PONTIANAK – Dalam dua bulan terakhir, harga komoditas cabai rawit baik lokal maupun antarpulau di sejumlah pasar di Kota Pontianak terus naik. Saat ini rata–tata sudah mencapai Rp122.000 per kilogram.
Fluktuasi harga cabai di Kalbar sebenarnya sudah menjadi masalah klasik, lantaran sejauh ini sebagian besar pasokan masih didatangkan dari luar Kalbar.
Sejumlah upaya terus dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun pihak lain. Mulai dari budidaya cabai dimaksimalkan, hingga harus mendatangkan dari luar.
Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPW BI) Kalbar, tercatat pada Februari 2021 komoditas cabai memiliki andil terbesar kedua setelah ikan kembung untuk inflasi di Kalbar.
Kontribusi komoditas cabai dalam angka inflasi di Kalbar sebesar 0,042 persen.
Sedangkan angka inflasi di Kalbar dari dua Kota IHK (indeks harga konsumen) pada Februari 2021 di Kalbar yakni Pontianak dan Sintang mengalami inflasi sebesar 0,10 persen.
Kepala KPw BI Kalbar Agus Chusaini menjelaskan, secara historis, volatilitas IHK komoditas cabai rawit cukup tinggi.
Volatilitas adalah besaran dari perubahan harga yang menunjukkan fluktuasi pasar dalam periode tertentu.
Perubahan harga yang tajam tersebut di antaranya disebabkan oleh pasokan komoditas cabai rawit sebagian besar dilakukan dari luar Kalbar, khususnya dari sentra-sentra cabai rawit di Jawa melalui Kota Pontianak.
Sedangkan pasokan cabai rawit dari lokal Kalbar belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Kalbar.
Penyebabnya adalah masih terbatasnya sentra budidaya cabai rawit, karena kondisi lahan yang sebagian besar gambut dan bekas lahan perkebunan karet.
“Untuk itu, Bank Indonesia bersinergi dengan dinas atau instansi terkait menjalankan program pengembangan klaster yang dimulai dari pembuatan demplot atau tempat percontohan dengan menerapkan teknologi pertanian baru,” ujarnya di Pontianak, Minggu (14/3/1021).
Sejauh ini sudah beberapa program demplot cabai yang dikembangkan BI di Kalbar yakni ada di Kota Singkawang, Kabupaten Kubu raya dan Kabupaten Sintang.
Demplot tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas budidaya cabai. Kemudian, petani juga mau dan bisa mencontoh demplot itu, sehingga suplai cabai bisa terpenuhi di Kalbar.
“Namun, usaha budidaya dan menjaga harga cabai perlu melibatkan para pihak. Upaya dan langkah bersama melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalbar dan kabupaten terus dimaksimalkan. Harapannya harga cabai baik suplai dan harga tidak fluktuatif,” jelas dia.
Perluasan Areal Tanam
Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian, Tanamanan Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Kalbar Endang Kusumayanti membenarkan, sejauh ini sebagian besar kebutuhan cabai terutama jenis rawit dan besar di Kalbar masih didatangkan dari luar.
Ia memandang perlu perluasan areal tanam sebagai solusi untuk penuhi kebutuhan lokal.
Luas areal tanam di Kalbar masih kurang, sehingga produksi yang dihasilkan belum memenuhi kebutuhan lokal.
Pada 2020 lalu areal tanam cabai rawit 2.854 hektare dengan produksi 6.134 ton. Kemudian untuk cabai besar dengan luas tanam 922 hektare dan produksinya mencapai 2.022 ton.
Sedangkan kebutuhan cabai rawit di Kalbar pada 2020 sebesar 16.182 ton dan cabai besar 17.564 ton.
Dari angka tersebut antara produksi dan kebutuhan itu selisihnya sangat besar bahkan di atas 300 persen.
Kebutuhan dihitung berdasarkan konsumsi cabai per hari per jiwa berdasarkan data Dinas Pangan Kalbar yakni cabai besar 3,43 gram dan cabai rawit rawit 3,16 gram.
