oleh

Yuk, Garap Bisnis Limbah Perikanan!

JAKARTA – Indonesia kaya akan kekayaan alam baharinya. Sektor maritim belum digarap dengan maksimal. Padahal, selain Ikan dan kekerangan yantg memiliki nilai ekonomis yang baik, limbahnya juga memiliki nilai ekonomi tinggi bila diolah menjadi produk berdaya guna. Bisa dijadikan aksesoris, perlengkapan rumah tangga, furniture dan berbagai produk lainnya yang menarik.

Kini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan Perikanan (PDSPKP) mendorong masyarakat untuk memanfaatkan limbah kulit ikan dan cangkang kekerangan sebagai ladang usaha (bisnis).

Dirjen PDSPKP Nilanto Perbowo

“Ini bisa menimbulkan semangat baru bagi sumber pertumbuhan ekonomi dari sektor perikanan,” ujar Dirjen PDSPKP Nilanto Perbowo dalam webinar Mendulang Rupiah Melalui Pemanfaatan Cangkang Kerang dan Kulit Ikan, Selasa (18/8/2020).

Menurutnya limbah kulit ikan dan cangkang kerang merupakan produk berdaya guna dan sudah dibuktikan oleh sejumlah pelaku usaha di Indonesia.

Hanya saja, sampai saat ini belum banyak yang menekuni. Padahal bahan baku limbah sangat berlimpah dan harganya pun murah. Bahkan ada yang diperoleh secara cuma-cuma.

Saat ini lalu lintas pengiriman cangkang kerang maupun kulit ikan ke berbagai daerah di Indonesia semakin tinggi dan itu untuk bahan baku produksi.

Kata Nilanto, produk yang dihasilkan dari cangkang kerang dan kulit ikan kebanyakan berbasis kreativitas dan lifestyle. Seperti tas, dompet, sepatu, ikat pinggang, gelang, hingga perabotan rumah tangga di antaranya vas bunga, hiasan lampu, tirai, dan pigura.

Segmen pasar produk-produk tersebut umumnya kelas menengah ke atas yang lebih mementingkan kualitas bukan harga. “Tinggal tantangannya bagaimana membuat dan mendesain produk yang sesuai dengan selera konsumen. Diperlukan kreativitas dan imajinasi serta kejelian membaca tren saat ini. Perlu juga standar yang tepat agar produk yang digunakan aman bagi kesehatan, mengingat bahan bakunya adalah limbah,” terang Nilanto.

Memanfaatkan cangkang kerang dan kulit ikan sebagai produk berdaya guna juga bermanfaat untuk menjaga lingkungan dengan mengurangi limbah kulit ikan dan cangkang kerang yang berpotensi menimbulkan bau tak sedap dan penyakit bila dibiarkan menumpuk.

“Kami yakin, peluang usaha untuk kekerangan dan kulit ikan ini terbuka sangat lebar. Dan ini peluang bisnis bagi kita semua,” sebutnya.

Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (DWP KKP) Iis Edhy Prabowo mengakui bahwa mengolah cangkang kerang dan kulit ikan menjadi produk berdaya guna merupakan bisnis menjanjikan saat ini dan kedepannya. Menurutnya, di Ambon sudah banyak yang membuktikan seperti Ketua Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Sweet Hatukau, Hamdja Liem.

Semula Hamdja mengolah kulit kerang yang didapat gratis menjadi bros dan hiasan dinding. Sebanyak 1 kilogram kulit kerang bisa untuk memproduksi 60 unit bros. Harga paling murah Rp5 ribu/unit. Sedangkan harga hiasan dinding bisa mencapai Rp8 juta, dengan material kulit kerang yang dibutuhkan jauh lebih banyak dan waktu membuatnya pun lebih lama. Kulit kerang yang tadinya tidak bernilai, saat ini harganya Rp60 ribu per kilogram.

“Ini mesti menjadi inspirasi bersama untuk memajukan produk lokal, utamanya kerajinan kulit ikan dan cangkang kerang yang punya kualitas unik dan menarik,” ujar Iis.

Iis yang juga anggota Komisi VI DPR RI mengungkap, pemerintah dan parlemen memberikan dukungan penuh untuk kemajuan UMKM di Indonesia. Berupa kemudahan kredit hingga perizinan.

“Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang sudah diresmikan Pak Presiden Joko Widodo pada Mei lalu juga sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penggunaan produk-produk lokal,” pungkasnya.(*/arl)

Komentar

Berita Lainnya