BANTUL – Salon dan Spa D’Khenes, usaha mandiri milik Endri Lestari mengambil lokasi di pedesaan. Ruang salon dan spa tak terlalu luas tetapi nyaman.
Salon dan Spa ini berada di bagian paling depan satu bangunan, memanjang ke belakang diapit persawahan di kawasan Jalan Tinom No 6, Gedogan, Sumbermulyo, Bangbanglipuro, Bantul.
Meski berada di pedesaan, alamat Salon dan Spa D’Khenes terbilang mudah dicari.
Perempuan kelahiran Bantul yang akrab disapa Endri ini mengungkapkan, bangunan miliknya di pinggir jalan saat ini tengah kosong. Dulu pernah disewa orang.
“Rumah saya di kampung sebelah, Samen. Itu rumah orang tua,” tuturnya saat ditemui Kamis (11/3/2021).
Ibu dari Siti Najwa Yahrotuz Sita ini mengisahkan, sebelum menikah, ia pernah bekerja di Salon Martha Tilaar selama 10 tahun.
Sembari mempersilakan jamuan dan minuman, Endri mengiyakan bahwa pandemi Covid-19 memang berdampak ke semua sektor, tak terkecuali dirinya yang masih bekerja di Hotel Cantya Yogyakarta.
Istri Muhammad Susanto ini menuturkan, jam kerja pada masa pandemi tentu saja berbeda. Hal itu dikarenakan adanya pembatasan sebagai upaya mematuhi protokol kesehatan.
Dalam sebulan, jadwal kerja Endri dipangkas menjadi 15 hari. Pengurangan jam kerja berpengaruh pada pendapatan ekonominya.
Sebagai ikhtiar untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup selama pandemi, inisiatif untuk membuka usaha mandiri di desa tempat kelahirannya pun muncul.
Ide tersebut terlaksana Januari 2021. Selain itu, juga untuk memenuhi keinginan para pelanggan home care yang memanggil jasanya sewaktu-waktu di luar jam kerja.
Dengan begitu, kini para pelanggan tersebut bisa langsung datang ke salon dan spa-nya.
Sejak Salon dan Spa D’Khenes mulai melayani pelanggan, praktis jadwal Endri jadi kian padat. Ia harus membagi waktu antara bekerja di hotel dan juga di salon miliknya.
Karena masih merintis dan belum ada yang membantu, dalam sehari, Endri baru bisa melayani tiga-empat orang.
Itu pun, pelanggan harus reservasi dua hari sebelumnya. Sebab, satu orang membutuhkan waktu 2-3 jam.
Pelayanan yang tersedia di salon khusus untuk perempuan ini, antara lain massage full body 60 menit seharga Rp60.000, massage full body 90 menit Rp90.000.
Ada juga facial SA, Rp40.000, facial biokos Rp50.000, facial viva Rp30.000, totok wajah Rp.25.000.
Sedangkan creambath biasa Rp.30.000, creambath hair spa Rp50.000, coloring mulai Rp100.000, toning Rp65.000.
Menurut Endri, selama kurang lebih dua bulan, jasa pelayanan yang ramai ia terima ialah pewarnaan rambut, smoothing, facial, dan totok wajah.
Keunggulan salon D’Khenes, selain harganya yang relatif murah, banyak pula pelanggan yang mengaku puas dengan layanan yang prima.
Meskipun fasilitas yang dimiliki Salon dan Spa D’Khenes masih sederhana, pelayanan yang diberikan Endri sebagaimana biasa dia lakukan di spa hotel. Mulai dari teknik pijatan, hingga produk-produk yang dipakai.
Violita Elen Saputra, salah satu klien Endri menyampaikan, puas atas pelayanan Salon dan Spa D’Khenes.
“Awalnya kan saya bermasalah dengan komedo. Nah pas waktu treatment di sini, setelah melakukan dua kali treatment, komedoku jadi berkurang,” katanya.
Apa yang dialaminya itu, kata dia, adapah efek dari tiap hari makai kosmetik. Jadi komedo yang muncul banyak.
“Tapi sekarang sudah berkurang. Dan, tiap kali usai treatment di sini (D’Khenes), muka jadi lebih fresh, segar, dan relaks.”
Violita, yang sehari-hari bekerja di koperasi rutin melakukan perawatan facial dan totok di Salon dan Spa D’Khenes, minimal sekali dalam seminggu. Terutama ketika hari libur. Ia reservasi terlebih dahulu.
D’Khenes mengutamakan produk-produk herbal yang terbuat dari bahan-bahan rempah alami. Mulai dari lulur hingga racikan-racikan lain, semua dibuat sendiri oleh Endri.
Berkaitan dengan pelanggan yang selalu datang melakukan berbagai perawatan, sejauh ini, sama sekali tak ada dari tamu di hotel tempatnya bekerja.
Sebab menurut Endri, segmennya sudah berbeda. Fasilitas yang didapat juga tidak selengkap yang ada di hotel.
Di kampung Endri, orang-orang lebih cenderung melakukan perawatan rambut. Seperti pewarnaan.
Kemampuan pewarnaan rambut, Endri memperolehnya dari belajar di seminar-seminar maupun workshop.
Hal itu bisa dibuktikan dengan sertifikat dari Workshop Hair Smoothing Tekumeiki Japan yang dipasang di dinding salonnya.
Untuk pewarnaan rambut, Endri mengikuti tren. Karena masa pandemi, Endri juga tak abai. Tetap menerapkan protokol kesehatan.
Salah satunya, Endri hanya menerima pelanggan dari orang yang sudah dikenal.
Selain itu, ia juga mewajibkan klien menggunakan masker, cuci tangan sebelum masuk, dan dipastikan tidak dalam kondisi sakit.
Saat ditemui tim Wiradesa.co siang itu, Endri mengungkapkan dirinya mengundur jadwal reservasi dengan klien.
“Order selalu ada ketika saya di rumah. Kadang bahkan harus menolak ketika jadwal sudah penuh. Kalau orang luar yang lewat dan tidak saya kenal, sudah pasti ditolak sehubungan saat ini kondisi pandemi,” jelasnya.
Bekerja sebagai terapis spa selama pandemi, memang mengharuskan Endri tetap mematuhi protokol kesehatan.
Satu pengalaman saat diundang oleh seorang pengusaha yang sudah menjadi pelanggannya, Endri diharuskan melakukan swab tiap kali hendak memberikan pelayanan. Swab difasilitasi oleh si klien.
Endri menjelaskan, pijat spa bermanfaat untuk relaksasi dan membuat tubuh lebih nyaman setelahnya.
Bagi Endri, dalam hal pijat-memijat tidak asal-asalan tetapi ada titik-titik fokus serta kekuatan tekanan dari jari dan tangan.
“Jadi, tetap menggunakan rasa. Nggak bisa kalau hanya pakai teori saja. Jadi bisa mendeteksi sekiranya bagian mana yang harus intens dipijat sehingga tubuh bisa relaksasi,” ujarnya.
Sedangkan untuk perawatan dan pewarnaan rambut, atau make up, ia mengikuti tren saja. “Jadi lebih kepada teknik,” imbuhnya.
Usaha yang didirikan bermodal dari dana yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Endri berharap, D’Khenes bisa berkembang baik dan mampu menopang kebutuhan hidup.
“Harapannya kelak bisa mandiri, sudah punya usaha di rumah ketika tak lagi bekerja di luar,” terangnya. (Septia Annur Rizkia/wiradesa.co)











Komentar