bekas longsor ini akan diperbaiki.
“Jangan lagi menggunakan batu semen, karena abrasi yang begitu kuat dan cukup tinggi di pesisir pantai,” kata Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB Kusnadi pada Lombok Post, Kamis (18/3/2021).
Selain itu, perbaikan menggunakan talud juga tidak disarankan, karena kondisi tanah di lokasi longsor sangat rapuh.
“Secara teori ada beberapa penanganan. Bisa menggunakan bronjong atau beton. Termasuk bisa penguatannya dengan paku bumi,” katanya.
Namun, lanjut Kusnadi, ini tetap tergantung pada pemodelan teknik sipilnya.
Geotek biasanya akan merekomendasikan berdasarkan kekuatannya. Nanti ahli sipil yang memetakan pemodelannya.
“Perbaikan bisa mempertimbangkan penggunaan paku bumi kombinasi bronjong atau paku bumi kombinasi beton,” sarannya.
Dengan ketinggian yang ada, kata Kusnadi, tidak memungkinkan menggunakan bronjong murni. Karena bronjong itu harus dibuat dari bawah ke atas.
”Harus diperhatikan juga jenis dan bahan dari bronjongnya,” tuturnya.
Pengombinasian itu bisa dengan paku bumi. Cara ini bisa juga dengan mengebor lapisan tanah hingga menemukan batuan fresh di beberapa titik untuk menjadi penahan.
Setelah itu, kata Kusnadi, baru bisa nanti dibeton atau bronjong dipasangkan paku bumi.
Tergantung perhitungan kekuatan tebing di lokasi longsor. Sampai dengan faktor lainnya aman.
”Paku bumi inilah yang nanti akan menahan,” terangnya.
Penanganan ini harus dilihat model pelapisannya tanah juga. Apa berdiri di batuan yang tidak fresh atau gimana.
Kalau ini berdiri di atas batuan tidak fresh, bisa menjadi bidang gelincir.
”Rata-rata ini homogen, karena breksi. Artinya yang membedakan bagian permukaannya,” tuturnya.
Apalagi dengan lapisan susunan tanah di kawasan Senggigi berasal dari lapisan breksi vulkanik.
Walaupun memang ada beberapa tebing breksi vulkaniknya segar. Jadi masih mengikat partikel satu dengan partikel lainnya.
“Kalau keras, masih akan bisa bertahan. Walaupun alami abrasi, masih bisa bertahan. Lapisan tanahnya mulai tidak bagus disebabkan tekanan air dan tekanan lainnya,” tuturnya.
Saat ditanya terkait bangunan baru, Kusnadi menerangkan bangunan baru bisa juga mempengaruhi.
Namun untuk memastikan itu, harus mengetahui perencanaan awal pengembangan ini bagaimana. Sehingga diketahui, sudah diperhitungkan atau tidak.
Termasuk penambahan bahan di lokasi apa melebihi atau tidak. Kuncinya di perencanaan proyek tersebut.
”Saya belum melihat langsung bagaimana perencanaan awalnya termasuk pembebanan seperti apa,” jelasnya.
Apalagi bila memang terbukti tebing ini ada tambahan buatan manusia seperti tebing yang dibuat untuk jalan dan ada penambahan beban. Ini juga akan menambah daya dorong dari longsor tersebut.
”Ini harus dihitung juga secara seksama, apakah beban baru ini besar mempengaruhi daya dorong,” tambahnya.
Bila ada kondisi ini, maka kelerengan harus diperhatikan. Apakah ada pengaruh bagian bawah atau tidak. Sebab lokasi longsor berdekatan sekali dengan pantai.
“Seperti apa intensitas abrasinya juga harus dicek. Termasuk harus dicek apakah batuan menggantung atau masih ada kemiringan. Kalau menggantung lebih dari 90 derajat kemiringannya,” jelasnya.
Sebelumnya, dosen Universitas Muhammadiyah Mataram Aji Syailendra menerangkan GSI di tiga lokasi longsor buruk.
Nilai uji GSI itu antara 33 hingga 44. Ini di bawah angka 60 yang masuk kategori buruk. ”Kalau GSI buruk, harus dilakukan peningkatanan keamanan,” kata dia. (*/cr4)
Sumber : lombokpost.jawapos.com











Komentar