oleh

Festival Bertanya: Membuka Lemari Ilmu Tentang Tumbuhan dan Hewan

SIBERINDO.CO – Suasana kelas IV SD Al-Khawarizmi Medan tampak berbeda dari hari-hari biasa. Meja-meja tidak lagi berjajar rapi seperti biasanya. Di depan kelas, Rani Apriantini –guru IPA yang dijuluki Bu Kreatif oleh murid-muridnya– meletakkan beberapa benda sederhana: pot kecil berisi tanaman kacang hijau, selembar daun mangga, bunga sepatu, toples berisi tanah, gambar kupu-kupu, foto katak, serta beberapa kartu bergambar hewan peliharaan dan hewan liar.

Anak-anak mulai berbisik penasaran.

“Bu, hari ini kita praktik?”
“Bu, itu ulat beneran?”
“Bu, kenapa daunnya beda-beda?”
“Bu, kalau ikan tidur, matanya merem enggak?”

Bu Rani tersenyum. Dia tidak langsung menjawab. Justru pagi itu Bu Rani ingin anak-anak belajar sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menghafal bagian-bagian tumbuhan dan jenis-jenis hewan. Dia ingin mereka belajar bahwa ilmu sering kali dimulai dari keberanian bertanya.

Setelah merapikan semua alat peraga di meja, Bu Kreatif membacakan sebuah pesan hikmah yang dikira ayat al-Quran oleh murid-murid.

الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَمَفَاتِحُهَا السُّؤَالُ، فَاسْأَلُوا يَرْحَمُكُمُ اللهُ، فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيهِ أَرْبَعَةٌ: السَّائِلُ، وَالْمُعَلِّمُ، وَالْمُسْتَمِعُ، وَالْمُحِبُّ لَهُ
“Ilmu itu seperti lemari-lemari yang terkunci. Kuncinya adalah pertanyaan. Maka bertanyalah, semoga Allah merahmati kalian. Sebab dalam pertanyaan ada empat kebaikan: bagi yang bertanya, yang mengajar, yang mendengar, dan yang mencintai ilmu.”

Bu Rani lalu menjelaskan dengan bahasa anak-anak.

“Anak-anak, ilmu itu seperti lemari yang penuh hadiah. Tapi lemari itu terkunci. Kuncinya apa?”

Anak-anak menjawab serempak, “Pertanyaan!”

“Betul”, jawab Bu Rani sambil melangkah ke dekat meja murid. “Maka hari ini, siapa yang bertanya bukan berarti tidak pintar. Justru anak yang bertanya sedang membuka pintu ilmu.”

Pertanyaan Kecil, Ilmu Besar

Selama ini, dalam pelajaran IPA, anak-anak sering diminta menghafal misalnya akar menyerap air, batang menyalurkan makanan, daun tempat fotosintesis, bunga alat perkembangbiakan, atau hewan ada yang bertelur dan melahirkan. Semua itu penting. Namun, jika IPA hanya berhenti pada hafalan, anak-anak bisa merasa bahwa tumbuhan dan hewan hanyalah gambar di buku atau hafalan tuna makna.

Padahal IPA seharusnya mengajak anak melihat dunia dengan mata yang lebih hidup.

Mengapa daun berwarna hijau?
Mengapa bunga memiliki warna berbeda-beda?
Mengapa kucing menjilat tubuhnya?
Mengapa ayam mengais tanah?
Mengapa kupu-kupu berasal dari ulat?
Mengapa ikan bisa hidup di air, tetapi ayam tidak?
Mengapa tanaman yang jarang disiram menjadi layu?
Mengapa cacing sering muncul setelah hujan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sederhana, tetapi justru dari sanalah rasa ingin tahu tumbuh. Anak-anak belajar bahwa ilmu tidak selalu dimulai dari jawaban guru. Ilmu sering dimulai dari mata yang memperhatikan, hati yang takjub, dan mulut kecil yang berani bertanya.

Bu Rani berkata, “Hari ini kita tidak berlomba siapa yang paling cepat menjawab. Tetapi berlomba siapa yang paling berani bertanya dengan baik.”

Langkah 1: Membuka Mata, Membuka Rasa Ingin Tahu

Bu Rani membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok mendapat satu benda atau gambar.

