JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyoroti mahalnya tarif polymerase chain reaction atau PCR yang terjadi selama pandemi Covid-19. Padahal biaya sekali pemeriksaan spesimen sebelum pandemi Covid-19 tidak lebih dari Rp 500 ribu. Artinya biaya produksi yang dikeluarkan sampai pemeriksaan tentu tidak sampai Rp500 ribu kalau tarifnya dibandrol setengah juta rupiah. Saat pandemi terjadi, tiba-tiba tarif PCR melambung tinggi, bahkan ada rumah sakit yang menetapkan tarif pemeriksaan spesimen itu diatas Rp2,5 juta.
Sufmi Dasco Ahmad meminta pemerintah dalam hal ini Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional untuk menindaklanjuti temuan mahalnya tarif PCR di sejumlah rumah sakit.
“Pemeriksaan spesimen merupakan hal yang sangat urgen bagi masyarakat. Kalau harganya masih terlalu mahal, Seharusnya Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional bisa segera merespon hal tersebut,” kata Dasco kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (4/8/2020) seperti dikutip di laman portal DPR RI.
Menurut Legislator Fraksi Gerindra ini, sebaiknya mesti ada ajuan harga yang ditentukan oleh pemerintah. Dan harga yang dipatok itu, sebutnya, tidak boleh membebani masyarakat.
“Kemahalan-kemahalan PCR atau perbedaan harga-harga PCR mesti bisa disamakan, atau minimal ada patokan harga. Karena region yang dipakai mungkin berbeda sehingga masyarakat yang akan melakukan tes PCR juga tidak terbebani secara berlebihan,”ujarnya.
Sebelumnya, Satgas Penanganan Covid-19 mengungkap ada rumah sakit yang mematok harga tes PCR atau tes swab hingga Rp 2,5 juta. Padahal harga sekali pemeriksaan spesimen tidak lebih dari Rp 500 ribu. “Demikian juga harga, ada rumah sakit yang mematok harga tes PCR swab sampai di atas Rp 2,5 juta. Padahal harga rutin atau harga yang bisa kita lihat sebenarnya tidak akan lebih dari Rp 500 ribu per unit atau per sekali pemeriksaan spesimen,” kata Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo dalam rapat di Komisi VIII DPR, Kamis (3/9/2020). (*/arl)










Komentar