oleh

Seriusi Pembudidayaan Lobster, NTB Bisa Hasilkan Rp200 Miliar Setahun

Komoditas ini memiliki peran penting dari segi ekologi dan ekonomi untuk NTB. ”Kita punya benur sekian banyak dengan potensi yang amat besar untuk dimanfaatkan,” ujarnya disela-sela kegiatan pelatihan nelayan di Teluk Ekas, Desa Ekas Buana, Jerowaru, Kamis (18/2/2021).

Dijelaskan, potensi benih lobster di NTB sekitar 7,1 juta ekor. Pada tahap pendeder satu, lobster bisa dijual seukuran 50-100 gram seharga Rp250 ribu per kilogram. Sedangkan pada tahap pendeder dua atau tahapan siap dikonsumsi, lobster dijual mulai ukuran 200 gram seharga Rp400 ribu. Dari posisi awal 7,1 juta ekor, pada tahap ini lobster diperkirakan tersedia sekitar 200 ribu kilogram. Jika stok dikalikan harga konsumsi, maka potensi keuntungan atau perputaran uang yang ada mampu mencapai minimal Rp80 miliar per siklus dalam kurun waktu 8-9 bulan. ”Ini hitungan jumlah paling rendah dengan sudah dikurangi potensi kematiannya,” kalkulasinya.

Baca:   SBY Minta Presiden Macron Hentikan Pembuatan Karikatur Nabi Muhammad

Itu baru harga untuk lobster jenis pasir. Untuk lobster jenis mutiara justru bisa lebih fantastis. Jika sudah di tingkat konsumsi harganya mencapai Rp 1 juta per kilogram. Stok minimal diperkirakan 100 ribu kilogram. Keuntungan tentu mampu menyentuh angka Rp100 miliar.

Angka ini baru diperoleh dari satu lokasi dengan 256 keramba jarring apung (KJA). Belum lagi jika ditambah dengan lokasi budidaya lobster di kawasan lainnya. seperti di Elong-Elong, Gili Rei, Pantai Keranji, Gili Beleq dan sebagainya. Artinya, secara keseluruhan potensi lobster di NTB mampu mencapai Rp180–200 miliar per tahun.

Baca:   Sembilan dari 10 Kabupaten/Kota di Kaltim Zona Merah

”Kalau digabung seluruhnya, bayangkan berapa potensi ekonomi yang bisa berputar di NTB hanya dari lobster saja,” paparnya.

Menurutnya, dengan potensi yang besar, plus penduduk yang cukup banyak, menjadikan peluang pemasaran NTB juga terbuka lebar. Tak lagi menyasar mancanegara, sudah saatnya NTB melirik potensi penjualan untuk wisatawan lokal dan domestik. Terlebih, aturan standar ekspor masa Korona yang makin diperketat Tak heran jika China sudah mencoret 60 eksportir lobster yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ia mencontohkan, selama Oktober sampai November saja, 2.100 wisatawan lokal dan domestik berkunjung untuk menikmati hidangan lobster di sana. Menyerap habis seluruh stok lobster milik pembudidaya. Dari sini kata dia, pun bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang besar. ”Inilah yang saya buktikan, bahwa orang lokal pun sekarang mampu beli lobster, lantas kenapa bersikeras harus ekspor? Dengan beragam aturan yang banyak dan ribet itu,” tegasnya.

Baca:   Waspada TBC! Hingga September Penderita Capai 443 Orang, 8 Meninggal

Sahdan Ahmad, salah satu nelayan mengatakan, kegiatan budidaya lebih menguntungkan pihaknya. Jika ekspor, ia memang mampu mengantongi Rp700-800 ribu dalam sehari. Dengan harga benur pasir dijual Rp 10 ribu per ekor. Sedangkan benur mutiara Rp 20-25 ribu per ekor. Namun, jumlah tersebut dirasa lebih cepat habis. Lantaran teralokasi untuk biaya operasional dan mengganti sejumlah peralatan yang rawan hilang. ”Dapat uang sedikit-sedikit, tapi uangnya tak terarah,” keluhnya.

Berbanding terbalik dengan kondisi jika menjadi pembudidaya. Tiap panen dalam 7-8 bulan, ia mampu mengantongi Rp100 juta. Sembari menunggu panen, pihaknya biasa menjaring jenis ikan lainnya.

”Jadi sangat menguntungkan sebenarnya budidaya ini, daripada kita tangkap benur untuk ekspor,” imbuhnya. (*/cr4)

 

Sumber : lombokpost.jawapos.com

Komentar

Berita Lainnya