Kelompok pertama mengamati tanaman kacang hijau.
Kelompok kedua mengamati daun mangga dan daun pepaya.
Kelompok ketiga mengamati gambar kupu-kupu dan ulat.
Kelompok keempat mengamati gambar ayam, kucing, ikan, dan katak.
Kelompok kelima mengamati bunga sepatu dan bunga kertas.

Mereka tidak langsung diminta menjawab soal. Mereka hanya diminta melihat dengan teliti.

“Apa yang kalian lihat?” tanya Bu Rani.

“Daun pepaya bentuknya seperti jari, Bu.”
“Batang kacang hijaunya kecil sekali.”
“Kupu-kupu cantik, tapi dulu ulat, ya?”
“Katak bisa hidup di air dan di darat.”
“Bunga warnanya beda-beda. Mungkin supaya disukai kupu-kupu.”

Bu Rani menanggapi semua jawaban murid-muridnya dengan hangat. “Bagus. Sekarang ubah pengamatan kalian menjadi pertanyaan.”

Anak-anak mulai menulis di kertas warna-warni.

Mengapa daun pepaya bentuknya berbeda dengan daun mangga?
Mengapa tanaman perlu air?
Bagaimana ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu?
Mengapa ikan tidak bisa hidup lama di darat?
Mengapa bunga disukai lebah dan kupu-kupu?
Apakah semua hewan punya rumah?
Mengapa kucing punya kumis?
Mengapa burung bisa terbang, tetapi ayam tidak terbang tinggi?

Kelas menjadi ramai dengan pertanyaan anak-anak, tetapi ramai yang sehat. Ramai karena anak-anak sedang berpikir. Ramai karena mereka sedang membuka lemari ilmu.

Langkah 2: Belajar Membuat Pertanyaan yang Tajam

Setelah semua kelompok menulis pertanyaan, Bu Rani mengajak mereka membedakan pertanyaan biasa dan pertanyaan yang lebih tajam.

Ia menayangkan slide yang sudah dipersiapkan sebelumnya:

Pertanyaan biasa: Apa itu akar?
Pertanyaan lebih tajam: Mengapa akar tumbuhan biasanya berada di dalam tanah?

Pertanyaan biasa: Apa makanan kupu-kupu?
Pertanyaan lebih tajam: Mengapa kupu-kupu sering hinggap di bunga?

Pertanyaan biasa: Apa itu katak?
Pertanyaan lebih tajam: Mengapa katak bisa hidup di dua tempat, air dan darat?

Bu Rani menjelaskan, “Pertanyaan tajam bukan pertanyaan yang sulit sekali. Pertanyaan tajam adalah pertanyaan yang membuat kita berpikir lebih dalam.”

Lalu anak-anak diminta memperbaiki pertanyaan mereka. Yang semula menulis, “Apa itu daun?” mulai mengubah menjadi, “Mengapa daun penting bagi tumbuhan?” Yang semula menulis, “Apa itu telur?” mengubah menjadi, “Mengapa ayam bertelur, sedangkan kucing melahirkan?”

Di sini anak-anak belajar keterampilan penting bahwa bertanya bukan asal bertanya. Bertanya juga perlu cara, ketelitian, dan rasa ingin tahu.

Langkah 3: Galeri Pertanyaan

Bu Rani menempelkan kertas besar di dinding kelas. Di atasnya tertulis “Galeri Pertanyaan IPA: Tumbuhan dan Hewan”.

Setiap anak menempelkan satu pertanyaan terbaiknya.

Dinding kelas berubah menjadi taman pertanyaan. Ada pertanyaan tentang daun, akar, bunga, kupu-kupu, semut, kucing, ikan, burung, cacing, ayam, dan katak. Anak-anak berjalan pelan membaca pertanyaan teman-temannya.

“Wah, aku juga ingin tahu kenapa semut berjalan berbaris.”
“Aku baru kepikiran, kenapa tanaman yang kena matahari lebih segar.”
“Bu, pertanyaan Dinda bagus. Kenapa bunga ada yang harum dan ada yang tidak?”

Bu Rani membiarkan anak-anak saling membaca. Dia ingin mereka paham bahwa pertanyaan teman juga bisa menjadi sumber belajar. Dalam kelas yang sehat, anak tidak mengejek pertanyaan temannya. Sebaliknya, anak belajar menghargai rasa ingin tahu orang lain.

