oleh

Jejak Bung Karno dan Benteng Inggris akan Direvitalisasi

BENGKULU – Provinsi Bengkulu memiliki objek wisata sejarah yang sangat bernilai dan menarik. Di antaranya, rumah pengasingan Bung Karno.

Selain itu, ada Benteng Inggris terbesar se-Asia (Fort Marlborough), dan rumah Fatmawati (Ibu Negara pertama penjahit sang saka merah putih).

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan, pemerintah sedang fokus merancang rencana induk pengembangan wisata sejarah dan budaya Bengkulu.

Nanti, katanya, kawasan tersebut akan direvitalisasi sehingga menghasilkan nilai lebih dengan ditunjang sarana prasarana pendukung.

Baca Juga:   Gubernur Bengkulu Dorong Mahasiswa Kembangkan Usaha Kreatif Kopi Digital

Pemprov Bengkulu sudah koordinasikan masterplan pengembangannya dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi sebagai penanggung jawab aset wisata tersebut.

“Bagaimana nanti, setelah direvitalisasi aset wisata unggulan provinsi kita dapat memiliki nilai pariwisata lebih,” kata Rohidin seusai menerima Audensi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi di Balai Raya Semarak, Rabu (13/1/2021).

Rohidin berharap, upaya ini berjalan lancar, sehingga geliat sektor pariwisata Bengkulu kembali bergerak dan roda perekonomian di masyarakat kembali stabil.

Baca Juga:   Program Prioritas Gubernur Bengkulu, Tabung LPG Gratis Untuk Warga Tak Mampu

Sejak pandemi, banyak pelaku pariwisata, maupun UMKM yang gulung tikar.

“Tentu, harapan kita sektor pariwisata dapat berangsur bangkit. Sehingga, roda perekonomian masyarakat kembali pada posisi normal,” ujar Rohidin.

Terakhir, tindak lanjut bahasan terkait pembangunan di sekitar kawasan monumen Fatmawati, dan penempatan rumah Fatmawati untuk dikembalikan pada posisi awal yaitu di BNI 46.

Baca Juga:   Jokowi Singgung Kemerdekaan Palestina dan Bung Karno di Sidang Umum PBB

Hal ini, juga turut disampaikan agar nanti pembangunan kawasan tersebut dapat selaras.

Beberapa waktu lalu pihaknya sudah menyampaikan langsung kepada Menko PMK, bagaimana jika kawasan Fatmawati dibuat sentra wisata.

Dibahas pula kemungkinan rumah Ibu Fat dikembalikan pada posisi semula agar nilai-nilai sejarahnya tetap terjaga.

“Setelah aset wisata tersebut dikembangkan, barulah tepat jika akan dijadikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” kata Rohidin. (*)

Komentar

Berita Lainnya