oleh

Tak Perlu Panik, Hujan Es Adalah Fenomena Biasa

MANGUPURA – Banyak warga di Kabupaten Bangli, Bali, kaget oleh jatuhnya butiran-butiran kerikil es sebesar ujung jari, Jumat (26/2/2021) sekitar pukul 13.40 Wita.

Fenomena hujan es atau hail kerap terjadi. Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, menyebut hujan es biasa terjadi pada saat pancaroba atau peralihan musim dan sifatnya sesaat.

Pihak BBMKG pun mengimbau masyarakat agar tidak khawatir dengan adanya fenomena hujan es disertai angin kencang yang terjadi di sebagian wilayah Bangli.

Kepala Bidang Data dan Informasi (BBMKG) Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman, mengatakan dari hasil analisa fenomena hujan es terjadi di wilayah Bangli, dikategorikan sangat lokal dan sebarannya hanya mencakup sekitar 5 kilometer hingga 10 kilometer. Begitu juga dengan durasinya, tercatat 10 menit.

Baca:   Kebakaran, 30 Hektare Bukit Anak Dara Jadi Arang

“Hujan es ini lebih sering terjadi saat peralihan musim. Untuk waktunya bisa terjadi pada siang atau sore. Namun, terkadang pada malam hari juga,” kata Iman.

Masih menurut Iman, dari hasil pengamatan, indikasi terjadi hujan lebat disertai angina kencang, hingga hujan es berdurasi singkat disebabkan oleh awan comolonimbus (CB).

Sebelum adanya fenomena itu, biasanya masyarakat kerap merasakan panas dan gerah pada malam hingga pagi hari.

Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara yang disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi.

“Dari pengamatan kami, bahwa mulai pukul 10.00 wita terlihat tumbuh awan comolonimbus di sekitar Bangli,” katanya.

Setelah kemunculan awan comolonimbus, jelas Iman, hanya memiliki waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam untuk menganalisa dan memberitahu kepada masyarakat terkait akan adanya fenomena hujan es. “Namun, ini sifatnya sesaat saja dan secara tiba-tiba,” jelasnya.

Baca:   Gempa Berkekuatan 5.4 SR Guncang Lampung Barat

Iman lebih lanjut mengatakan, fenomena hujan es ini tidak ada kaitan dengan fenomena alam lainnya.

“Kalau soal kemungkinan adanya kejadian lainnya itu tidak benar. Untuk masyarakat tidak boleh percaya informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegas Iman.

Hujan es juga terjadi di Desa Ranji Wetan, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka, Minggu (18/2/2021).

Prakirawan BMKG Kertajati Ahmad Faa Izyin, mengatakan, awan cumulonimbus bisa jadi pemicu terjadinya fenomena alam lainnnya, termasuk Hujan es.

Cumulonimbus adalah awan hujan yang berwarna abu-abu kehitaman dengan ketinggian cukup rendah.

“Hujan es di Desa Ranji Wetan disebabkan oleh awan cumulonimbus. Awan ini bisa menyebabkan peristiwa hujan lebat, angin kencang, petir, dan hujan es,” kata dia, Minggu (28/2/2021).

Baca:   Milinkovic-Savic Aktor Penting Kemenangan Lazio atas Spezia

Kondisi cuaca yang cukup panas sejak Minggu pagi hingga siang, jelas dia, memicu terjadinya pertumbuhan awan cumulonimbus signifikan. Di dalam awan itu terjadi kondensasi yang sangat dingin dan menjadi kristal es.

“Pada sore hari tadi perubahan cuaca yang signifikan. Di sekitar lokasi kejadian, berubah lebih dingin. Saat itu juga kristal es yang ada di dalam awan cumulonimbus turun ke daratan dengan kondisi belum mencair dan disebut hujan es,” ujar Faiz.

Hujan es merupakan fenomena cuaca ekstrem yang biasa terjadi di Indonesia pada saat musim hujan. Khususnya saat pancaroba atau peralihan, katanya. (*/cr8)

sumber : nusabali.com

Komentar

Berita Lainnya