oleh

Mesin Perahu Mati, Terombang-ambing di Laut 10 Hari

TANJUNG REDEB–Kantor Imigrasi Tanjung Redeb menampung tiga warga negara asing (WNA) asal Malaysia yang hanyut ke perairan Maratua.

Ketiganya sempat terombang-ambing selama 10 hari di laut karena mesin perahu kapasitas 40 pk mereka rusak. Ketiganya ditemukan nelayan Maratua bernama Juhari dan dibawa ke daratan.

Ketiga orang ini ditemukan Juhari pada Jumat (12/2/2021) lalu, sekitar pukul 13.00 WITA.

WNA bernama Halik (51), Sapri (29), dan Kamaruddin, berhasil ditarik ke kampung Teluk Alulu, kampung asal Juhari.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Tanjung Redeb, Misnan, mengungkapkan, temuan illegal entry ini berawal saat seorang nelayan melihat ada perahu hanyut di perairan pulau Maratua.

Karena penasaran nelayan tersebut mendekati dan menemukan tiga orang tersebut masih berupaya memperbaiki mesin perahu mereka.

Kemudian nelayan tersebut menawarkan diri untuk membantu dan menarik mereka ke daratan.

“Kemudian setelah tiba di daratan, melaporkan temuan tersebut ke Polsek Maratua,” jelasnya.

Sebelum dilakukan interogasi, tiga WNA itu terlebih dulu dites rapid antigen oleh Puskemas Maratua. Hasilnya dinyatakan non-reaktif.

Dari hasil keterangan WNA tersebut, mereka pergi melaut pada Selasa (2/2/2021) lalu untuk menangkap ikan di sekitar perairan Pulau Sampoerna, Malaysia.

Pada saat mencari ikan, kapal mereka dihantam ombak yang menyebabkan mesin kapal mati sehingga perahu mereka terbawa arus dan terombang-ambing selama 10 hari.

“Ternyata mereka sudah terombang-ambing di tengah laut selama 10 hari. Beruntung mereka memiliki makanan untuk bertahan hidup selama 10 hari tersebut,” jelasnya.

Pihaknya saat ini masih melakukan proses pemulangan ketiga WNA tersebut. Langkah yang akan diambil menghubungi kedutaan Malaysia dan dilakukan deportasi.

Namun jika kapal milik WNA tersebut bisa diperbaiki, pihaknya akan membantu mengawal hingga perbatasan.

“Jika bisa diperbaiki maka bisa dilepas dengan melakukan pengawalan hingga perbatasan perairan dengan Malaysia, namun jika tidak ya deportasi,” jelasnya lagi.

Seorang WNA bernama Halik mengungkapkan dirinya dan rekannya sudah 10 hari terombang ambing di laut dan hanya mengikuti arus laut.

“Cuaca buruk mesin kami rusak,” jelasnya.

Selama 10 hari tersebut mereka mengandalkan persediaan makanan yang dibawa saat melaut sampai kemudian ditemukan nelayan Maratua.

Ia berharap kepada pihak terkait bisa membantu kepulangannya ke negara asal. Tak lupa dirinya mengucapkan terima kasih kepada warga yang membantunya dan pemerintah Indonesia yang disebutnya sangat ramah dan membantu mereka saat kesulitan. (as/beb)

Komentar

Berita Lainnya