oleh

Keluarga Fransisco Minta Enam Oknum Prajurit TNI AL Dihukum Setimpal

PURWAKARTA – Keluarga Fransisco Manalu (40) korban penculikan dan pembunuhan oleh enam oknum prajurit TNI AL, menuntut keadilan dan meminta para pelaku dihukum seberat-beratnya.

Hal itu disampaikan Jhonisah Pandapotan Manalu, ayah kandung Fransisco dalam wawancara langsung yang disiarkan Kompas-TV, Jumat (18/6/2021) sore.

Sebelumnya, Komandan Puspomal Laksamana Muda TNI Nazali Lempo melalui jumpa pers menjelaskan, pihaknya telah menangkap dan menangani enam prajurit yang main hakim sendiri itu.

Dalam waktu cepat, kata Nazali, berkas kasus ini dilimpahkan ke Pengadilan Militer.

Ia juga menjelaskan kronologi kejadian yang, menurutnya, bermula dari kasus dugaan pencurian mobil milik keluarga calon istri salah seorang prajurit yang terlibat penculikan dan penganiayaan itu.

Pihak keluarga membantah jika Fransisco dituduh terlibat pencurian. Pada saat diculik, Fransisco sedang bekerja di tempat kerjanya, sebuah usaha jasa pencucian mobil di Purwakarta.

Baca:   Ratusan Kayu Tanpa Dokumen Disita

Francisco Manalu diketahui merupakan korban penculikan sekelompok orang tak dikenal.

Saat itu, Fransisco sedang bekerja, mencari nafkah di tempat kerjanya Steam cuci Mobil Trijaya, Purwakarta.

Tiba-tiba sekelompok lelaki datang dan membawanya pergi menggunakan mobil plat nomor T 1284 BP, 29 Mei lalu.

Sejak itu jejaknya tak diketahui. Pihak keluarga melapor ke polisi setempat, sampai akhirnya terungkap Fransisco ternyata sudah meninggal.

Nyawanya diduga kuat dihilangkan di lokasi Wisma Atlet Dayung Jatiluhur Purwakarta.

“Anak saya meninggal dunia di sana. Padahal wisma itu milik negara. Fasilitas itu dijadikan tempat eksekusi manusia tidak berdosa,” kata Jhonisah Pandapotan Manalu, sang ayah, Kamis (17/6/2021).

Jhonisah Pandapotan Manalu mengaku dalang pembunuhan terhadap anaknya itu sudah ditahan.

Baca:   Polisi Duga Pembunuhan Warga Sigi Ulah Kelompok Teroris Ali Kalora

“Aktor intelektualnya bernama Rasta sudah ditahan di Polres Purwakarta sejak Selasa, 15 Juni 2021. Kami sekeluarga berterima kasih kepada Polres Purwakarta,” katanya.

Pihak keluarga mendesak agar semua pelaku yang terlibat dalam penganiayaan terhadap kerabatnya dihukum mati.

Mereka tidak menerima Francisco Manalu (40) harus meninggal dengan cara mengenaskan.

“Kami meminta keadilan, bila perlu hukum mati para pelaku penganiayaan terhadap keluarga kami. Apalagi korban masih memiliki istri dan dua anak,” kata keluarga korban, Anggiat, Jumat (18/6/2021).

Dia juga berterima kasih kepada aparat keamanan baik TNI mapun Polri yang sudah mengungkap kematian Francisco.

Harapannya, kasus penganiayaan ini bisa segera tuntas hingga ke akar-akarnya, termasuk menghukum aktor intelektualnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, kasus penganiayaan ini berawal saat RA yang menyuruh AD untuk mencuci mobil di tempat pencucian kerabatnya di Jalan Ipik Gandamanah, Purwakarta.

Baca:   Ungkap Kasus Penculikan, 26 Polisi Klaten Dapat Penghargaan Kapolres

Namun, dikabarkan mobil tersebut hilang. AD pun kemudian menginformasikan kepada RA.

Selang berberapa lama kemudian AD dan Fransisco itu dibawa oleh seseorang yang diduga oknum anggota TNI AL hingga akhirnya diketahui Francisco sudah meninggal.

Kapolres Purwakarta AKBP Ali Wardana menyebutkan bahwa kasus ini sudah dalam penyidikan.

Danpuspomal, Laksamana Muda TNI Nazali Lempo mengatakan setelah penahanan akan dilanjutkan proses ke Pengadilan Militer.

Sebelumnya dilaporkan, pada hari Sabtu (29/05/2021) pukul 19.00 WIB terjadi penculikan terhadap dua warga sipil di tempat cuci kendaraan di Munjul Jaya, Purwakarta, Jawa Barat.

Penculikan dan penganiayaan itu dilakukan enam anggota TNI AL yakni, MFH, WI, YMA, BS, SMDR dan MDS. (*)

Komentar

Berita Lainnya