.SAMARINDA — Di tengah Covid-19, sejumlah pejabat diboyong Walikota Syaharie Jaang keluar kota. Pertama rombongan pejabat dibawa ke Yogyakarta, Jawa Tengah. Perjalanan selanjutnya, mereka langsung menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Perjalanan pun berlangsung selama satu minggu.
Di tengah wabah Covid-19 kunjungan keluar kota dinilai terlalu berlebihan. Apalagi sejak awal Covid-19, Pemkot Samarinda sangat mengencangkan ikat pinggang. Termasuk kegiatan pembangunan, banyak direm untuk menyiapkan penanganan Covid-19. Namun setelah pengesahan APBD Perubahan, kegiatan kembali berjalan normal.
Termasuk kegiatan dinas ke luar kota. Tren ini bukan hanya terjadi di Samarinda, namun sejumlah daerah juga mulai menormalkan lagi kegiatannya.
Sekretaris Kota (Sekkot) Sugeng mengatakan, kunjungan mereka tak sekadar jalan-jalan. Namun ia justru ingin mengadopsi manajemen kas masjid yang bisa nol persen.
“Seperti di masjid Al Falah, kasnya nol, tapi bisa membantu orang-orang sekitarnya,” tuturnya.
Meski sistem itu tak bisa diwujudkan secara langsung, Sugeng berkeyakinan mengubah sistem memang bukan hal yang sebentar. “Tapi kan bisa kita wujudkan pelan-pelan,” urai Sugeng.
Selanjutnya, Sugeng menjelaskan kunjungannya ke Lombok, NTB bertujuan untuk meresmikan Masjid Baiturrahman dan Asrama Santri Pondok Pesantren Al-Islah. Pembangunan tersebut merupakan hasil dari sumbangan masyarakat Samarinda, atas bencana gempa yang menimpa Lombok pada 2018.
Walikota Syaharie Jaang diminta hadir secara langsung menyaksikan peresmian Masjid Baiturrahman dan Asrama Santri Pondok Pesantren Al-Islah, yang letaknya di Desa Dopang, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), bersama Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid, pada Selasa (17/11/2020) lalu.
“Sumbangan masyarakat Samarinda cukup besar sampai Rp400 juta, makanya Pak Wali diminta hadir ke sana,” tuturnya.
Ia pun meyakinkan, kunjungan ke dua daerah merupakan kegiatan yang penting dilakukan. Lantaran telah diagendakan sebelumnya dalam kegiatan selama satu tahun.
“Yang pasti ada yang kami adopsi dalam kunjungan kerja tersebut, terutama di Jogja itu, karena urusannya manajemen, kas masjid bisa sampai nol persen,” pungkas Sugeng. (hub/ben)










Komentar