oleh

Lumba-lumba Comel Keasyikan Main di Pantai hingga Terdampar

KUPANG – Seekor Lumba-lumba Gigi Kasar (Steno bredanensis) terdampar dalam kondisi hidup saat air laut surut di Pantai Napae Sabu Raijua, NTT. Lomba-lumba ini menarik perhatian warga setempat dan langsung dievaluasi ke perairan yang lebih dalam oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang bersama masyarakat, Sabtu (5/9/2020) lalu.

Banyak warga yang berharap agar lumba-lumba yang panjangnya 2,15 meter itu agar selalu bermain di dekat pantai karena menjadi tontonan warga.

Saat dievakuasi kondisi fisik lumba-lumba ini tidak mengalami luka yang serius. Ada sebagian sisiknya yang tergores, tepatnya di bagian samping tubuh dekat sirip dada dan ujung mulut. Diperkirakan goresan itu akibat ia meronta-ronta di pantai bebatuan karena terperangkap air surut.

Upaya penyelamatan dilakukan dengan menggunakan tandu. Anehnya lumba-lumba ini tetap berenang kembali ke darat.

Meski tim respon cepat kembali melakukan upaya pengembalian lumba-lumba ke tengah laut dengan bantuan kapal ketinting sekitar 1000 meter, namun mamalia laut ini tetap kembali ke darat.

Akhirnya, tim kembali menggunakan kapal ketinting sejauh 2 km ke tengah laut agar dekat dengan kawanan lumba-lumba, namun sang lumba-lumba tetap memilih untuk kembali ke tepi.

Karena upaya pengembalian ke laut tidak berhasil, akhirnya tim respon cepat bersama warga memutuskan membiarkan lumba-lumba itu berenang di Pantai Napae dengan tetap melakukan penjagaan hingga larut malam.

Untungnya, sehari kemudian, tim sudah tidak dijumpai lumba-lumba itu lagi di tepi.

Menurut nelayan setempat lumba-lumba itu berenang ke pantai di Desa Ledeana.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL), Aryo Hanggono mengapresiasi respon cepat yang dilakukan BKKPN Kupang bersama masyarakat dalam menyelamatkan lumba-lumba yang terdampar di Pantai Napae.

“Perairan Sabu Raijua termasuk kawasan konservasi Taman Nasional Perairan (TNP). Laut Sawu merupakan koridor penting perlintasan mamalia laut. Oleh karena itu, sering terjadi kejadian mamalia laut terdampar,” ujar Aryo seperti dalam laman portal KKP.

Kata Aryo informasi tim di lapangan, penyebab lumba-lumba terdampar ini diduga karena disorientasi arah. Hal ini melihat perilaku lumba-lumba yang terus kembali ke daratan ketika dilepas ke tengah laut.

“Ada beberapa penyebab mamalia laut bisa terdampar yaitu antara lain karena penyakit, pencemaran laut, cuaca buruk, bycatch, tertabrak kapal, dan disorientasi,” jelasnya.

Lumba-lumba merupakan salah satu biota laut yang dilindungi oleh secara nasional dan internasional. Untuk pelestariannya, KKP telah mengeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 79 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut dan Pedoman Penanganan Mamalia Laut Tedampar di Indonesia. (*/arl)

Komentar

Berita Lainnya