SOLOR – Sinyal seluler tak menjangkau wilayahnya, warga dusun Tanahedang di Desa Lamaole, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, terpaksa harus meninggalkan hunian mereka setiap hari, menuju titik sinyal agar dapat berinteraksi.
“Walau tidak terlalu jauh jaraknya dari pemukiman, namun di musim hujan-badai seperti ini, semuanya jadi berantakan,” kata Viktoria Sinu (pelajar) mengisahkan penderitaan warga Tanahedang.
Memang, desa mereka mendapat bantuan perangkat wifi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan terpasang di kantor desa, yang terletak di dusun Tanahedang ini.
“Namun kerjanya lamban! Maka kami bergerak ke titik sinyal ini. Lebih mudah di sini! Selain lancar berkomunikasi, bagi kami yang masih sekolah ini, kami dapat menyelesaikan tugas,” tambah Viktoria.
Pelajar SMPN I Solor Barat ini, Jumat (29/1/2021) bersama teman-temannya tengah sibuk dengan gawai mereka di titik yang terjangkau sinyal itu.
“Sialnya kalau hujan, apalagi hujan yang disertai angin, maka berantakanlah semuanya, karena kami harus pulang!” kisah Viktoria,
Hal serupa dialami UPT Satuan Pendidikan SD Inpres Tanahedang. Karena berada pada wilayah yang belum terjangkau sinyal, mereka tak mungkin menerapkan sistem pembelajaran Dalam Jaringan (Daring).
Situasi tak menentu di aat cuaca ekstrim saat ini, tak menyurutkan komitmen pengabdian para guru sekolah yang sipimpin Petrus Hayonbua Keyn ini untuk mendampingi anak didik mereka.
Dengan tetap mematuhi prokes penanggulangan Covid-19, mereka senantiasa mendatangi para muridnya dan memberikan bimbingan belajar.
Setiap hari, sebagaimana yang dijadwalkan, baik guru kelas maupun guru mata pelajaran senantiasa bolak balik dari dusun Tanahedang ke dusun Lewolein atau sebaliknya, demi anak didik mereka. (GOE-R1)











Komentar