BANDA ACEH – Tidak menunggu lama menghadapi kondisi sulit sebagai efek COVID-19, Kurniawan melakukan langkah cepat. Chef (ahli masak) jebolan tata boga USU ini, mencoba bangkit. Ia membuka bisnis kuliner khas Jepang.
Wabah Covid-19 mengubah segalanya. Hampir semua sektor terpuruk. Pengangguran di mana-mana. Ekonomi lesu, daya beli masyarakat sangat rendah.
Tapi, ada pula yang bisa bertahan, bahkan untung besar atau hanya sekedar bisa survival, sambil menunggu kondisi stabil seperti sedia kala.
Ada beberapa sektor usaha yang mampu bertahan, bahkan mendapat peluang baru. Salah satunya bisnis kuliner atau jajanan, yang dinilai masih cukup tangguh menghadapi “terjangan” virus Corona atau COVID-19.
Adalah Kurniawan, pria berusia 42 tahun ini tadinya menggeluti bisnis jual beli mobil, dan membuka jasa sewa mobil atau rental.
Kedua bisnisnya lesu, “terinfeksi” virus Corona sejak Maret 2020. Sebab, ketika pandemi mulai memasuki Aceh, tamu asing dilarang masuk. Termasuk juga wisatawan, jumlahnya anjlok, nyaris tidak ada.
Sedangkan tamu luar kota yang biasanya urusan dinas, juga berkurang drastis. Jumlah yang datang ke ibukota Provinsi Aceh, yaitu Banda Aceh, makin lama kian sedikt. Efeknya, dua usaha yang digelutinya pun terpuruk.
Tidak menunggu lama menghadapi kondisi sulit sebagai efek COVID-19, Kurniawan melakukan langkah cepat.
Pria yang awal karirnya pernah sebagai chef (ahli masak) jebolan tata boga USU (Universitas Sumatera Utara) ini, dan telah malang pelintang melayani bule-bule saat gempa bumi dan tsunami melanda Aceh 16 tahun silam, mencoba untuk bangkit.
Dengan modal seadanya, Iwan, panggilan chef ini, kembali ke “habitat” dengan membuka bisnis kuliner. Ia memilih makanan khas makanan Jepang.
Mengingat modalnya sudah tergerus di dua usaha sebelumnya, Iwan pun mengatur seefektif mungkin agar modal yang ada bisa dimanfaatkan untuk memulai bisnis barunya tersebut.
Usaha kulinernya disesuaikan dengan modal yang ada. Dia juga melihat tren sekarang, di mana semua urusan bisa “dieksekusi” hanya lewat handphone atau gatget di tangan.
Orang-orang cukup menyentuh layar, apa yang dibutuhkan pun bisa datang. Faktanya memang demikian. Semua warga terutama anak muda tidak bisa dipisahkan lagi dengan ketergantungan gadget.
Iwan akhirnya memilih nama atau merek yang cocok untuk jenis usaha barunya ini, yakni; Rumah Tariyaki.
Sistem penjualannya pun lewat aplikasi online, dengan memanfaatkan jasa abang-abang driver gojek atau grab.
Kepada Waspadaaceh.com, Kamis (31/12/2020), Kurniawan menceritakan pengalamannya, bahwa usaha Rumah Tariyaki mulai didirikan beberapa bulan setelah masa pandemi virus Corona, tepatnya pada awal Juni 2020.
Rumah Teriyaki, kata Iwan, menyajikan makanan Jepang original yang dipadukan dengan cita rasa selera lidah orang Indonesia, bahkan cocok untuk orang di Aceh.
Menurut dia, dulu salah satu jenis menu, chicken tariyaki, hanya dikenal sebagai makanan kalangan atas. Kini chicken tariyaki dapat dinikmati semua kalangan dengan harga yang terjangkau.
Karena itu Rumah Tariyaki menyajikan beberapa menu original taste dan makanan sehat.
“Di antaranya chicken tariyaki, chicken yakiniku, chicken katsu with mushrom sauce, yakimeshi yakisoba, chicken gyuuniku, chicken sarada, avocado seafood coaktalil dan chicken sandoitchi yang disajikan dengan salad sayur,” beber Kurniawan
Bahan baku untuk mengolah makanan, kata Iwan, dia dapatkan di pasar tradisional Aceh dan market modern di Banda Aceh.
”Insya Allah menu di Rumah Tariyaki 100% halalan toyiban dan tidak bercampur bahan kimia berbahaya,” katanya.
Setiap bulan, lanjut Iwan, dia meng-update makanan dengan varian baru. Hingga sekarang lebih 21 jenis makanan tersaji di Rumah Tariyaki di Desa Emperom, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh itu.
Soal harga, sebut Iwan, sangat terjangkau, kisaran Rp24 ribu sampai Rp38 ribu/paket.
Kata Iwan, di masa pandemi ini, Rumah Tariyaki melayani take away melalui aplikasi berbasis online. yaitu grab food dan gofood (gojek).
Mitra layanan gofood dan grabfood, nomor owner Rumah Tariyaki: 082277696415 Ada pun jam operasionalnya, Senin-Minggu pukul 08.00 – 22.30 WIB.
Dengan usaha Rumah Teriyaki ini, Iwan mengaku sudah bisa menutupi cicilan kreditnya di bank.
“Alhamdulillah, sekarang ini rata-rata hasil penjualan di atas Rp300.000/hari dan ada keuntungan 30 persennya,” jelas dia.
Keuntungan bisa bertambah karena ada juga pelanggan yang melakukan order partai besar. Misalnya untuk konsumsi pada rapat di kantoran atau acara ulang tahun anak-anak.
Iwan mengakui, biasanya pelanggan akan berulang-ulang melakukan order bila sudah merasakan kerenyahan dan sensasi makanan jepang di Rumah Tariyaki.
Dari pelanggan-pelanggan inilah sedikit demi sedikit gemerincing rupiah kembali mewarnai kehidupan keluarga Kurniawan, setelah usaha lamanya “mati suri” sebagai dampak dari keganasan virus Corona tersebut.
“Bisa untuk survival di masa pandemi Corona atau COVID-19,” kata Iwan. Untuk itu dia mengaku, tidak pernah lupa bersyukur kepada Allah SWT.
Terpisah, Direktur Utama PT Bank Aceh Syariah, Haizir Sulaiman, pada acara refleksi akhir tahun menjelaskan, jenis usaha yang bisa bertahan bahkan berkembang atau tumbuh dengan baik, salah satunya adalah bisnis kuliner.
“Sebab, dalam situasi apapun, kita setiap hari butuh asupan makanan,” kata Haizir Sulaiman menjawab Waspadaaceh.com, terkait usaha UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) yang masih mampu bertahan di masa COVID-19. (Aldin Nainggolan)











Komentar