DENPASAR – Dua puluh pesepeda dari Sumedang, Jawa Barat, menjelajahi Bali, 4-8 Februari 2020.
Para pesepeda ini dari komunitas Balong Hardi Sumedang Gowes

Family (BHS GF), di bawah pimpinan H Ahmad Hardi, pemilik National Fishing Ground Balong Hardi Sumedang.
Secara kebetulan, pada 4 Februari 2022 mulai membuka kembali Bali bagi wisatawan manca negara, setelah sempat ditutup terkait pandemi Covid-19.
Ketua Panitia H Agus Sukandar SH mengatakan, pada kegiatan BHS GF Tour d’ Bali ini, para pesrta yang rata-rata di atas usia 50 dan 60 itu menggunakan sepeda lipat.
“Untuk memudahkan pengangkutan, karena dari Sumedang-Denpasar dan sebaliknya, peserta naik bus,” kata pesepeda sekaligus pemilik wahana wisata Putri River Inn, Citengah, Sumedang ini.
Para peserta pun terikat aturan protokol kesehatan yang ketat, sepanjang perjalanan. Baik sebelum, selama, maupun sesudah perjalanan.
Untuk keperluan itu, pemimpin BHS GF, Ahmad Hardi, sepenuhnya memfasilitasi kegiatan ini.
“Bagaimana pun kesehatan yang paling utama. Jangan sampai, pergi atau pulang terinfeksi virus. Kasihan keluarga masing-masing,” katanya.
Demi menjaga protokol itu pula, pihaknya menggunakan bus eksekutif berkapasitas 48, bagi 20 peserta dan 10 kru, termasuk dua pengemudi dan satu teknisi.
Selain itu, pesert menjalani tes antigen sebelum berangkat, saat mau masuk Bali, saat akan kembali Pulau Jawa, dan ketika mereka hendak pulang ke rumah masing-masing.
Di Bali, 20 pesepeda ini memgambil base camp di Grand Inna Kuta. Sejak tiba pada Sabtu (5/2/2022), mereka menjelajahi titik-titik wisata di Pulau Dewata Itu.
Di antaranya, pantai Discovery, Jimbaran, Pendawa, Melasti, Garuda Wisnu Kencana, Ubud, Tanah Lot, dan lain-lain.
“Sekaligus, kami turut menyambut dibukanya lagi pintu wisata Bali, sehingga mendapat gambaran sitiuasi kekinian pariwisata Bali,” kata Hardi.
Secara umum, para peserta boleh dibilang puas dan amat menikmati suasana Bali dari atas sadel sepedanya.
“Senang sekali, apalagi saya baru pertama ke Bali,” kata seorang peserta.
Ada sedikit pengalaman pahit, yakni saat hendak memasuki kawasan wisata Garuda Wisnu Kencana, pihak keamanan setempat malah menghalau mereka.
“Ini ganjil. Dalam situasi Bali sedang akan membangkitkan lagi pariwisatanya, mereka malah mengusir pelancong yang datang!” katanya.
Hal senada dikemukakan Agus Sukandar, yang sering bolak-balik bersepeda di Bali dan ke tempat-tempat lain di tanah air.
Dalam perjalanan pulang, para peserta menyempatkan singgah di Solo, dan Yogyakarta, masih dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. (*)