Setelah itu, Bu Rani memberi stiker kecil berbentuk bintang. Setiap anak boleh menempelkan satu stiker pada pertanyaan yang menurutnya paling menarik.

Pertanyaan yang mendapat banyak stiker akan menjadi bahan pembelajaran bersama.

Langkah 4: Parking Lot Pertanyaan

Tidak semua pertanyaan bisa langsung dijawab hari itu. Bu Rani sudah menyiapkan papan khusus bertuliskan:

Parking Lot: Pertanyaan yang Akan Kita Cari Jawabannya

Anak-anak semula heran. “Bu, kok pertanyaan diparkir?”

Bu Rani tertawa kecil. “Karena tidak semua pertanyaan harus dijawab terburu-buru. Ada pertanyaan yang perlu kita cari di buku, kita amati di halaman sekolah, kita tanyakan kepada guru lain, atau kita bawa ke perpustakaan.”

Beberapa pertanyaan masuk ke Parking Lot:

Apakah tumbuhan bisa merasa sakit?
Mengapa burung tahu cara membuat sarang?
Mengapa kucing bisa melihat dalam gelap?
Mengapa lebah tidak tersesat saat kembali ke sarangnya?
Apakah ikan pernah haus?
Bagaimana tanaman tahu arah cahaya matahari?

Bu Rani tidak memaksakan semua jawaban keluar dari dirinya. Dia ingin anak-anak belajar bahwa guru bukan satu-satunya sumber ilmu. Ada buku, alam, pengamatan, percobaan, pustakawan, guru IPA lain, petani, dan dokter hewan, bahkan pengalaman orang tua di rumah.

“Anak-anak, kalau kita belum tahu, tidak apa-apa. Yang penting kita mau mencari tahu dengan cara yang benar.”, pungkasnya.

Langkah 5: Mencari Jawaban dengan Cara IPA

Pada pertemuan berikutnya, Bu Rani memilih beberapa pertanyaan dari Galeri Pertanyaan dan Parking Lot.

Pertanyaan pertama: Mengapa tanaman perlu air?

Anak-anak diajak melakukan percobaan sederhana. Dua tanaman kecil diletakkan di tempat yang sama. Satu disiram setiap hari, satu lagi tidak disiram selama beberapa hari. Anak-anak ditugasi mengamati perubahan warna daun, kekuatan batang, dan kelembapan tanah.

Mereka menulis hasil pengamatan di jurnal kecil:

Hari pertama: kedua tanaman masih segar.
Hari kedua: tanaman yang tidak disiram mulai layu.
Hari ketiga: daunnya semakin turun.
Kesimpulan: air membantu tumbuhan tetap hidup dan segar.

Pertanyaan kedua: Mengapa kupu-kupu sering hinggap di bunga?

Bu Rani mengajak anak-anak melihat gambar dan video pendek tentang kupu-kupu yang mengambil nektar. Mereka belajar bahwa bunga menyediakan makanan bagi kupu-kupu, dan kupu-kupu membantu penyerbukan.

Pertanyaan ketiga: Mengapa ikan tidak bisa hidup lama di darat?

Anak-anak mempelajari dari buku di perpustakaan bahwa ikan bernapas dengan insang yang bekerja di air. Mereka membandingkan dengan manusia yang bernapas menggunakan paru-paru.

Dari pertanyaan sederhana, anak-anak belajar konsep IPA: kebutuhan makhluk hidup, bagian tumbuhan, daur hidup hewan, alat pernapasan, habitat, dan hubungan antar makhluk hidup.

Jadi, pelajaran IPA menjadi hidup karena dimulai dari pertanyaan mereka sendiri.

Festival Bertanya

Setelah beberapa kali pertemuan, Bu Rani membuat acara kecil bernama Festival Bertanya. Tidak perlu panggung besar. Cukup kelas yang dihias dengan kertas warna-warni, meja pengamatan, galeri pertanyaan, dan hasil jurnal anak-anak.

Setiap kelompok menampilkan satu pertanyaan, cara mereka mencari jawaban, dan apa yang mereka temukan.

