oleh

Jangan Paksa Negeri Ini Makin Sakit

JAKARTA – Rakyat negeri ini sedang tersandera dari sisi apa pun. Pemerintah yang menjadi sandaran agar beban hidup di tengah wabah Corona Vorus Disease 2019 (COVID-19) bisa teratasi, faktanya tak bisa memberikan jaminan.

Meski pun, dari sederet pernyataan pejabat negeri, mengklaim pemerintah bertanggungjawab atas kondisi saat ini. Tapi lagi-lagi, pernyataannya jauh api dari panggang.

Polemik kian hari kian tajam. Terlebih bagi 207. 203 orang yang kini tengah terbaring tak berdaya. Menahan sakit, gundah dan menderita atas ancaman virus mematikan asal Kota Wuhan, China. Jiwanya terancam.

Sebelum 8.456 orang di berbagai daerah menghembuskan nafasnya terakhirnya. Awan kelam belum juga merona. Di negeri ini masih ada 95.501 orang yang tertekan lantaran diklaim suspek Covid-19.

Apakah sudah cukup? Belum. Fakta yang ada belum usai. Masih ada 34. 909 spesimen yang masih dalam uji laboratorium. Mereka menunggu dengan harap cepas sembari mengusap dada, gelisah karena himpitan ekonomi yang terus mendesak kerongkongan dan perut keluarga.

Virus Corona benar-benar membawa petaka. Kritik atas penanganan wabah ini sejak awal tahun sebenarnya bergulir deras. Warning dari penggiat kesehatan dunia sudah mewanti-wanti agar Indonesia bersiap menghadapi hantaman wabah yang berimplikasi pada urat nadi bangsa.

Kesehatan di negeri ini memang mahal. Jamkesmas, kartu sehat atau apalah namanya, belum cukup untuk men-cover tingginya banderol yang dijajakan.

Anda mungkin masih ingat, betapa susahnya mencari masker. Sebuah benda tipis yang dulunya terkesan tak ada harganya. Tergeletak rapi di rak minimarket, atau kios.

Wabah yang kian mengobrak-abrik nafas manusia menjadi sulit terkendali. Lantaran benda tipis itu susah dicari. Langka. Layaknya benda kuno.

Kalau pun ada, satu boks harganya berkisar Rp350-Rp450 ribu. Luar biasa. Lalu kemana masker itu. Dimana kehadiran negara sebesar ini. Klaim sebagai negara maju yang disematkan Donald Trump ternyata jauh dari dugaan. Indonesia masih terbelakang dalam urusan masker.

Kalau pun ada, pabrikan lebih memilih menjual ke Tiongkok, Australia atau Amirika sekalipun. Maklum harga yang didapat jauh menggiurkan dibandingan dibeli bangsa sendiri.

Baca Juga:   Jakarta Perpanjang Lagi Masa PSBB Hingga 17 Januari

Ya, polemik masker sudah cukup memberi warna. Tapi tak lama berselang, persoalan rapid test buming. Alatnya langka, tak semua rumah sakit ada, apalagi puskesmas. Orang dibuat bingung, bagaimana bisa menditeksi tubuh.

Kebingungan ini pun belum reda, munculnya lagi polemik uji swab atau tes Polymerace Chain Reaction (PCR). Pemantiknya juga pemerintah.

Mungkin publik masih ingat dengan kebijakan yang dikeluarkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Bahwa setiap aktivitas perjalanan masyarakat yang bepergian ke luar kota wajib melakukan dua hal di atas.

Keputusan itu Melalui Surat Edaran Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 5 Tahun 2020. Ya, masyarakat yang melakukan perjalanan harus mengantongi sejumlah surat izin.

Dokumen yang harus dibawa adalah surat tugas, surat keterangan sehat, dan surat keterangan rapid tes dan PCR. Dari syarat tersebut, yang cukup menarik perhatian adalah masyarakat harus mengantongi surat uji polymerase chain reaction (PCR).

Persoalan tes gampang. Tapi berapa besaran biaya PCR? Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas RSUD Dr Moewardi, Eko Haryati mengaku jika biaya uji swab PCR disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. ”Untuk biayanya kurang lebih Rp1,6 juta itu sudah termasuk pendaftaran dan konsultasi dokter,” tutur Eko.

Apabila, pasien memiliki surat rujukan pemeriksaan uji swab dari pemerintah maka tidak akan dipungut biaya. ”Pasien saat diskrining ada indikasi Covid-19, di-rapidnya positif dan hasil pemeriksa penunjang mendukung, serta harus dilakukan swab, maka pasien tidak berbayar,” katanya lagi.

Bagaimana dengan uji swab, RSUD Dr Moewardi hanya bisa melayani uji swab kurang 100 spesimen per harinya. Hasil swabnya keluarnya kurang lebih tiga sampai lima hari. Pasien yang hasilnya menujukkan positif maka akan menjalani perawatan lanjutan. Perawatan ditanggung pemerintah untuk yang uji swabnya positif.

Lalu berapa biaya rapid test Biaya yang dibebankan bekisar Rp275 ribu sampai Rp400 ribu. Kalau pasien tidak membawa surat keterangan dan harus pakai pendaftaran pakai surat rujukan dokter kita dokter spesialis paru, harganya sekitar Rp400 ribu. Ini kisaran paket yang ditawarkan:

Baca Juga:   Inilah 10 Kelurahan dengan Kasus Positif Covid-19 Tertinggi di Jakarta  

 

Paket Silver Rp450 ribu

Paket Silver ini Rp450 ribu

– Rapid Test

– Cek Darah Rutin

– Konsultasi Dokter Umum

– Administrasi

Paket pemeriksaan mulai pukul 08.00-13.00 WIB.

