SIBERINDO.CO – Penggunaan laptop dalam pembelajaran tidak selalu berujung pada gangguan belajar. Kajian yang dilakukan dua siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong menunjukkan perangkat digital dapat memicu kecemasann (digital anxiety) dan technostress, tetapi juga membantu meningkatkan kepercayaan diri serta kemandirian siswa ketika digunakan secara tepat.
“Riset tersebut dilakukan Hanum Salsabila Rizkiani dan Naura Shafaa Andyta saat masih duduk di kelas X, sekarang kelas XI. Keduanya mengkaji pengaruh penggunaan laptop terhadap emosi dan strategi belajar siswa melalui metode systematic literature review,” ujar Hilal Najmi Kepala MAN IC Serpong, Selasa (11/8/2026).
“Artikel berjudul Screens in a Classroom: A Systematic Literature Review on the Emotional and Strategic Consequences of Laptop Use in Students diterbitkan dalam Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, Vol. 9, No. 3, Agustus 2026. Artikel mereka ini telah melalui proses double blind review dan diterbitkan oleh Departemen Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, bekerja sama dengan Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia,” tambahnya.
Temuan dan Hasil Riset
Hilal Najmi mengungkapkan sejumlah temuan dari riset yang dilakukan oleh kedua siswi tersebut. “Pertama, laptop menimbulkan paradoks emosional. Perangkat ini memicu kecemasan digital dan technostress yang menurunkan keterlibatan belajar, namun pada saat bersamaan fiturnya yang mumpuni meningkatkan keyakinan diri siswa dalam mengerjakan tugas kompleks dan mengelola kehidupan akademiknya secara mandiri.” jelas Hilal.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa strategi memisahkan perangkat berdasarkan fungsi belum otomatis menghilangkan gangguan digital. “Kedua, strategi pemisahan perangkat, yaitu laptop untuk urusan akademik dan telepon genggam untuk urusan lain, ternyata tidak efektif. Gangguan justru banyak bersumber dari dalam diri siswa sendiri, seperti rasa bosan, lelah, dan penasaran. Salah satu studi yang ditinjau mencatat proporsi waktu intErupsi digital mencapai 15,06 persen pada pembelajaran daring, dibandingkan 8,12 persen pada pembelajaran tatap muka,” ujarnya.
Hasil selanjutnya menemukan adanya perbedaan persepsi siswa terhadap aktivitas digital yang dilakukan sendiri dan aktivitas digital teman. “Ketiga, siswa memiliki titik buta (blind spot) terhadap dampak sosial dari gangguan digital. Sekitar 70 hingga 72 persen siswa menyatakan aktivitas digital teman yang tidak berkaitan dengan pelajaran tidak memengaruhi belajar mereka, padahal 75,66 persen mengakui aktivitas serupa yang mereka lakukan sendiri mengganggu proses belajarnya” tambahnya.
Meski demikian, Hilal Najmi menjelaskan, hasil penelitian tidak menempatkan laptop semata sebagai sumber gangguan. “Keempat, ketika penggunaannya diarahkan secara terstruktur, misalnya melalui kuis interaktif dalam kelas, laptop justru memperkuat keterlibatan siswa dan membantu bertahan pada fase motivasi rendah.” kata Hilal.
Menurut hasil kajian tersebut, penggunaan perangkat digital membutuhkan pendekatan yang mendorong kemampuan siswa mengelola dirinya sendiri. “Simpulan keduanya mengarah pada satu rekomendasi: pelarangan perangkat bukan jawaban. Yang lebih dibutuhkan adalah pembelajaran mandiri terarah (self regulated learning) dan penanaman kewargaan digital, sehingga siswa memiliki keterampilan metakognitif untuk mengenali dan mengelola gangguan digitalnya sendiri,” jelas Hilal Najmi.
Kepala MAN Insan Cendekia Serpong Hilal Najmi mengatakan, penelitian tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan keseharian siswa. Menurutnya, Hanum dan Naura memilih penggunaan laptop dalam kegiatan belajar sebagai topik penelitian karena keduanya mengalami langsung penggunaan perangkat tersebut dalam pembelajaran. Dari pengalaman tersebut, mereka kemudian menyusun pertanyaan penelitian mengenai pengaruh laptop terhadap emosi dan strategi belajar siswa. “Hanum dan Naura mengangkat topik yang mereka alami sendiri sebagai siswa, yaitu penggunaan laptop dalam kegiatan belajar. Pertanyaan penelitian yang mereka ajukan adalah bagaimana penggunaan laptop memengaruhi emosi dan strategi belajar siswa,” kata Hilal.
MAN IC Serpong Dukung Siswa Tulis Karya Ilmiah
Dalam kajiannya, Hanum dan Naura menggunakan metode systematic literature review dengan mengikuti protokol pelaporan PRISMA 2020. Penelusuran dilakukan melalui basis data Lens.org terhadap artikel jurnal berbahasa Inggris dan Indonesia yang terbit pada 2020 hingga 2025. Dari 645 rekaman awal, proses penyaringan menghasilkan 175 artikel. Setelah seleksi manual, enam artikel ditetapkan sebagai basis sintesis penelitian.
Hilal menjelaskan proses tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian karena siswa tidak langsung menggunakan seluruh artikel yang ditemukan sebagai bahan kajian. “Keduanya menggunakan metode tinjauan pustaka sistematis dengan mengikuti protokol pelaporan PRISMA 2020 melalui empat tahap, yaitu identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan penetapan. Penelusuran dilakukan pada basis data Lens.org dengan pertimbangan aksesibilitas terbuka, mencakup artikel jurnal berbahasa Inggris dan Indonesia terbitan 2020 hingga 2025. Dari 645 rekaman awal, penyaringan menyisakan 175 artikel, dan seleksi manual menghasilkan 6 artikel sebagai basis sintesis,” ujar Hilal.
Publikasi artikel Hanum dan Naura menjadi bagian dari pengembangan program Penulisan Artikel Ilmiah di MAN Insan Cendekia Serpong. Hilal Najmi mengatakan, program yang sebelumnya menghasilkan karya tulis ilmiah tersebut sejak tahun ajaran 2025/2026 diarahkan menjadi artikel ilmiah siap publikasi. Perubahan itu dilakukan agar siswa memiliki pengalaman menulis artikel ilmiah yang dapat menjadi bekal pada jenjang pendidikan berikutnya.
“Kewajiban menyusun karya tulis ilmiah bukan hal baru di MAN Insan Cendekia Serpong. Program ini semula ditempatkan di kelas 11 dan menjadi salah satu syarat kenaikan kelas. Seiring perubahan kurikulum, program dipindahkan ke kelas 10 dengan pertimbangan bahwa kemampuan berpikir kritis dan ilmiah perlu dibekalkan sejak dini. Sejak tahun ajaran 2025/2026, Tim Kurikulum MAN Insan Cendekia Serpong mengubah arah program tersebut,” ujarnya.
“Pada tahun pertama penerapan program Penulisan Artikel Ilmiah, sebanyak 140 siswa terbagi dalam 77 kelompok penulisan. Dari jumlah tersebut, 21 artikel berhasil lolos publikasi pada jurnal nasional terakreditasi peringkat SINTA 4 hingga SINTA 3. Dua artikel lainnya diterima untuk dipresentasikan pada Kalijaga International Conference on Education 2026 pada September mendatang,” pungkas Hilal Najmi.










