oleh

Program ‘Zero Waste’ di NTB Munculkan Kreativitas Pengolahan Sampah

LOMBOK–Sejak program ‘Zero Waste’ dicanangkan, semakin bertambah dan bermunculan kreativitas dan inovasi untuk mengelola dan memanfaatkan sampah.

Sampah organik maupun sampah non-organik diolah hingga punya nilai tambah. Setidaknya dapat mengubah cara pandang masyarakat tentang sampah.

“Salah satunya adalah daur ulang sampah,” kata Wakil Gubernur NTB Dr Ir Hj Sitti Rohmi Djalilah saat menerima audiensi terkait sosialisasi tiga kelompok UMKM, Platform Eziulang, Jumat (2/7/2021), di Aula Pendopo Wagub.

Mengolah dan mendaur ulang sampah ini merupakan salah satu konsen Pemrov NTB.

Termasuk mengolah dan mendaur ulang sampah pemper yang berbuah anekaragam kreativitas seperti pot dan tong sampah.

Baca Juga:   Mengaku Pendapatanya Tak Cukup, Anggota DPRD Minta Presiden Cabut Perpres 33/2020

Selain itu, pengelolaan sampah organik menjadi maggot. Karena prosesnya memang mengolah sampah agar menghasilkan nilai ekonomis.

“Maggot dapat menjadi pakan ikan, burung, dan ayam,” jelasnya.

Selain itu, konsep Eziulabg yang memproduksi bahan cuci rumah tangga ini bagus juga.

Tapi harus diperhatikan kualitasnya. Penggunaan bahan baku yang tidak membahayakan manusia.

Dari paparan komunitas dan UMKM ini, Ummi Rohmi meminta Dinas LHK agar menularkan konsep dan pemanfaatan sampah ini kepada bank sampah dan masyarakat.

“Sehingga kita bisa mengelola sampah agar dapat memberikan berkah dan nilai ekonomis bagi masyarakat NTB,” kata Ummi Rohmi.

Ditambahkan Kadis Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB Madani Mukarom, kelompok ataupun komunitas bermunculan memanfaatkan sampah.

Baca Juga:   Kapolri Sumbang 20 Ton Oksigen Untuk Pemprov NTB

“Ini kami dukung,” jelas Dani bersama Kadis Perdagangan Provinsi NTB.

Namun kedepan persoalan sampah aksn terus dipetakan. Karena potensinya juga dapat mendukung industrialisasi persampahan.

Pemilik Eziulang, Wawan setiawan, mengaku UMKM-nya bergerak di produksi pencuci rumah tangga. Seperti sabun, sampo, deterjen, sabun pencuci piring, dan lainnya

“Sistemnya isi ulang, kami jual produknya, nanti masyarakat bisa isi ulang,” katanya.

Dijelaskannya, segi kuantitas sangat dikedepankan. Sehingga apabila ada tawaran dari hotel atau restoran di NTB produk tersedia.

“Barang berkualitas, harga juga murah kok,” katanya.

Produk-produk ini sudah dijual juga di NTB Mall. Melalui tahapan standar yang ditentukan.

Baca Juga:   Polemik Angkat Utang, Pemprov NTB Akan Cicil 8 Tahun

Sedangkan Arifudin asal Narmada, binaan Lazdasi NTB, mengatakan konsennya mengatasi persoalan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dijelaskannya ia memilik delapan orang anggota kelompok. Membina dan memberdayakan lima kelompok. Pemuda, remaja, karang taruna, kelompok tani, dan sebagainya.

“Tugas kami mengedukasi masyarakat agat terbiasa memilah sampah dan dimanfaatkan untuk pakan maggot dan BSF,” jelasnya.

Seperti untuk pakan ayam, bebek, dan ikan burung (abib). Produk yang dihasilkan dari sampah organik ini ada maggot hidup, kering, telor maggot, beby,
pupuk organik.

Ia berharap Pemrov ikut membina kelompoknya dan memikirkan pasar dari produk maggot. (edy)

Komentar

Berita Lainnya