 

Paket Gold ini Rp575 ribu

– Rapid Test

– Cek Darah Rutin

– Konsultasi Dokter Spesialis

– Administrasi

Paket pemeriksaan mulai pukul 08.00 -13.00 WIB.

 

Paket Platinum ini Rp735 ribu

– Rapid Test

– Cek Darah Rutin

– X-ray Thorax

– Konsultasi Dokter Spesialis

– Administrasi

Paket pemeriksaan mulai pukul 08.00-13.00 WIB.

Artinya kalau bicara rata-rata pemeriksaan tanpa menggunakan donasi yang lainnya, biayanya sekitar Rp1,8 juta. Begitu mahalnya untuk masyarakat Indonesia yang hendak berpergian saja.

Selesai sudah persoalan masker, rapid test, atau uji swab. Oh ternyata belum juga. Ada istilah isolasi mandiri.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan perkiraan biaya perawatan pasien Covid-19 untuk isolasi anggarnya cukup mahal.

”Kalau kita lihat dari data-data, kena Covid itu per orang bisa Rp105 juta. Kalau yang ada penyakit tambahan Rp215 juta kalau enggak salah. Mahal banget,” ujarnya dalam diskusi virtual, Jumat (29/5/2020).

Oleh karena itu, Erick meminta masyarakat harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan selama menjalani situasi new normal. Sebuah pernyataan yang baik. Wejangan yang baik pula dari Pak Erick.

Biaya perawatan pasien Covid-19 ternyata cukup menguras kocek, khususnya di Indonesia. Seperti dikutip dari healthaffairs.org, Minggu (31/5/2020), biaya perawatan pasien Covid-19 di Amerika Serikat ditaksir sekitar US$3.045.

Infeksi Covid-19 simtomatik tunggal akan menelan biaya rata-rata US$3.045 dalam biaya medis langsung yang dikeluarkan hanya selama infeksi.

Sementara di Indonesia, seperti diungkapkan Menteri BUMN Erick Thohir, biaya perawatan pasien Covid-19 ditaksir mencapai Rp105 juta-Rp215 juta.

Belakangan, Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram Lalu Herman Mahaputra mengatakan biaya perawatan pasien virus corona jenis baru bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Herman tidak membenarkan jika biaya penanganan satu pasien Covid-19 sampai sembuh mencapai Rp148 juta. Kecuali ada penyakit penyerta.

Baca Juga:   Tingkat Kesembuhan Covid-19 Meningkat di 10 Provinsi, Simak Penjelasan Satgas

Di China, biaya perawatan pasien Covid sekitar 23.000 yuan atau hampir Rp47 juta. Adapun di Singapura, biaya perawatan pasien inveksi pernafasan sekitar 6.000-8.000 dolar Singapura atau sekitar Rp62 juta-Rp83 juta.

Di Thailand, dalam beberapa kasus, sejumlah rumah sakit mengenakan biaya pengobatan pasien Covid-19 sekitar US$3.000 atau sekitar Rp44 juta.

Seperti di Amerika Serikat, Thailand juga tidak membenankan biaya pengobatan kepada pasien Covid-19 tetapi oleh Dana Kesehatan Negara.

 

Biaya Perawatan Covid-19

 

Pemerintah telah menerbitkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-275/MK.02/2020 tertanggal 6 April 2020, yang mengatur satuan biaya penggantian atas biaya perawatan pasien Covid-19.

Berdasarkan berdasarkan lampiran surat tersebut, berikut tarif klaim maksimal biaya perawatan Covid-19 per hari.

Biaya Perawatan Pasien Covid-19 Tanpa Komplikasi:

– Di ruang ICU dengan ventilator Rp15,5 juta per hari

– Di ruang ICU tanpa ventilator Rp12 juta

– Biaya perawatan Di ruang isolasi tekanan negatif dengan ventilator Rp10,5 juta

– Di ruang isolasi tekanan negatif tanpa ventilator Rp7,5 juta.

– Di ruang isolasi nontekanan negatif dengan ventilator Rp10,5 juta

– Di ruang isolasi nontekanan negatif tanpa ventilator Rp7,5 juta.

 

Biaya Perawatan Pasien Covid-19 dengan Komplikasi:

 

– Di ruang ICU dengan ventilator Rp16,5 juta.

– Di ruang ICU tanpa ventilator Rp12,5 juta.

– Di ruang isolasi tekanan negatif dengan ventilator Rp14,5 juta.

– Di ruang isolasi tekanan negatif tanpa ventilator Rp9,5 juta.

– Di ruang isolasi nontekanan negatif dengan ventilator Rp14,5 juta.

– Di ruang isolasi nontekanan negatif tanpa ventilator Rp9,5 juta.

 

Dari banderol harga di atas lagi-lagi bikin geleng-geleng kepala. Apalagi kalau disodorkan pada mereka yang sedang terbarig sakit.

Begitu mahalnya untuk sekadar isolasi. Begitu besarnya beban pemerintah untuk rakyatnya. Tapi jika dibandingkan brosur di bawah ini, kita juga kaget. Ternyata tidak berbanding lurus dengan apa yang disampaikan Erick Thohir. Semoga negeri ini lekas membaik.(oke/sep)

 

Komentar

Berita Lainnya