oleh

Dokter Adrian Purwadihardja Ungkap Kunci Recovery Atlet: Tidur, Nutrisi, dan Hidrasi

-Headline, News-104 views

SIBERINDO.CO – Performance Enhancer 20FIT, dr. Adrian Purwadihardja, menegaskan latihan keras bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan performa atlet. Tubuh justru membutuhkan waktu untuk memulihkan diri agar mampu beradaptasi terhadap beban latihan.

“Recovery bukanlah hal yang dilakukan di luar latihan, tetapi recovery adalah bagian dari latihan tersebut,” ujar Adrian saat menjadi narasumber pada Professional Sport Workforce Training, Indonesia Sport Summit (ISS) 2026 di Cendrawasih Room, JICC Komplek GBK, Senayan, Jakarta, Jumat (11/9).

Menurutnya, latihan memberikan stimulus kepada tubuh. Setelah menerima beban latihan, tubuh mengalami kelelahan. Jika diberikan waktu pemulihan yang cukup, tubuh akan beradaptasi dan kembali dengan kapasitas yang lebih baik.

Sebaliknya, latihan yang terus diberikan tanpa recovery memadai dapat membuat performa menurun. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko cedera, sakit, hingga kelelahan berkepanjangan.

“Ada tiga fondasi utama dalam recovery atlet, yakni tidur, nutrisi, dan hidrasi. Ketiganya menjadi dasar sebelum atlet menggunakan berbagai metode pemulihan tambahan,” tuturnya pada paparan yang bertajuk ‘Why Recovery Matters?’.

Untuk tidur, Adrian menyebut atlet kompetitif membutuhkan sekitar 7-9 jam tidur per hari. Jika kebutuhan tidur malam belum terpenuhi, tidur singkat atau power nap sekitar 20-30 menit dapat menjadi salah satu pilihan.

Sementara itu, asupan nutrisi dan cairan perlu diperhatikan sebelum, selama, dan setelah latihan atau pertandingan. Kebutuhan tersebut dapat disesuaikan dengan jenis olahraga, beban latihan, serta kondisi masing-masing atlet.

Selain fondasi tersebut, terdapat sejumlah metode recovery seperti cold water immersion (CWI), active recovery, compression, peregangan, hingga pijat. Namun, Adrian mengingatkan metode-metode tersebut sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti tidur, nutrisi, dan hidrasi yang memadai.

Recovery juga perlu dilakukan secara individual. Kondisi atlet dapat dipantau melalui indikator subjektif, seperti rasa lelah dan rating of perceived exertion (RPE), serta indikator objektif seperti heart rate variability (HRV).

Karena itu, pelatih dan federasi olahraga dinilai perlu membangun budaya recovery dalam program latihan. Investasi untuk peningkatan performa atlet tidak hanya berupa peralatan latihan, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar pemulihan terpenuhi.

“If you don’t want to recover, don’t train at all (Jika Anda tidak ingin pulih, jangan berlatih sama sekali),” pungkasnya menekankan pentingnya keseimbangan antara latihan dan pemulihan.(***)

Berita Lainnya