oleh

Dukacita Akibat Covid-19 dan Dampak Psikologisnya

WABAH Covid-19 telah setahun lebih merebak di Indonesia. Setelah jumlah kasus positif harian sempat turun selama beberapa bulan, Mei-Juni ini angkanya justru naik kembali. Data Satgas Covid-19 per 18 Juni menyebutkan angka kasus positif mencapai 1,96 juta, dan angka kematian mencapai 54 ribu jiwa, atau sebanyak 2,8 persen. Angka ini setara dengan 200 kematian per 1 juta penduduk.

Dari sudut pandang psikologi, angka kematian di atas bukanlah sekadar statistik belaka. Kematian satu orang dapat membawa dampak psikologis yang sangat besar bagi orang-orang terdekatnya, baik itu pasangan, anak, orangtua, saudara, teman, dan sebagainya.

Di samping dampak yang kasat mata seperti hilangnya penopang ekonomi keluarga, kematian orang terdekat pada umumnya mengakibatkan dukacita (grief), yang bisa jadi justru lebih berat dan lebih sulit untuk diatasi daripada dampak yang kasat mata.

Dukacita adalah sebuah emosi kompleks yang dapat terdiri dari banyak unsur seperti rasa sedih, tidak percaya (disbelief), mati rasa (numbness), kecemasan, keputusasaan, kesepian, dan rasa bersalah.

Meskipun setiap kematian menimbulkan duka bagi yang ditinggalkan, kematian akibat Covid-19 bisa jadi meninggalkan dukacita yang unik bagi orang-orang terdekatnya, yang bersifat lebih intense atau kuat.

Hal ini dikarenakan, pertama, mereka tidak dapat mendampingi pasien di saat-saat terakhirnya, misalnya pasien meninggal di ruang isolasi atau ICU di mana keluarga tidak diperkenankan untuk menunggu. Banyak keluarga pasien yang berkontak terakhir dengan almarhum hanya dari balik dinding kaca, atau bahkan hanya melalui layar ponsel.

Kedua, proses pemakaman jenazah pasien Covid-19 dalam budaya kita dapat dianggap sebagai kurang layak. Upacara penghormatan jenazah tidak dapat diselenggarakan sesuai kebiasaan, tidak ada kehadiran pelayat, bahkan jenazah pun pada umumnya tak sempat disemayamkan di rumah, dan mungkin juga terpaksa dimakamkan di lokasi pemakaman yang kurang diinginkan.

Baca Juga:   Warga Serbu Pelaksanaan Vaksinasi Dosis Kedua di Kodim Polman

Pemikiran atau perasaan bahwa mereka tidak memberikan penghormatan yang layak kepada orang tercinta ini dapat menimbulkan perasaan bersalah yang mendalam pada keluarga yang ditinggalkan.

Ketiga, pada umumnya, dukungan sosial yang diterima oleh keluarga yang ditinggalkan pun sangat terbatas. Dalam masyarakat kita, saat sedang berduka akibat ditinggal keluarga, normalnya orang akan menerima dukungan yang kasat mata dengan kehadiran tetangga, handai taulan, kolega, teman-teman, baik pada saat pemakaman maupun setelahnya.

*

Namun dengan kematian akibat Covid, apalagi jika anggota keluarga pun terkonfirmasi positif Covid, keluarga harus melalui masa-masa berduka yang sunyi tanpa ada yang datang berkunjung. Ucapan duka hanya diterima melalui moda-moda virtual. Bagi masyarakat Indonesia yang sangat kolektivistik, melalui masa duka dalam kesunyian ini bukan sesuatu yang mudah.

Dalam bukunya On Death and Dying (1969), Kubler Ross mengemukakan teorinya tentang dukacita akibat kematian. Menurutnya orang akan melalui lima fase reaksi terhadap kematian, yakni penyangkalan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance).

Pada fase penyangkalan, orang biasanya menyangkal bahwa orang tercintanya benar-benar telah meninggal (“Tidak mungkin ini terjadi!”). Setelah akhirnya dapat mempercayainya, timbul fase kemarahan, yang dapat ditujukan kepada berbagai pihak misalnya anggota keluarga lainnya, tenaga medis, diri sendiri, atau juga Tuhan (“Mengapa ini sampai terjadi? Mengapa harus aku yang mengalaminya?”).