Kelompok Tanaman berkata, “Kami bertanya mengapa tanaman perlu air. Setelah mengamati, kami tahu tanaman yang tidak disiram menjadi layu. Jadi, tumbuhan butuh air untuk hidup.”

Kelompok Kupu-kupu presentasi, “Kami bertanya mengapa kupu-kupu suka bunga. Ternyata kupu-kupu mencari nektar, dan saat hinggap di bunga, ia bisa membantu penyerbukan.”

Kelompok Ikan tak mau kalah. “Kami bertanya mengapa ikan tidak bisa hidup di darat. Ternyata ikan bernapas dengan insang, bukan paru-paru seperti manusia.”

Di akhir kegiatan, Bu Rani meminta setiap anak menulis satu kalimat: Pertanyaan saya hari ini membuat saya belajar bahwa…

Jawaban mereka polos, tetapi menyentuh.

“Bertanya itu tidak malu.”
“Kalau tidak tahu, kita bisa mencari.”
“Tumbuhan juga perlu dirawat.”
“Hewan punya cara hidup sendiri.”
“Allah menciptakan makhluk hidup dengan hebat.”
“Saya ingin bertanya lagi.”

Bu Rani membaca jawaban-jawaban itu dengan hati hangat. Ia merasa, hari itu anak-anak tidak hanya belajar IPA. Mereka belajar menjadi pembelajar.

Nilai KBC dalam Pembelajaran IPA

Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, pembelajaran IPA tentang tumbuhan dan hewan bukan hanya mengenalkan fakta. Ia juga menumbuhkan cinta ilmu, cinta alam, dan cinta kehidupan.

Anak belajar bahwa tumbuhan bukan sekadar objek pengamatan, tetapi makhluk Allah yang perlu dirawat. Hewan bukan sekadar gambar di buku, tetapi bagian dari kehidupan yang punya peran dan habitat. Pertanyaan bukan tanda kebodohan, tetapi jalan menuju ilmu. Guru bukan hanya pemberi jawaban, tetapi pembuka ruang rasa ingin tahu.

Festival Bertanya menjadi cara sederhana untuk menanamkan adab belajar. Anak belajar bertanya dengan sopan. Mendengar pertanyaan teman dengan hormat. Tidak menertawakan teman yang belum tahu. Mencari jawaban dengan sabar. Dan memahami bahwa ilmu harus membuat mereka semakin peduli.

Jika anak bertanya mengapa tanaman layu, guru bisa mengarahkan pada kebiasaan menyiram tanaman kelas.
Jika anak bertanya mengapa burung membuat sarang, guru bisa mengajak mereka menjaga pohon.
Jika anak bertanya mengapa semut berjalan berbaris, guru bisa menghubungkan dengan kerja sama.
Jika anak bertanya mengapa kupu-kupu hinggap di bunga, guru bisa mengajak mereka tidak merusak taman sekolah.

Dengan begitu, IPA tidak berhenti di buku. IPA turun menjadi sikap.

Belajar dari Pertanyaan

Di akhir pelajaran, Bu Rani kembali menunjuk papan bertuliskan: “Ilmu itu seperti lemari terkunci. Kuncinya adalah pertanyaan.”

“Anak-anak,” katanya, “mulai hari ini, jangan takut bertanya. Tapi bertanyalah dengan sopan. Dengarkan jawaban dengan baik. Kalau belum tahu, kita cari bersama. Sebab Allah memberi kita mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, akal untuk berpikir, dan hati untuk bersyukur.”

Anak-anak mengangguk. Beberapa masih memandangi Galeri Pertanyaan di dinding. Ada yang sudah menulis pertanyaan baru di buku kecilnya.

Bu Rani tersenyum puas.

Mungkin tidak semua pertanyaan mereka langsung terjawab. Tetapi justru di situlah indahnya belajar. Ada rasa ingin tahu yang terus menyala. Ada lemari ilmu yang pelan-pelan terbuka. Ada anak-anak kecil yang mulai memahami bahwa dunia tumbuhan dan hewan di sekitar mereka adalah tanda kebesaran Allah yang dapat dibaca dengan mata, dipikirkan dengan akal, dan dirawat dengan cinta.

Sebab pembelajaran yang baik bukan hanya memberi jawaban.
Pembelajaran yang baik menumbuhkan keberanian untuk bertanya.(***)

 

Berita Lainnya