BANDUNG – Cendekiawan Jalaluddin Rakhmat meninggal dunia di Rumah Sakit Santosa, Kota Bandung pada Senin (15/2/2021) sekitar pukul 15.23 WIB.
Ia berpulang setelah berjuang melawan penyakit diabetes yang diidapnya sejak lama dan keluhan sesak napas.
Kabar kepergian pakar komunikasi ini menjalarkan duka cita di kalangan cendekiawan, jurnalis, seniman, aktivis, dan para penggiat pro demokrasi.
Berbagai kesan mengalir dari aneka kalangan, menunjukkan kedekatan Kang Jalal -demikian ia biasa disapa- dengan berbagai lapisan masyarakat.
Jalaluddin Rakhmat adalah cendekiawan yang pemikiran-pemikirannya menginspirasi banyak orang.
Lahir di Bandung, 29 Agustus 1949. Terakhir tercatat sebagai dosen, guru besar, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung.
Kang Jalal mendapatkan gelar master komunikasi dari Iowa State University dan doktor ilmu politik dari Australian National University.
Setelah pensiun sebagai dosen, pada tahun 2013 dia terjun ke dunia politik dan bergabung dengan PDI-P. Dia memilih partai tersebut karena menurutnya hanya PDI Perjuangan yang membela kaum minoritas.
Jalaludin muda dibesarkan di kalangan Nahdatul Ulama, dan kemudian aktif di gerakan Muhammadiyah. Pada saat ini dia lebih dikenal sebagai tokoh Syiah di Indonesia.
Dia ikut membidani organisasi Syiah di Indonesia, yaitu Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi) pada awal Juli 2000.
Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Zuhairi Misrawi menyebut Kang Jalal sebagai mutiara intelektualisme Islam negeri ini.
“Saya pribadi mempunyai hubungan batin, guru dan murid. Saya berhutang budi pada almarhum, karena karya-karya almarhum menginspirasi saya dan seantero pemikir Muslim di negeri ini,” tulis Zuhairi pada laman facebook-nya.
Di mata penyair Diro Aritonang, Kang Jalal adalah sosok yang selalu menginspirasi. “Semoga akan ada yang meneruskan semangat untuk selalu memperhatikan kaum minoritas dan para mustadhafin,” kata Diro.
Dari Banjarmasin, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Prof. Dr. Mujiburrahman, menyatakan ada rasa kehilangan yang tak terperi setelah mengetahui Jalal wafat.
“Bagi saya, dan saya yakin banyak orang lainnya, Kang Jalal adalah figur cendekiawan sejati yang independen dalam pemikiran dan tak pernah berhenti belajar dan mencari,” tis Mujiburrahman.
Lebih dari itu, tambah dia, Kang Jalal adalah pribadi yang menguasai seni bertutur, baik lisan ataupun tulisan, yang memukau dan humoris.
Tak syak lagi, Kang Jalal adalah seorang pemikir yang independen, tidak mau terikat oleh pendapat siapa pun dan aliran apa pun, sebelum dia menimbang sendiri argumen-argumen dengan kritis.
Karena itu, lanjut Mujib, kita seringkali terperangah oleh aneka gagasannya yang segar, orisinil dan mencerahkan.
Independensi ini juga yang membuatnya berani melawan arus, menyampaikan sesuatu yang diyakininya ke publik, meskipun akibatnya dia harus menerima hujatan dan caci maki.
Siapapun yang pernah menghadiri ceramah dan seminar bersama Kang Jalal, atau membaca buku-bukunya, akan merasakan betapa luas pengetahuannya, dan betapa banyak sumber yang dibacanya, tulis Mujib di laman facebook-nya.
Kabar kepergian Kang Jalal juga menyentak Nezar Patria, aktivis reformasi yang kemudian jadi jurnalis dan kini memimpin PT Pos Indonesia.
“Saya tak pernah lupa pada sepotong doa kaum tertindas yang ditulis oleh Fikri Yathir dalam kolom tetapnya di Majalah Ummat pada 1998,” tulis Nezar.
Sudah tiga bulan ia ditahan di sel itu dengan tuduhan subversif dan makar, sementara gerakan mahasiswa kian garang di jalanan melawan kediktatoran Soeharto.
Di dinding atas tembok itu ada terawangan kecil yang membuatnya tahu apakah sekarang hari telah malam ataukah pagi.
“Lewat cahaya yang menembus terawangan itu, saya membaca kolom Fikri Yathir,” kata Nezar.
Kertas sobekan halaman majalah itu sudah lusuh, dan mungkin bekas bungkus makanan.
Dia tak ingat lagi kata-kata yang tertulis di sana secara verbatim, tapi kira-kira seperti ini:
“Tuhan berilah kami kekuatan seperti yang kau berikan pada sebutir padi untuk tumbuh, seperti kilatan petir yang membuat mendung jadi hujan, seperti gerak bumi mengitari matahari yang memberikan kami cahaya pagi”.
Kata-kata yang sederhana, kata Nezar, tapi dia seperti menemukan seteguk tonik bagi hati yang risau. Dia seperti menemukan sepotong doa untuk memohon kekuatan penguasa alam semesta.
“Enam belas tahun kemudian saya baru tahu bahwa Fikri Yathir itu adalah nama alias KH Jalaluddin Rakhmat,” tutur Nezar. (*)









Komentar