Baca Juga:   Jakarta Perpanjang Lagi Masa PSBB Hingga 17 Januari

Fase selanjutnya adalah menawar atau meminta agar keadaan berubah, misalnya meminta agar waktu berjalan mundur sehingga bisa memperbaiki keadaan.

Namun karena ini tidak mungkin terjadi, biasanya pada fase ini kemudian rasa menyesal muncul ke permukaan (“Seandainya aku pulang lebih awal. Seandainya ibu segera dibawa ke RS”).

Ketika menyadari bahwa penyesalan dan rasa bersalah tersebut tidak membawa orang tercintanya kembali, akhirnya perginya orang tercinta pun menjadi terasa nyata (“Ibu benar-benar telah meninggal!”).

Muncul fase depresi, di mana perasaan sedih dan kehilangan menjadi lebih mendalam. Terakhir, fase penerimaan terjadi ketika kita tidak lagi menolak keadaan dan berharap dapat mengubah keadaaan. Ini bukan berarti perasaan sakit dan kehilangan telah sirna.

Kesedihan dan rasa menyesal tetap dapat hadir kembali setiap saat, tetapi kita tidak lagi menghadapinya dengan menyangkal, menawar ataupun marah.

Dukacita akibat Covid bisa jadi akan mengakibatkan fase-fase penyangkalan, kemarahan, dan tawar-menawar yang lebih panjang karena sebab-sebab yang telah diuraikan sebelumnya, dan fase penerimaan mungkin akan lebih lama dicapai.

*

Dukacita yang berkepanjangan ini dapat berdampak besar bagi penurunan kesehatan fisik maupun mental individu. Kesejahteraan psikologis (psychological wellbeing) menjadi terganggu, individu kehilangan produktivitas dan tidak dapat menjalankan fungsi-fungsi normal.

Apa yang kemudian harus dilakukan? Tentunya kondisi orang per orang tidak akan dapat disamakan dan setiap orang memerlukan treatment yang berbeda-beda.

Namun demikian, ada hal generik yang dapat disarankan untuk dilakukan jika handai taulan, teman, atau kolega kita mengalami masa-masa duka kehilangan orang tercinta akibat Covid.

Baca Juga:   Potensi Erupsi Merapi di Tengah Pandemi, Apa yang dilakukan Pemda Magelang?

Hal tersebut adalah memberi dukungan psikologis, memastikan bahwa dia tidak kesepian dan dalam kondisi depresi. Jika tidak memungkinkan untuk hadir secara fisik, dukungan dapat diberikan dengan mengirim chat secara berkala, mengajak videocall, mengirim makanan sebagai tanda perhatian, dan sebagainya.

Sebagai pribadi yang mengalami, sebaiknya jangan ragu untuk mencari bantuan jika merasa memerlukannya. Jika merasa kesepian, sebaiknya meminta teman atau saudara untuk menemani, meskipun hanya secara virtual.

Kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri meskipun wajar namun perlu dilawan agar tidak berlarut-larut. Salah satu keuntungan orang Indonesia adalah mayoritas beragama; dalam agama sudah tersedia konsep bahwa kematian adalah ketentuan Tuhan, yang membantu penganutnya untuk menerima kematian, meskipun hal ini juga tidak selalu mudah.

Selain orang-orang terdekat, masyarakat sekitar juga perlu menaruh perhatian dan menawarkan dukungan kepada keluarga yang berduka. Di level RT misalnya, perlu dimusyawarahkan bagaimana memberi dukungan terhadap keluarga yang berduka.

Kantor tempat individu yang sedang berduka tersebut bekerja, sekolah di mana siswa yang berduka bergabung, hendaknya juga menunjukkan kepeduliannya. Teriring harap semoga pandemi ini cepat berlalu.

Covid-19 tag-psikologi tag-ugm">

Catatan: Artikel ini penulis persembahkan sebagai wujud simpati kepada rekan-rekan penulis dan para pembaca yang mengalami dukacita akibat Covid-19.

Referensi:

Laman resmi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. https://covid19.go.id/

Santrock, J. W. 2018. A topical approach to lifespan development. McGraw-Hill Education.

Laman GRIEF.COM. https://grief.com/the-five-stages-of-grief/

Komentar

Berita Lainnya