oleh

Usai Peristiwa Penembakan Pendeta Yeremia, Warga Kampung Hitadipa Mengungsi

JAKARTA – Amnesty International Indonesia mengatakan penduduk Kampung Hitadipa, Intan Jaya, Papua mengungsi dan meninggalkan rumah mereka pasca-kasus penembakan Pendeta Yeremia Zanambani.

Peneliti Amnesty International Indonesia Ari Pramuditya mengatakan masyarakat meninggalkan kampung karena saat ini berlangsung operasi militer di Hitadipa.

Amnesty sedang mengonfirmasi lebih lanjut berapa jumlah personel yang terlibat dalam operasi militer ini.

“Operasi militer ini menyebabkan Hitadipa kosong, masyarakat setempat meninggalkan rumah mereka dengan penuh ketakutan,” kata Ari melalui konferensi pers virtual pada Jumat.

Baca Juga:   TNI Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Korban Penembakan KKB Papua

Menurut Ari, beberapa orang warga setempat pergi ke kabupaten terdekat yang membutuhkan waktu satu hingga dua hari dengan berjalan kaki.

“Beberapa dari mereka juga bersembunyi di hutan,” lanjut dia.

Dia melanjutkan, peristiwa ini memicu Gereja Kemah Injil Klasis Hitadipa meminta pemerintah menarik aparat agar warga bisa kembali ke rumah mereka.

Permintaan gereja disampaikan melalui surat yang diterbitkan pada 22 September 2020.

Kepala Bidang KPKC Sinode Gereja Kristen Injil (GKI) Tanah Papua, Pendeta Dora Balubun juga meminta jaminan dari pemerintah agar masyarakat bisa kembali ke kampung mereka tanpa merasa terancam.

Baca Juga:   Danrem Tekankan Pentingnya Komunikasi dan Relasi Humanis

“Para pengungsi ini harus diperhatikan, kita tidak tahu bagaimana keadaan mereka dan harus kembali seperti apa. Perlu ada jaminan dari bapak presiden supaya mereka bisa kembali,” tutur Dora.

Pendeta Yeremia tewas dengan luka tembak pada Sabtu, 19 Oktober 2020 di Kampung Hitadipa, Intan Jaya.

Polri dan TNI menuding pelaku adalah kelompok kriminal bersenjata (KKB), sedangkan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menuding pelaku penembakan adalah TNI.

Baca Juga:   Pemerintah Jangan Cipta Kondisi, Pelanggaran HAM Papua Belum Selesai

Kematian Yeremia telah menimbulkan desakan untuk mengusut tuntas dari masyarakat Papua, terutama dari gereja.

Pemerintah kemudian merespons situasi ini dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) untuk mengusut peristiwa tewasnya empat orang, yakni pendeta Yeremia, warga sipil bernama Badawi, dan dua anggota TNI di Intan Jaya. (oke/sep)

Komentar

Berita Lainnya