oleh

Dari KRL hingga Bus Listrik, Upaya Indonesia Wujudkan Udara Lebih Bersih

SIBERINDO.CO – Kemacetan sering kali menjadi hal pertama yang terlintas ketika membicarakan transportasi perkotaan. Namun, selain mengatasi antrean kendaraan yang mengular setiap hari, kualitas udara pun jadi persoalan serius.

Sektor transportasi darat masih menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di kawasan perkotaan. Karena itu, upaya mengurangi polusi tidak cukup hanya dilakukan melalui pembatasan kendaraan pribadi. Perubahan juga harus dimulai dari penyediaan transportasi publik yang semakin bersih, efisien, dan mampu menarik lebih banyak masyarakat untuk beralih moda.

Tercatat pada 2024 sektor transportasi menghasilkan sekitar 157 juta ton CO₂, dengan sekitar 137 juta ton atau 87% di antaranya berasal dari transportasi darat. Sebaliknya, sektor perkeretaapian hanya menyumbang sekitar 1% emisi atau 0,95 juta ton CO₂.

Executive Director of Transport for Jakarta, Adriansyah Yasin Sulaeman mengatakan transportasi umum memiliki posisi penting dalam menjawab tantangan tersebut.

“Di Jakarta, transportasi menyumbang lebih dari setengah emisi gas rumah kaca di kota ini. Kayaknya kalau buka AQI (Air Quality Index) meter itu Jakarta balapan terus kadang peringkat satu, peringkat dua, atau peringkat tiga dalam segi kualitas udara. Makanya transportasi umum menjadi salah satu solusi yang paling penting,” ujarnya dalam podcast HubTalks, Selasa (30/6).

Menurut Adriansyah, sebenarnya Indonesia telah memiliki moda transportasi listrik jauh sebelum isu kendaraan listrik menjadi perhatian dunia.

“Sebelum kita punya mobil listrik, KRL itu sudah listrik, Guys. Dan umurnya sudah hampir 100 tahun. Jadi sebetulnya itu solusi yang paling mudah untuk terus dikembangkan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujar Adriansyah.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transformasi menuju transportasi rendah emisi bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Tantangannya justru terletak pada bagaimana memperluas pemanfaatannya agar semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Sejalan dengan hal tersebut, Plt. Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB), Reza Hertantyo, menilai bahwa keberhasilan transportasi rendah emisi tidak hanya bergantung pada pengembangan teknologi maupun infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi publik menjadi kunci agar upaya pengurangan emisi dapat berjalan optimal.

“Perubahan perilaku masyarakat adalah kunci utama. Infrastruktur canggih tidak akan memberikan dampak optimal tanpa perubahan budaya dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Masyarakat pasti akan mau berubah jika transportasi publik aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu, dan mudah diakses,” ujar Reza dalam podcast HubTalks episode 21 sebelumnya.

Adriansyah mencontohkan pengalaman Beijing yang pernah menghadapi persoalan kualitas udara serupa dengan Jakarta.

“Sepuluh tahun lalu Beijing juga punya masalah yang mirip. Keluar rumah rasanya malas karena udaranya benar-benar butek. Akhirnya mereka memutuskan membangun sistem transportasi umum secara masif supaya masyarakat mau shifting ke transportasi umum,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini hasil pembangunan tersebut mulai terlihat. “Sekarang orang-orang bilang langit Beijing sudah jauh lebih biru. Transformasi emisinya benar-benar kelihatan,” sambungnya.

Pengalaman tersebut dapat memberikan optimisme bahwa kota-kota di Indonesia juga memiliki peluang yang sama apabila pembangunan transportasi publik dilakukan secara konsisten.

“Kalau pembangunan KRL, MRT, LRT, dan moda transportasi umum lainnya terus dilanjutkan, itu akan menjadi tulang punggung baru masyarakat untuk shifting dari kendaraan pribadi,” ucap Adriansyah.

Transformasi tersebut kini juga mulai diarahkan pada moda transportasi jalan. Menurut Adriansyah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan target agar seluruh armada bus, termasuk Mikrotrans, menggunakan tenaga listrik pada 2030 mendatang.

“Targetnya tahun 2030 itu 100% bus listrik. Bahkan sampai Mikrotrans juga sudah harus listrik.”

Menurutnya, elektrifikasi angkutan umum menjadi langkah penting karena manfaatnya tidak hanya dirasakan pengguna transportasi, tetapi juga masyarakat secara luas melalui kualitas udara yang lebih baik.

Menurut Konten Kreator Transportasi Publik, Arif Ardiansyah manfaat menggunakan transportasi umum sebenarnya dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Selain mengurangi konsumsi bahan bakar, ia menilai penggunaan transportasi umum juga memberikan manfaat kesehatan.

“Ketika naik KRL atau Transjakarta, kita dipaksa lebih banyak jalan kaki. Mau tidak mau kita bergerak lebih banyak. Jadi secara tidak langsung kita juga lebih sehat,” ujar Arif dalam podcast HubTalks, Selasa (30/6).

Kebiasaan sederhana seperti memilih tangga dibanding eskalator saat berpindah peron pun, menurutnya menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih aktif.

Adriansyah mengakui bahwa transformasi menuju transportasi rendah emisi memang membutuhkan waktu. Namun, ia optimistis arah pembangunan Indonesia sudah berada di jalur yang tepat.

“Kalau kita bisa terus mengembangkan KRL, MRT, LRT, dan elektrifikasi angkutan umum, saya rasa itu akan menjadi salah satu jawaban untuk memperbaiki kualitas udara kota-kota kita,” ujarnya.

Upaya mewujudkan transportasi berkelanjutan juga diperkuat melalui berbagai kebijakan pemerintah. Komitmen tersebut telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Rencana Strategis Kementerian Perhubungan, hingga Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 8 Tahun 2023 tentang Mitigasi Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca. Melalui kebijakan tersebut, Kementerian Perhubungan terus mendorong terwujudnya sistem transportasi yang efisien, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, perjalanan menuju langit yang lebih biru bukan hanya ditentukan oleh teknologi kendaraan listrik ataupun pembangunan jaringan transportasi baru. Perubahan itu juga lahir dari jutaan keputusan sederhana yang diambil setiap hari, seperti memilih naik KRL, bus, MRT, atau LRT dibanding kendaraan pribadi. Ketika pilihan tersebut dilakukan secara kolektif, transportasi publik tidak lagi sekadar menjadi sarana mobilitas, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.

Berita Lainnya