SIBERINDO.CO – Petualangan generasi muda dalam program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi 3 “Java Overtrip” di Yogyakarta memasuki hari kedua pada Senin (10/8/2026). Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengajak para peserta melangkah lebih jauh dari sekadar teori dengan menyambangi langsung titik-titik inovasi akar rumput, mulai dari pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) berbasis komunitas, menimba ilmu di bank sampah pionir nasional, hingga menyelami konsep keberlanjutan berbasis spiritual di rumah ibadah hijau.
Rangkaian kunjungan yang mempertemukan para pelajar dengan para tokoh penggerak lingkungan di Yogyakarta ini meninggalkan kesan mendalam dan motivasi kuat bagi para peserta. “Untuk hari kedua ini pastinya karena bertemu dengan banyak tokoh-tokoh hebat yang berada di Yogyakarta, sehingga menambah semangat saya untuk terus menjaga lingkungan yang pastinya bisa bermanfaat untuk keberlangsungan hidup di masa mendatang,” tutur peserta KELANA dari SMAN Unggulan M.H. Thamrin, Gisella Frizy.
Pemulihan Ekosistem dan Ketahanan Masyarakat di Sekolah Kali Code
Destinasi pertama kunjungan lapangan hari kedua membawa para peserta menyambangi Sekolah Kali Code Yogyakarta. Di kawasan bantaran sungai ini, para pelajar diajak melihat secara langsung bagaimana masyarakat setempat mengelola lingkungan secara mandiri untuk menjaga kelestarian ekosistem sungai sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Para peserta berkesempatan meninjau Rumah Singgah Minat Batik, di mana proses membatik dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan dari daur ulang. Perjalanan berlanjut ke Kelompok Tani Teras Hijau yang mengoptimalkan lahan sempit di pinggiran Kali Code untuk kegiatan produktif berupa budidaya sayuran organik dan ternak lele.
Selain itu, rombongan juga mengunjungi Bank Sampah Bumi Lestari yang dikelola masyarakat setempat dan sukses mengubah sampah rumah tangga menjadi sumber pendapatan bernilai rupiah. Guna memperkuat aspek keselamatan kawasan, peserta turut meninjau fasilitas tanggap darurat kebencanaan melalui sistem peringatan dini (Early Warning System).
Tidak berhenti di situ, eksplorasi di kawasan Kali Code juga dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi budidaya lebah lanceng (stingless bee), di mana peserta belajar mengenai potensi ekonomi kreatif lokal yang selaras dengan pelestarian alam dan penyerbukan lingkungan sekitar.
Sebagai bentuk aksi nyata pelestarian lingkungan, para peserta KELANA secara langsung melakukan penanaman pohon, menebarkan benih ikan ke aliran sungai, serta menuangkan cairan eco-enzyme ke perairan Kali Code guna membantu menjernihkan dan memulihkan ekosistem air.
“Persoalan yang serius kami hadapi adalah terkait masalah sampah dan limbah cair, dan upaya terus menerus kita lakukan untuk mengatasi itu, termasuk masih terlihat sampah yang hanyut. Kami terus berusaha dan Kota Jogja juga sudah membentuk satgas kebersihan, tapi jumlahnya masih sangat terbatas,” ucap Ketua Pemerti Kali Code, Totok Pratopo.
Menimba Ilmu di Bank Sampah Gemah Ripah, Pionir Pengelolaan Sampah Indonesia
Perjalanan KELANA kemudian bergeser menuju Bank Sampah Gemah Ripah di Kabupaten Bantul, yang dikenal luas sebagai bank sampah pionir dan yang pertama di Indonesia. Di tempat ini, para peserta mendapatkan wawasan mendalam mengenai tata kelola administrasi dan sistem manajemen bank sampah yang andal sehingga mampu menjadi sumber penghasilan ekonomi bagi masyarakat yang menabungkan sampahnya.
Tidak hanya belajar teori manajemen, para peserta juga diajak langsung mempraktikkan pembuatan kerajinan tangan dari material sampah daur ulang. Di kawasan ini, peserta turut mengamati fasilitas pengolahan sampah pendukung yang lengkap, mulai dari mesin komposter untuk pengolahan organik, mesin pencacah plastik, hingga sistem pemilahan sampah yang terstruktur rapi.
Kunjungan ini memberikan pemahaman komprehensif kepada para pelajar bahwa gerakan menabung sampah di tingkat akar rumput dapat menjadi pilar utama dalam menggerakkan ekonomi sirkular yang mandiri dan berkelanjutan.
“Selain teman-teman KELANA bisa memahami proses bank sampah disini, kami berharap kalian juga bisa menjadi corong agen perubahan di lingkungan sekitar masing-masing,” ujar Direktur Bank Sampah Gemah Ripah, Bambang Suwerda.
Meneladani Semangat Keberlanjutan di Eco-Masjid Al-Muharram Bantul
Rangkaian penjelajahan hari kedua program KELANA Edisi Yogyakarta ditutup dengan kunjungan inspiratif ke Masjid Al-Muharram di Brajan, Tamantirto, Bantul, yang mengusung konsep Eco-Masjid. Di masjid inilah lahir gerakan “Sadaqah Sampah” yang hingga kini terus berjalan konsisten dan membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat membawa berkah serta kemaslahatan bagi umat.
Para peserta mengamati langsung bagaimana kompleks masjid ini dirancang dengan arsitektur yang ramah lingkungan, dilengkapi fasilitas pemanenan air hujan melalui pembuatan sumur resapan, serta kawasan yang inklusif sebagai ruang yang ramah anak dan ramah difabel. Selain itu, masjid ini juga memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai wujud nyata komitmen transisi energi bersih di tempat ibadah.
“Harapan kami adalah apa yang kami kerjakan di masjid ini walaupun masih sangat kecil, namun bisa menjadi inspirasi mereka sekaligus bisa direplikasi dilingkungan masing-masing dan kami berharap agar program-program seperti KELANA ini lebih banyak dilakukan,” jelas Founder Gerakan Shadaqah Sampah Indonesia, Ananto Isworo.
Melalui eksplorasi hari kedua di Yogyakarta ini, KLH/BPLH berharap para peserta KELANA semakin kaya akan wawasan praktis, mulai dari konservasi sungai, budidaya lokal, inovasi bank sampah pionir, hingga integrasi nilai keagamaan dalam pelestarian lingkungan, sehingga mampu menjadi agen perubahan yang siap menularkan inspirasi hijau kepada masyarakat luas.