Untuk mengejar atau memenuhi kebutuhan cabai di Kalbar, satu di antaranya meningkatkan areal luas tanam dan produktivitas.
Kondisi cuaca yang turut mempengaruhi tentu juga akan menjadi perhatian.
“Tentu untuk itu butuh dukungan pemerintah pusat. Untuk tahun 2021 kita belum keluar areal tanam berapa yang kita dapat untuk program cabai tersebut,” kata dia.
Di sisi lain, tamabahnya, untuk memenuhi kebutuhan cabai tentu peran serta petani swadaya atau yang sudah mandiri sangat penting.
“Peran pemerintah dan petani tentu sangat diperlukan agar suplai dan harga terus terjaga. Pendampingan dari dinas untuk petani di Kalbar terus dilakukan. Sehingga suplai cabai bisa maksimal,” kata dia.
Untuk 2022 mendatang pihaknya berharap dukungan anggaran pusat lebih maksimal. Pengembangan melalui klaster-klaster di Kabupaten dimaksimalkan. Harapannya, paling tidak kebutuhan setiap daerah bisa terpenuhi.
“Semoga anggaran dari pusat hingga daerah maksimal terutama untuk budidaya cabai. Sehingga masing – masing bisa memenuhi kebutuhannya,” harap dia.
Butuh Pemasaran Stabil
Satu di antara petani milenial Kabupaten Sambas, Eka membutuhkan pasar atau harga komoditas cabai yang stabil.
Ia yang selama ini berkecimpung dalam budidaya cabai sejak 10 tahun silam mengaku kendala tidak ada kepastian harga, menjadi persoalan petani cabai.
Menurutnya, harga cabai tiba–tiba naik dan sebaliknya tiba-tiba turun. Sedangkan dari sisi biaya produksi atau pengembangan tersebut terus naik.
Selama ini di lahan dua hektare yang digarapnya masih dilakukan secara swadaya. Program pemerintah sangat dibutuhkan nya agar perluasan lahan dan produksi semakin maksimal.
Ketika harga tinggi seperti saat ini, katanya, memang petani sangat diuntungkan. Meski tidak sepenuhnya, karena tengkulak atau pengepul juga ikut mendapatkan berkah harga tinggi.
“Bahkan, lebih parah lagi, keuntungan tingginya harga di pasar tidak sebanding dengan seharusnya yang diterima petani. Prinsipnya kita butuh harga stabil dan di tingkat petani bisa ada margin dari biaya produksi,” jelas dia.
Selain kendala pasar atau kepastian harga, kondisi cuaca atau iklim di Kabupaten Sambas juga tidak menentu.
Kondisi tersebut sangat mempengaruhi budidaya cabai. Dengan tantangan itu perlu teknologi dan perhatian khusus dalam menyikapinya agar produksi tetap berjalan.
“Kami anak muda siap berkolaborasi dalam pertanian. Untuk itu kami mohon diperhatikan dari segi teknologi apa saja dan lainnya dalam mendukung kami untuk terus maju dalam pertanian,” harap dia.
Harga Masih Tinggi
Harga cabai rawit lokal di Kota Pontianak terus mengalami kenaikan dan saat ini harga yang dijual seperti terpantau di Pasar Flamboyan sudah tembus Rp122.000 per kilogram.
“Cabai pasokan lokal Rp122.000 per kilogram dan dari luar Rp100.000 per kilogram,” ujar satu di antara pedagang sayuran Pasar Flamboyan, Reni.
Ia menjelaskan, tidak mengetahui secara pasti penyebab ketidakstabilan cabai tersebut. Namun dari sisi suplai, menurutnya, stabil. Dengan tingginya harga cabai daya beli masyarakat akan komoditas tersebut turut turun.
“Pembeli mulai sedikit beli cabai. Yang tetap membeli yakni pedagang atau rumah makan atau sejenisnya karena memang sudah jadi kebutuhan,” jelas dia. (*/cr5)
Sumber: kalbar.antaranews.com











Komentar